Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-14
Words:
4,469
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
19
Bookmarks:
1
Hits:
160

I Wish You Loved Me Less

Summary:

If loving me means letting go
And wishing me the best
Then I guess,
I wish, I wish, I wish you loved me less

Less - By Olivia Rodrigo

Notes:

Find me on X @DRLEAMS

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Nakula menatap nanar lembar kertas yang kini dipenuhi coretan-coretan tinta. Pandangannya terasa kabur, bukan hanya karena kantuk yang menggerogoti sejak tadi, tetapi juga karena sisa-sisa tangis yang membuat matanya perih. Ia sendiri tidak menyangka malam itu akhirnya berhasil menyelesaikan lirik untuk melodi piano yang selama ini ia mainkan setiap kali isi kepalanya terasa terlalu berisik untuk ditanggung sendirian. Dari jendela kamarnya, kota membentang dalam lautan cahaya. Lampu-lampu gedung dan jalan raya berkelap-kelip di tengah kegelapan, menyerupai gugusan bintang yang jatuh dan menetap di bumi.

Seharusnya pemandangan itu indah. Namun yang Nakula rasakan hanya kehampaan yang menyesakkan dada.

Bahkan setelah segala usahanya untuk meredam pikirannya sendiri, otaknya tetap bertindak seperti pengkhianat. Kenangan itu terus berputar tanpa ampun, mengulang adegan yang sama berulang-ulang seperti kaset rusak yang tak bisa dihentikan.

 

 

“Nakula, saya mau kita sampai di sini aja.”

 

Tubuhnya langsung membeku.

Tangannya yang sedang mengaduk kopi terhenti di tengah gerakan. Bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir menghilang, meninggalkan keheningan yang terasa begitu asing. Nakula menoleh perlahan dengan mata membelalak, seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar. Di hadapannya, Sadewa duduk di sofa ruang tamu dengan kedua tangan saling bertaut di atas lutut. Lelaki itu bahkan tidak berani menatapnya.

“Hah?” Suara Nakula terdengar kecil dan serak. Ia harus berusaha keras agar nada suaranya tidak bergetar. “Maksud Mas apa?”

Sadewa menarik napas panjang. Pandangannya tetap tertuju ke bawah, ke hamparan karpet yang entah sejak kapan menjadi objek yang lebih mudah ia hadapi daripada wajah Nakula.

“Saya sudah berpikir berkali-kali tentang kita, Nakula,” ucapnya pelan. Setiap kata terdengar berat, seolah dipaksa keluar dari tenggorokannya. “Tapi mau berapa kali pun saya pikirkan, ini salah. Kamu saudara sedarah saya, Nakula... Saya tidak seharusnya punya perasaan ini—”

“BULLSHIT!” Teriakan itu memotong kalimat Sadewa begitu saja.

Dalam hitungan detik, Nakula sudah berdiri. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu, sementara amarah dan rasa sakit bercampur menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk dibendung. Langkahnya menghantam lantai dengan tegas sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan Sadewa.

Tangannya meraih kerah baju pria itu dan merenggutnya tanpa ragu. “Baru ngomong begitu sekarang?” suaranya pecah. Mata yang mulai memerah menatap Sadewa dengan kemarahan yang nyaris putus asa. “Seriously? Setelah semua yang kita lakukan? Setelah semua waktu yang aku kasih?”

Ia menarik kerah itu lebih erat, memaksa Sadewa mengangkat wajahnya. “Kau baru ngomong sekarang?” Rahang Nakula bergetar. Ia berusaha terlihat marah, tetapi rasa terluka yang begitu dalam terus menyusup di sela-sela setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Seenggaknya tatap mataku kalau kau mau jadi pengecut!”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Sadewa akhirnya mengangkat pandangan. Dan entah mana yang lebih menyakitkan bagi Nakula—kenyataan bahwa lelaki itu ingin meninggalkannya, atau kenyataan bahwa mata Sadewa terlihat sama hancurnya dengan dirinya sendiri.

Nakula tidak tahu lagi bagaimana cara membaca ekspresi Sadewa. Selama ini ia selalu berpikir dirinya adalah orang yang paling mengenal lelaki itu. Ia tahu kebiasaan-kebiasaan kecil Sadewa, tahu kapan pria itu sedang lelah hanya dari cara duduknya, tahu kapan ia sedang berbohong dari sorot matanya, bahkan tahu hal-hal yang tidak pernah Sadewa ceritakan kepada siapa pun. Setidaknya, itu yang selama ini ia yakini.

