Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-22
Words:
2,501
Chapters:
1/1
Kudos:
85
Bookmarks:
7
Hits:
7,990

Pacar Sewaan

Summary:

Sejujurnya badan Mark masih sedikit pegal seusai pulang dari outing kantor, dan ditambah dia baru saja sembuh dari masuk angin, tapi hari ini Mark mendapat misi dari side jobnya sebagai boyfriend rental untuk menemani clientnya photoshoot untuk suatu brand. Karena yang Mark pikirkan hanya bayaran yang kali ini nominalnya cukup banyak itu, sengaja Mark mematok bayaran tinggi sebab clientnya kali ini adalah selebgram.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Sejujurnya badan Mark masih sedikit pegal seusai pulang dari outing kantor, dan ditambah dia baru saja sembuh dari masuk angin, tapi hari ini Mark mendapat misi dari side jobnya sebagai boyfriend rental untuk menemani clientnya photoshoot untuk suatu brand. Karena yang Mark pikirkan hanya bayaran yang kali ini nominalnya cukup banyak itu, sengaja Mark mematok bayaran tinggi sebab clientnya kali ini adalah selebgram.

Sekarang mereka sudah berada di pantai yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Dari pagi sekali dia mempersiapkan diri, dari memilih outfit terbaik, dan berkendara jauh demi menjemput clientnya. Mark betulan melakukan seperti visinya, memperlalukan pelanggan seperti ratu. Seperti merangkulnya, membawakan tasnya dan mengantar kemana pun clientnya akan pergi. Mari juga bersikap seposan mungkin menyapa crew dan kameramen yang bekerja untuk clientnya.

"Kita belum kenalan langsung, anyway nama gue Mark." Mark berbisik tepat di telinganya.

"Na Jaemin. Tapi panggil aja Nana."

Lantas Jaemin menyuruhnya mengikutinya, dan dia dikenalkan dengan team makeupnya, Mark menyapa dengan ramah. Mark duduk tak jauh dari Jaemin, dia merasa sedikit jenuh menunggu clientnya. Matanya mengedar ke seluruh set lokasi photoshoot, cukup proper untuk syuting sehari.

“Kamu masih ngga enak badan? itu aku udah beliin jamu.” Mark melirik botol berisi cairan berwarna agak kecoklatan itu dengan tatapan jijik, dari dulu Mark paling anti meminum jamu.

“Buat aku?” Tanya Mark memastikan.

Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang berdecak tak suka karena rencanya harus gagal bila Mark benar meminum habis jamunya. Rupanya jamu itu dari Jeno, mantan kekasih Jaemin yang niatnya ingin menjebak Jaemin agar meminum jamu tersebut yang sudah Jeno beri obat perangsang di dalamnya, jamu tersebut dibawa oleh salah satu crew yang kenal dekat dengan Jeno.

“Iya, biar plong perutnya jadi gak masuk angin lagi.” Walaupun Mark tidak suka, tapi demi menghargai Jaemin, Mark langsung meminumnya. Dan dia berpikir daripada badannya tambah meriang. Setelah menahan mual dalam proses menghabiskan jamu, Mark duduk bersandar malas di kursi santai dan menatap lebih intens Jaemin yang sedang di makeup. Cantik juga pikirnya.

“Romantis banget sih mas mau nemenin kak Nana kerja.” Kata MUA tersebut sambil terkekeh.

“Namanya juga baru pacaran, iya gak sayang?” Mark mencolek dagu Jaemin, membuat pria manis itu mendelik tanda tak suka.

“Eh bisa diem gak tangannya?! Makeup aku nanti rusak.”

“Abisan cantik banget pacarku.”

Mark berdiri dari posisi duduknya hendak pergi ke tenda makanan sembari menunggu Jaemin selesai bersiap, sebenarnya tadi pagi Jaemin menawarkan dirinya pancake tapi dia menolaknya sopan, Mark ingin makan makanan yang berkuah dan pilihannya jatuh pada ramen. Lalu pandangannya tertuju pada Jaemin yang berada di depan sana, matanya langsung melotot saat melihat Jaemin melepas kemeja yang dipakainya, dan hanya menyisakan kaos tak berlengannya. Dan yang lebih gilanya, langsung membuat penisnya tegang.