Namun percakapan hari ini menghancurkan keyakinan tersebut sampai tidak bersisa. Mungkin selama ini ia tidak pernah benar-benar mengenal siapa Sadewa Sagara sebenarnya.

"Nggak ada kata-kata saya yang bisa bikin kamu happy sekarang, Nakula." Suara Sadewa terdengar lelah. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ia membalas tatapan Nakula tanpa menghindar.

"Kalau pun ada, itu artinya saya bohong." Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Saya nggak bisa hidup dibebani perasaan bersalah ini seumur hidup. Saya yang paling tua. Saya yang harusnya mengemban tanggung jawab buat jaga kamu, bukannya malah begini."

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dada Nakula. Hatinya terasa tercabik-cabik. Bahkan ia sendiri heran bagaimana paru-parunya masih bisa bekerja ketika rasanya dunia sedang menindih tubuhnya sampai remuk. Napasnya terasa sesak, tenggorokannya perih, sementara air mata yang mulai menggenang membuat pandangannya kembali kabur.

"Aku nggak minta kau jaga aku!" Suara Nakula meninggi hingga nyaris pecah. "Aku udah besar. Aku bisa mutusin hidupku sendiri, dan yang aku mau itu kau, Mas!" Dadanya naik turun dengan keras. "Nggak usah belaga jadi yang paling tua. Kau dan aku lahir di hari yang sama!"

Kesabaran Sadewa akhirnya retak. Ia mengacak rambutnya dengan kasar, frustrasi yang selama ini ia tekan mulai terlihat jelas di wajahnya. Tubuhnya bergerak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Nakula yang masih mencengkeram kerah bajunya erat seolah takut pria itu benar-benar pergi begitu saja.

"Ini demi kebaikan kamu, Nakula!" bentak Sadewa. Nada suaranya membuat ruangan itu terasa semakin sempit. "Saya sayang kamu, makanya biarin saya jadi penjahat yang ngelepasin kamu dari belenggu setan ini. Kau ngerti nggak sih?"

"Biarin!" Jawaban itu keluar tanpa jeda. "Siapa yang bilang aku mau dilepas?" Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Nakula, tetapi ia bahkan tidak peduli. "Aku yang mau ada di belenggu setan ini. Aku mau sama Mas. Peduli setan sama norma dan aturan!"

Wajah Sadewa mengeras. "Udah gila ya kau?" katanya tajam. "Kau itu public figure. Apa jadinya hidup dan mimpi-mimpi kamu kalau kita ketahuan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Pipi Nakula sudah basah oleh air mata saat ia menatap lelaki di hadapannya. Anehnya, di tengah semua amarah dan rasa sakit yang memenuhi dadanya, ia justru merasa seolah baru memahami sesuatu.

Selama ini Sadewa terus berbicara tentang keluarga, tentang tanggung jawab, tentang hubungan mereka yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun sekarang Nakula sadar bahwa semua itu hanyalah lapisan terluar dari masalah yang sebenarnya. Di balik semua alasan itu, ada ketakutan yang tidak pernah sanggup Sadewa akui dengan jujur.

"Aku atau kau yang takut, Mas?" Tanya Nakula. Kali ini nadanya lemah, seolah ia sudah tahu jawabannya.

Sadewa tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana dengan rahang yang mengeras dan mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang tidak sanggup ia ucapkan. Ia tidak membantah, tidak marah, dan tidak pula menyangkal tuduhan itu.

Keheningan tersebut terasa seperti palu yang menghantam dada Nakula berkali-kali, menghancurkan harapan terakhir yang diam-diam masih ia pertahankan. Karena jika Sadewa masih ingin memperjuangkan mereka, seharusnya lelaki itu mengatakan sesuatu. Apa saja. Tetapi Sadewa memilih diam, dan pilihan itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Nakula.

Dengan gerakan lambat, Nakula melepaskan genggamannya dari kerah baju Sadewa. Tangannya terasa lemas, ia tahu kapan harus bertahan ketika ia harus. Tapi untuk kali ini, memang melepaskan adalah yang lebih baik. Kini ia tahu bahwa sekeras apa pun ia berjuang, pertempuran ini tidak akan pernah bisa ia menangkan sendirian.

Bahunya mulai bergetar. Tawa kecil yang terdengar getir bercampur dengan isak tangis yang tidak lagi mampu ia tahan. Rasanya begitu menyedihkan sampai ia tidak tahu apakah dirinya sedang menagis atau menertawakan nasibnya sendiri.

Tanpa menatap Sadewa lagi, ia berbalik. Tangannya meraih tas yang tersampir di atas nakas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir. Usaha yang sia-sia, karena semakin ia menghapusnya, semakin banyak yang jatuh.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara, suaranya pelan. Terlalu pelan dibandingkan semua teriakan yang sebelumnya memenuhi ruangan itu. "Aku ikuti maumu, Mas."

Nakula menunduk, menggenggam erat tali tas di tangannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam seraya melanjutkan, "Tapi bukan karena kita salah."

Kalimat berikutnya terasa jauh lebih sulit untuk diucapkan. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang harus mati terlebih dahulu sebelum kata-kata itu bisa keluar. Nakula memaksakan dirinya untuk tetap melanjutkan, "Melainkan karena ternyata... di dunia yang Mas inginkan, nggak ada tempat buat aku."

 

 

Suara notifikasi di ponselnya membuat Nakula kembali sadar dari lamunannya. Pipinya kembali basah, seperti hari-hari sebelumnya setiap kali otaknya berkhianat dan memutar kembali ingatan tersebut. Satu bulan lamanya setelah kejadian tersebut dan Nakula masih tidak mempunyai keinginan untuk melanjutkan hidupnya.

Tangannya ia paksa gerakan untuk mengecek notifikasi ponselnya. Ada satu pesan dari Yudis yang berbunyi: Besok aku mau rekaman, kau bantu pantau boleh gak?

Nakula tidak mau keluar dari zona nyaman bernama apartemennya, namun ia berpikir berdiam diri selamanya juga tidak akan memperbaiki keadaan. Dan tanpa pikir panjang, ia mengiyakan ajakan Yudis tersebut.


Sembilan puluh hari mungkin terasa singkat bagi sebagian orang. Tiga bulan akan berlalu begitu saja di tengah kesibukan, tenggelam di antara rutinitas dan hari-hari yang saling menyerupai. Namun bagi Nakula, yang selama tiga bulan terakhir hidup dengan hati yang masih retak dan luka yang belum benar-benar mengering, waktu berjalan jauh lebih lambat dari seharusnya.

Ada hari-hari ketika ia merasa sudah baik-baik saja, hanya untuk kembali terpuruk karena sebuah lagu, sebuah aroma, atau kenangan yang muncul tanpa permisi. Meski begitu, hidup terus bergerak maju. Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah mengambil rehat yang cukup panjang, ia kembali berdiri di belakang panggung sebagai seorang musisi yang akan tampil di hadapan publik.

Venue tempat ia tampil malam itu tidak terlalu besar. Namun kenyataan itu tidak banyak membantu meredakan ketegangan yang mengikat dadanya. Justru karena sudah terlalu lama tidak berada di atas panggung, setiap detail terasa lebih nyata. Suara obrolan para penonton yang samar terdengar dari balik tirai, lampu-lampu panggung yang sesekali berubah warna, hingga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya.

Lamunannya buyar ketika sebuah botol air mineral muncul di depan wajahnya. Yudistira berdiri di sampingnya sambil menyodorkan botol yang tutupnya sudah dibuka terlebih dahulu. "Nih, minum dulu."

Nakula menerimanya sambil tersenyum tipis. Riasan yang membingkai wajahnya malam itu berhasil menyembunyikan jejak kelelahan yang sempat menguasainya selama beberapa bulan terakhir, tetapi tidak sepenuhnya mampu menyembunyikan kegugupan yang masih tersisa di matanya. "Thanks, Yud."

"Semangat ya perform-nya." Yudistira menepuk bahunya pelan. "Gue, Juna, sama Bima nonton di depan nanti."

Nakula mengangguk sambil menarik napas panjang. Kehadiran mereka setidaknya membuat perasaannya sedikit lebih ringan. "Iya. Makasih banyak ya, Yud, udah datang."

Yudistira hanya tersenyum kecil. "Anytime," Balasnya.

 

Ketika akhirnya tirai terbuka dan pertunjukan dimulai, semuanya berjalan jauh lebih baik daripada yang Nakula bayangkan. Begitu berada di atas panggung, tubuhnya perlahan mengingat kembali sesuatu yang selama ini terasa hilang. Irama musik, sorot lampu, dan energi yang datang dari para penonton terasa begitu akrab hingga ketegangannya sedikit demi sedikit mencair. Ia memang tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena silau lampu panggung yang mengarah ke arahnya, tetapi tepuk tangan, sorakan, dan suara mereka yang ikut bernyanyi sudah cukup untuk membuat dadanya terasa hangat.