“Lah anjing kok malah ngaceng.” Ucapnya dalam hati dan apa-apan ini kenapa badannya terasa panas dan gerah, Mark tahu kok cuaca di pantai sedang terik-teriknya, tapi panas yang ini berasal dari dalam tubuhnya. Mark merasa janggal, sepertinya ini ada kaitannya dengan jamu yang tadi diminumnya. Mark bukan pria bodoh yang tidak tahu menahu tentang obat semacam ini, maka saat itu juga Mark memutuskan untuk menelepon Jaemin meminta penjelasan padanya. Jelas telponnya tak diangkat, karena di depan sana Jaemin sedang berpose dengan sangat mengagumkan di depan kamera.

Sial. Ini hari paling sial yang pernah terjadi selama 27 tahun hidupnya di dunia, kenapa pula dia tak sadar kalau panas tubuh semacam ini adalah efek dari obat perangsang. Mark tak habis pikir ada orang yang begitu tega menjebak orang sepolos Jaemin. Mark bingung karena sekarang ini posisinya sedang berada di tempat umum, bisa di keroyok banyak orang kalau dia ketahuan bercinta di sini. Jaemin sudah memulai sesi photoshootnya, bergaya layaknya seorang model professional.

“Fuck! Seksi banget lagi.” Terbesit pikiran bodoh, apa Mark pergi saja dari sini, tapi jika dia main kabur saja pasti Jaemin akan menilainya buruk di aplikasi boyfriend rentalnya dengan rating rendah dan bayarannya akan hangus karena Mark tidak professional dalam menjalankan pekerjaannya.

 


 

Dilain sisi Jaemin yang baru saja menyelesaikan sesi pemotretan pertamanya dibuat bingung akan hilangnya si pacar sewaannya, dia pun berjalan ke arah tenda makanan tempat dimana Mark terakhir terlihat. “Kak! Kamu liat pacarku kemana nggak ya?” Tanya Jaemin pada salah satu orang yang berada di tenda tersebut, beruntungnya semua orang di lokasi sudah kenal Mark itu pacarnya.

“Tadi sih aku liat pacar kamu ke arah belakang sana, Na.” Kata perempuan yang sepertinya tahu betul kemana pacarnya pergi. Jaemin langsung menuju ke tempat yang diarahkan padanya, dan tak lupa mencucap makasih padanya. Ternyata di sana hanya ada kamar mandi dan tentu tujuannya pada pintu kamar mandi di pojok yang pintunya tertutup rapat.

"Mark lu ada di dalem?" Satu ketukan tak disahuti, baru setelah ketukan ketiga pintu akhirnya mau terbuka.

Dan tangannya langsung ditarik masuk ke dalam bilik kamar mandi, tubuhnya terdorong jatuh hingga dia terduduk di atas kloset.

Tanpa terduga, Mark mencium keras bibirnya, menekan tengkuknya agar posisi ciuman mereka tetap pada posisinya. Sementara itu, Jaemin masih berusaha menetapkan fokusnya saat bagaimana Mark terus meraup bibirnya, apa ini ada di dalam kesepakatan? seingatnya tidak ada. Entahlah Jaemin tidak mengeluh, karena Mark tahu cara menciumnya dengan baik. Seakan terbawa suasana, Jaemin membuka mulutnya, lalu menyambut lidah Mark yang terus menggodanya untuk saling kecap lidah satu sama lain. Meski begitu, ciuman mereka berbeda, Jaemin dapat merasakan ketamakan Mark.

Namun Jaemin tak mau ambil pusing, karena sejujurnya dia mulai menikmati permainan lidah Mark dalam mengeksplor rongga mulutnya. Bahkan saat ini Jaemin sudah mengalungkan lengannya pada leher Mark, tidak membiarkan jarak memisahkan mereka. Jaemin mengerang begitu merasakan tangan hangat Mark menyentuh pinggangnya, dan dengan berani meremas pantatnya.

Jaemin butuh banyak oksigen maka dia mendorong bahu Mark agar mau menjauh dari hadapannya, lalu menanyakan apa yang membuat Mark menjadi begitu bernafsu. “Lu kenapa sih anjir?!” Tanya Jaemin saat berhasil mengais oksigen dan menggembalikan kewarasannya.