Selama ini ia sempat takut bahwa rehat panjang yang diambilnya akan membuat orang-orang melupakannya. Nyatanya tidak. Mereka masih datang dan mendengarkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum di wajah Nakula muncul tanpa perlu dipaksakan.

 

Namun perasaan itu berubah ketika setlist memasuki lagu terakhir.

 

Lagu yang belum pernah ia rilis di mana pun. Lagu yang bahkan sampai sekarang masih terasa seperti luka yang dijahit menjadi nada.

Jari-jarinya mulai terasa dingin. Ingatannya kembali pada malam-malam panjang yang ia habiskan sendirian di depan piano, menuliskan lirik demi lirik dengan mata yang sembab dan dada yang terasa sesak. Lagu itu lahir dari sesuatu yang ingin ia lupakan, tetapi justru terus hidup di dalam dirinya.

Barangkali memang tidak semua karya lahir dari kebahagiaan. Kadang sebuah lagu tercipta karena seseorang tidak mampu lagi menanggung kesedihannya sendirian.

Dengan langkah yang terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya, ia berjalan menuju piano yang telah disiapkan di tengah panggung. Seluruh venue perlahan terdiam, seolah semua orang memahami bahwa sesuatu yang berbeda akan terjadi. Dalam keheningan itu, setiap gerakannya terasa begitu jelas. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata mengikuti langkahnya, memperhatikan saat ia duduk, saat jemarinya diletakkan di atas tuts, bahkan saat ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.

Nakula memejamkan mata sejenak lalu menggeleng pelan, memaksa dirinya untuk tetap fokus pada momen yang ada di hadapannya. Ia sudah melangkah sejauh ini. Tidak ada alasan untuk mundur sekarang.

Jemarinya akhirnya menekan nada pertama. Lalu, bersamaan dengan dentingan piano yang memenuhi ruangan, kenangan yang selama sembilan puluh hari berusaha ia kubur kembali terputar di dalam kepalanya.

Rasa sakit itu masih ada, sama nyatanya seperti malam ketika semuanya berakhir. Namun kali ini Nakula tidak lari darinya. Ia membiarkan dirinya mengingat, membiarkan dirinya merasakan, lalu tetap melanjutkan lagu itu apa pun yang terjadi.

 

I feel it again, edge of the bed

Body and head protesting

My stomach's in knots, I don't wanna talk

Let's just go to bed or something

Maybe it'll fix itself tomorrow

But I've been saying that like every night

 

Walaupun in-ear monitor masih terpasang di telinganya, Nakula dapat merasakan perubahan suasana di dalam venue. Tidak ada suara percakapan, tidak ada keributan, hanya keheningan yang anehnya terasa begitu hidup. Ratusan pasang mata tertuju kepadanya, mengikuti setiap nada yang lahir dari piano dan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Jemarinya mulai bergetar di atas tuts, tetapi setidaknya suaranya masih bertahan. Hanya itu yang bisa ia syukuri saat ini.

 

 If loving me means letting go and wishing me the best

Then I guess

I wish, I wish, I wish you loved me less

 

Nada terakhir keluar dengan getaran yang gagal ia sembunyikan. Nakula langsung menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya sedikit menutupi wajah sementara jemarinya terus bergerak memainkan melodi berikutnya—persis seperti malam ketika lagu itu ditulis. Baru chorus pertama yang terlewati, tetapi rasanya ia sudah kembali berada di titik awal, seolah sembilan puluh hari terakhir tidak pernah terjadi.

Ia terus melanjutkan nyanyiannya, walau kini nafasnya lebih pendek. Beberapa kali ia harus menelan isakan yang naik ke tenggorokannya, meskipun tidak semuanya berhasil ia tahan. Suara seraknya sesekali terdengar di antara lirik yang dinyanyikan, membuat lagu itu terdengar jauh lebih rapuh dibandingkan saat direkam di studio. Entah karena akustik ruangan atau karena emosi yang memenuhi setiap nada, Nakula bahkan merasa seluruh venue ikut menanggung beban yang sama. Kesedihan itu mengalir dari panggung ke bangku penonton tanpa perlu dijelaskan oleh siapa pun.

Ketika memasuki bagian outro, jemarinya akhirnya mulai kehilangan tenaga. Tuts-tuts piano yang sejak tadi ia tekan terasa semakin berat. Setiap nada yang keluar justru seperti memaksa dirinya menghidupkan kembali luka yang belum benar-benar sembuh. Ia menatap sekilas ke arah tangannya sendiri dan menyadari bahwa ia tidak akan sanggup menyelesaikan bagian terakhir dengan cara yang sama.

Nakula menarik napas panjang yang bergetar sebelum perlahan melepaskan in-ear monitor dari telinganya. Seketika suara venue terdengar lebih jelas. Di tengah keheningan yang menyelimuti ruangan, ia dapat mendengar beberapa isakan yang tidak berhasil disembunyikan oleh para penonton. Meski begitu, ia tetap mengangkat kepalanya dan melanjutkan bagian terakhir lagu tersebut tanpa iringan apa pun.

 

If loving me means saying, "Babe, I think this is the end"

I guess

I wish, I wish, I wish you loved me less

 

Suara Nakula menggema sendirian di seluruh ruangan. Tidak ada piano yang menopangnya, tidak ada instrumen lain yang menyamarkan getaran dalam suaranya. Hanya dirinya, lirik yang ia tulis dari luka paling dalam, dan ratusan orang yang menjadi saksi ketika ia membiarkan dirinya hancur untuk terakhir kalinya.

Ketika nada terakhir menghilang, venue tetap hening selama beberapa detik. Seolah tidak ada seorang pun ingin menjadi orang pertama yang merusak momen tersebut. Hanya suara isakan pelan yang sesekali terdengar dari beberapa sudut ruangan. Nakula menundukkan kepalanya, mengembuskan napas panjang yang terasa tertahan sejak awal lagu, lalu perlahan berdiri dari kursi pianonya.

Ia memberikan salam hormat sembilan puluh derajat kepada para penonton sebagai tanda bahwa pertunjukan malam itu telah berakhir. Barulah setelah itu tepuk tangan memenuhi ruangan. Suara sorakan, siulan, dan apresiasi mengalir dari segala arah hingga membuat venue yang sebelumnya sunyi berubah riuh dalam sekejap.

Namun di tengah semua itu, Nakula tidak merasakan kemenangan. Tidak ada kelegaan. Tidak ada kebahagiaan karena berhasil membawakan lagu yang begitu berarti baginya. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang tenang dan melelahkan.

Meski begitu, ia tetap memaksakan senyum untuk bertahan di wajahnya. Senyum yang sudah cukup lama ia pelajari untuk ditampilkan ketika dunia mengharapkannya terlihat baik-baik saja. Setelah memberikan lambaian terakhir kepada para penonton, Nakula membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju belakang panggung, meninggalkan gemuruh tepuk tangan yang masih terus bergema di belakangnya.

Sesampainya ia di ruangan, Nakula dengan cepat mencari kursi dan terduduk lemas. Ia kira Sembilan puluh hari adalah waktu yang cukup untuk mengobati lukanya. Nyatanya, kehilangan sebagian jiwanya membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu.

Tirai terbuka dengan tergesa-gesa dan Nakula melihat Yudis, Arjuna, dan Bima yang memasuki ruangannya. Yudis dengan cepat merengkuh tubuhnya, membuat Nakula kini benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya.

“Gapapa, keluarin aja,” Ucap Yudis, sembari mengusap-usap punggung Nakula penuh sayang.

Nakula mengerang di sela-sela tangisannya. Sesak, rasanya sesak sekali. “Kenapa masih sakit banget, Yud?” Erang Nakula. Tangannya mencengkram erat pinggang Yudis dan lelaki itu membiarkannya.

Kali ini Arjuna juga mengusap bagian belakang kepala Nakula. “Udah, Mas Nakul. Tangisin aja sampai puas.”

Dan Nakula melakukannya.

 


Reaksi publik terhadap penampilan pertama Nakula setelah hiatus jauh lebih baik dari yang ia perkirakan. Beberapa potongan video dari malam itu beredar di media sosial hanya dalam hitungan jam, dan seperti yang sudah diduga banyak orang, lagu terakhirnya menjadi pusat perhatian. Salah satu rekaman penggemar yang menangkap momen ketika ia menyelesaikan lagu tersebut sambil menahan tangis bahkan tersebar ke berbagai platform dan mengundang ribuan komentar.

 

“Apa ya maksudnya ini nangis ngajak-ngajak?”

“SIAPA YANG NYAKITIN NAKULA KU?????”

“Mas, banjir ini mataku T_T”

“Tolong di unrelease lagi, mas. Aku gak minta lagu cerai.”

“Yang bikin nambah sedih… DIANYA NANGIS JUGA”

 

Nakula menggeser layar ponselnya sambil menggeleng pelan. Senyum tipis akhirnya muncul di sudut bibirnya. Sebagian komentar itu jelas dibuat asal-asalan, sebagian lagi terlalu dramatis untuk dianggap serius, tetapi entah kenapa semuanya berhasil membuat perasaannya sedikit lebih ringan. Sudah lama ia tidak tertawa karena hal sesederhana membaca komentar orang asing di internet.

Apartemen yang selama beberapa bulan terakhir terasa terlalu sunyi juga tidak lagi menyesakkan seperti sebelumnya. Kesepian itu masih ada, tentu saja. Beberapa luka tidak menghilang hanya karena waktu berlalu. Namun setidaknya kini kepalanya tidak lagi dipenuhi kebisingan yang sama.

Jari jemarinya masih asik menggulir layer ketika bel apartemennya berbunyi. Untuk sesaat lelaki itu kebingungan, sebab ia tidak merasa sedang menunggu tamu atau memesan makanan pesan antar. Dengan rasa penasaran, Nakula meletakkan ponselnya di atas meja sebelum bangkit dan membuka pintu.

Betapa terkejutnya dia ketika ia melihat siapa sosok yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya.

Sadewa.

Lelaki itu masih terlihat sama seperti yang ia ingat. Tubuhnya tetap tegap, bahunya masih lebar, dan kemeja lengan panjang berwarna kuning yang dikenakannya terasa begitu familiar hingga membuat dada Nakula mendadak sesak. Seolah ada bagian dari dirinya yang langsung mengenali Sadewa bahkan sebelum otaknya sempat memproses apa yang sedang terjadi.

Namun semakin lama ia menatap, semakin jelas pula perbedaan yang tidak ada tiga bulan lalu. Pada manik yang dulu paling senang ia tatap, terdapat ekspresi yang sangat Nakula kenali dengan baik.

Selama berbulan-bulan terakhir, ia selalu menghindari cermin karena tidak tahan melihat bayangan dirinya sendiri. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat ekspresi yang sama pada orang lain, pada Sadewa. Seolah laki-laki itu sama terpuruknya dengan Nakula. Rasa amarah itu pun muncul. Rasa tidak terima sebab, mengapa Sadewa terpuruk kalau sebab mereka seperti ini adalah keputusannya sendiri?

“Ngapain kau ke sini sekarang?” Nada suara Nakula terdengar dingin.

Sadewa menarik napas panjang. Seolah bahkan berbicara pun membutuhkan keberanian yang tidak sedikit. "Saya boleh masuk sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya terdengar serak, membuat Nakula semakin membenci kenyataan bahwa lelaki itu tampak sama buruknya dengan dirinya. "Saya mau bicara."

Nakula menggertakkan rahangnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Ia ingin menyuruh Sadewa pergi, ia ingin menutup pintu itu tepat di depan wajahnya, ia ingin membuat lelaki tersebut merasakan sepersekian dari rasa sakit yang ia tinggalkan tiga bulan lalu. Namun memang benar ketika orang bilang cinta membuat buta. Bahkan setelah banyaknya perih yang ia lalui, rasa sayang itu tetap pemenangnya.

Dengan enggan, Nakula melangkah mundur dan memberikan ruang yang cukup untuk Sadewa masuk ke dalam apartemennya. Suara pintu tertutup terdengar di belakang Sadewa. Lalu hening menyelimuti rumah tersebut. Rumah yang seharusnya menjadi milik berdua.

Ia tidak berniat memulai percakapan lebih dulu. Tiga bulan lalu, ia pergi tanpa mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Kali ini ia akan melakukan hal yang sama. Jika Sadewa datang untuk mengatakan sesuatu, maka biarkan lelaki itu yang mengatakannya terlebih dahulu.

Sadewa menelan ludahnya dan perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap Nakula. Dan lagi-lagi, Nakula membenci apa yang ia lihat di sana.  Seolah-olah ia sedang menatap bayangannya sendiri di cermin.

“Waktu itu kau bilang kalau saya nggak mau kau ada di dunia saya.” Suara Sadewa terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk memenuhi seluruh ruangan. “Saya baru sadar kalau dunia saya itu kamu, Nakula.” Ia berhenti sejenak, seolah kalimat berikutnya jauh lebih sulit untuk diucapkan. Maniknya tidak pernah lepas dari wajah Nakula, “Seharusnya saya nggak usah peduli sama dunia yang lain.”

Nakula tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena ada bagian dari dirinya yang masih terlalu marah untuk menerima pengakuan itu begitu saja.  “Terus? Maksudnya sekarang kau udah nggak takut neraka?” Nada pedas itu tak berhasil tertahan oleh Nakula.

Pertanyaan itu membuat rahang Sadewa mengeras sesaat. Tiga bulan lalu, mungkin ia akan menghindari pembicaraan tersebut. Tiga bulan lalu, mungkin ia akan kembali berlindung di balik alasan-alasan yang selama ini ia gunakan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Namun sekarang ia hanya mengembuskan napas panjang dan membiarkan pertanyaan itu menghantamnya tanpa perlawanan.

Sadewa menghela nafas panjang, sekali lagi, seolah terlalu banyak hal yang tidak bisa ia sampaikan hanya dengan kata-kata. “Tiga bulan lamanya saya hidup di dunia yang nggak ada kamu di dalamnya, Na.” Suaranya terdengar serak, seolah setiap kata harus dipaksa keluar dari tenggorokannya. “Saya lihat muka kamu di media sosial, di pamflet acara, di brosur, di mana-mana. Tapi rasanya kamu jadi kayak orang lain. Bener-bener seperti artis— yang bisa saya lihat, tapi nggak bisa saya sentuh. Saya nggak tahu harus ngapain. Saya bangun tidur mikirin kamu, tidur malam juga mikirin kamu.”

Sadewa menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatapnya. “Saya nggak tahu rasanya neraka seperti apa. Tapi kalau harus jujur, saya seperti sudah hidup di neraka selama tiga bulan terakhir. Dan saya nggak peduli lagi sekarang. Saya cuma mau dunia saya kembali.”

Bibir Nakula langsung bergetar. Sialnya, bagian dirinya yang masih mencintai Sadewa selalu lebih kuat daripada yang ia inginkan. Namun rasa sayang itu tidak serta-merta menghapus luka yang ditinggalkan. Tidak menghapus malam-malam panjang yang harus ia lalui sendirian. Tidak menghapus perasaan ditolak oleh satu-satunya orang yang paling ingin ia pertahankan.

Dengan mata yang mulai memanas, Nakula menusukkan telunjuknya ke dada Sadewa. “Tiga bulan, Dew.” Suaranya pecah di tengah kalimat. “Tiga bulan aku tidur dengan kepala penuh. Tiga bulan aku bangun setiap hari sambil mikir kalau ternyata aku segitu nggak diinginkannya. Bahkan sama kamu.” Jemarinya mengepal di atas dada lelaki itu. “Terus sekarang kau datang ke sini dan berharap aku bisa balik begitu aja?”

Sadewa menunduk menatap tangan yang menekan dadanya. Perlahan, tanpa paksaan, ia menggenggam jemari Nakula di sana. Hangat. Familiar. Dan menyakitkan karena terasa seperti pulang.

“Kau kembaranku, Nakula.”

Napas Nakula tercekat. Kalimat itu sederhana dan benar adanya, tetapi menghantam jauh lebih keras daripada yang seharusnya di kondisi mereka yang seperti ini.

“Suka nggak suka, kita terikat.” Suara Sadewa semakin lirih. “Suka nggak suka, saya bisa ngerasain waktu kamu hancur. Dan saya tahu kamu juga sadar soal itu dari dulu.” Ia menarik napas panjang, berusaha menahan sesuatu yang membuat matanya mulai memerah. “Kalau kita bisa serapuh ini cuma karena berpisah, kenapa kita terus maksa diri buat hidup seperti ini? Kenapa kita harus terus-terusan nyiksa diri kita sendiri?”

Nakula menepis tangan sadewa, napasnya kini menggebu-gebu. Ia mundur beberapa langkah seolah jarak itu dapat membantunya bernapas lebih mudah. Tangannya bergerak mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi, sementara emosi yang selama ini ia tekan kembali memenuhi dadanya. Saat akhirnya ia berbalik menghadap Sadewa lagi, pandangannya sudah kabur oleh air mata yang terus menggenang.

“Mas.” Panggilan itu lolos begitu saja. Panggilan yang selama tiga bulan terakhir berusaha ia tahan setiap kali bayangan Sadewa muncul di kepalanya. “Tiga bulan ini aku mati-matian berdiri di atas kakiku sendiri.” Suaranya bergetar hebat. “Aku berdarah-darah, tertatih-tatih, bahkan ada hari-hari di mana rasanya lebih gampang kalau aku hilang aja sekalian. Tapi aku tetap di sini. Aku tetap bertahan.”

Nakula mengusap wajahnya dan meletakkan kedua tangannya di samping tubuhnya, seolah menyerah. “Tapi kalau Mas datang sekarang, terus suatu hari nanti mutusin buat pergi lagi...” Ia menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. “Bukan lagu baru yang bakal Mas denger. Aku bakal hancur jadi debu dan abu.”

Tatapan Sadewa langsung melembut. Perlahan ia melangkah mendekat, memberi kesempatan bagi Nakula untuk menjauh jika memang menginginkannya. Namun Nakula tetap berdiri di tempatnya.

Tangan kasar Sadewa terangkat dan menangkup kedua pipinya dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh. Ibu jarinya bergerak perlahan menghapus jejak air mata yang masih tersisa di sana. Dan seperti biasa, Nakula membenci betapa mudahnya dirinya luluh pada sentuhan itu.

“Nggak, Nakula.” Suara Sadewa terdengar mantap untuk pertama kalinya sejak ia datang. “Tiga bulan adalah waktu yang cukup buat meyakinkan saya kalau kamu harus ada di dunia saya, apa pun yang terjadi. Saya udah coba hidup tanpa kamu, dan saya gagal.”

Nakula menatapnya lama. Mencari keraguan. Mencari ketakutan. Mencari alasan lain yang mungkin membuat Sadewa pergi lagi suatu hari nanti. “Walau orang-orang pada akhirnya tahu?” tanyanya lirih. “Even if the whole world is against us? Will you still stay?”

Sadewa tersenyum kecil. Senyum yang lelah, tetapi jauh lebih jujur daripada apa pun yang pernah Nakula lihat dalam beberapa bulan terakhir. Tangannya berpindah mengusap surai biru Nakula dengan lembut. “Kamu nggak denger tadi saya bilang apa?” bisiknya. “Dunia saya itu kamu. Cuma kamu.”

Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. Usapannya di rambut Nakula terasa begitu nyata. “Jadi kalau kamu jalan ke depan, saya ikut. Kalau kamu lari, saya lari. Dan kalau suatu hari ternyata kita harus menghadapi neraka sekalipun, ya sudah. Hadapinya bareng-bareng.”

Kalimat itu akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhir yang masih berusaha dipertahankan Nakula. Dengan napas yang bergetar, ia maju satu langkah dan menyandarkan dahinya pada bahu Sadewa. Hampir seketika kedua lengan lelaki itu melingkar erat di tubuhnya, merengkuhnya seperti seseorang yang akhirnya menemukan bagian dirinya yang hilang.

Nakula memejamkan matanya sembari menghirup dalam-dalam wangi tubuh Sadewa yang sempat memudar dalam ingatannya. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dengan ruang kosong yang tidak mampu ia isi, ia kembali merasakan sesuatu yang selama ini ia rindukan.  

Ia tidak tahu bagaimana mereka akan menghadapi dunia yang sejak awal menentang keberadaan mereka. Ia tidak tahu berapa banyak kebohongan yang harus mereka simpan, berapa banyak tatapan yang harus mereka hindari, atau berapa lama mereka harus hidup dengan hati-hati agar tidak memberi ruang bagi orang lain untuk mempertanyakan hubungan mereka.

Mungkin untuk waktu yang sangat lama, mereka akan tetap bersembunyi. Mungkin cinta mereka tidak akan pernah memiliki tempat yang layak di mata banyak orang. Tidak akan pernah bisa diumumkan dengan bangga, tidak akan pernah bisa diberi nama dengan bebas seperti pasangan-pasangan lain di luar sana.

 Di luar apartemen, dunia masih sama seperti sebelumnya. Dunia yang penuh aturan, penilaian, dan batas-batas yang tidak pernah dibuat untuk orang seperti mereka. Dunia yang mungkin akan terus memandang cinta mereka sebagai sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Perlahan ia mengangkat wajahnya dari bahu lelaki itu. Tidak jauh, hanya cukup untuk melihat manik mata yang selama ini menjadi rumah sekaligus bencana terbesar dalam hidupnya. Di sana tidak ada jawaban untuk masa depan, tidak ada jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan tidak ada janji bahwa jalan yang mereka pilih akan bebas dari rasa sakit.

Yang ada hanyalah Sadewa. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

 

Notes:

STREAM OLIVIA RODRIGO LESS!!! (Indah banget, ayo dengerin!!!)