“Na jamu yang lu kasih itu ada obat perangsangnya, nih liat kontol gue udah berdiri tegang. Langsung ngaceng liat lu lepas kemeja, makanya gue milih kabur kesini. Kontol gue sakit banget rasanya.” Mark membawa tangan Jaemin agar berada tepat di atas penisnya yang sudah berdiri sempurna.

“Kayanya ini kerjaan orang yang gue kenal. Oke gue bantu. Gimana kalau gue bantu sepong?” Saat Jaemin akan duduk bersimpuh di hadapan Mark, lengannya ditarik paksa agar kembali berdiri.

"No. Gue butuh lubang lu."

"Sekarang?"

"Iya."

“Langsung masuk ya? Ngga usah foreplay lama ya, asli gue udah gak kuat banget ini, Na.” Jaemin menjadi tidak tega sendiri melihat tatapan Mark yang begitu memohon padanya.

“Sakit dong ka—” belum sempat Jaemin melanjutkan ucapannya, celana serta dalamannya sudah ditarik ke bawah olehnya, lalu Mark berlutut di hadapannya, melebarkan kakinya yang masih berdiri bersandar pada tembok kamar mandi. Pria tersebut mencoba memasukkan jarinya ke lubangnya menggunakan jarinya.

“Sorry kalau gue lancang ke tubuh lu, tapi lu harus tau ini diluar kuasa gue.” Ucapnya lirih, lantas dia menunduk, lalu menghisap kuat klitorisnya. Jaemin menggelinjang dari posisinya, merintih nikmat. Mark mengerang, merasakan cairannya yang membasahi mulutnya. Karena memang vagina Jaemin sudah basah saat sesi ciuman tadi, beruntungnya Mark tidak menyadari hal itu. Jaemin di atasnya bergetar hebat merasakan jilatan basah dari lidah kasarnya. Klitorisnya juga dimanjakan oleh tangan Mark, Jaemin tak kuasa menahan desahannya lebih lama lagi, dirinya sudah terbuai.

Mark menahan pahanya, supaya lidahnya bisa masuk lebih dalam ke dalam vagina Jaemin, lidahnya handal dalam menghisap lubang kawinnya dengan baik, ingin sekali vaginanya yang sudah kembang kempis segera dijamah Mark. Dia yakin penisnya akan sama besarnya seperti bisepnya. Bahkan cairannya menetes hingga mengenai celana jeans yang dikenakan Mark, tetapi Jaemin tidak ingin Mark berhenti, dia ingin lebih dari ini.

“Mark—ahh mark lee, please, more… i want more of this… enak banget.” Jaemin memohon, hampir tidak bisa menyusun kalimatnya dengan benar, karena rasanya begitu nikmat. Lidah Mark tenggelam jauh di dalam vaginanya dan remasan kuat juga mendarat di pantatnya. Mark menurut dengan melakukannya lagi, membiarkan lidahnya masuk lebih dalam ke dalam vagina Jaemin yang berkedut dan basah, membuat Jaemin mendorong kepala Mark agar lebih tenggelam di dalamnya.

Sekarang Mark mulai memasukkan jarinya di dalam vagina Jaemin. Dan mulutnya beralih pada puting susu Jaemin, menghisapnya hingga membengkak. Jaemin yang melihatnya tentu suka, maka dia mencondongkan tubuhnya agar puting susunya lebih dekat dengan mulut Mark. Jaemin mengarahkan puting susunya agar dapat masuk ke dalam mulutnya. Mark menjilat, menghisap serta mengulum puting tersebut dengan rakus. Jaemin menutup rapat mulutnya agar desahannya tidak keluar, mengingat bahwa mereka masih berada di tempat umum.

“Desah aja Na, crew di sini paling ngga nyadar lu ngilang lama. Ini udah break kan?” Jaemin mengangguk. Mark menatap Jaemin tanpa berkedip, clientnya ini sangat cantik bila dilihat secara dekat, seperti Mark mendapat rezeki nomplok. Jaemin kaya raya, bodynya mantap dan rela diperkosa Mark di tempat umum. Jaemin terus menekan dan menarik kepala Mark berulang kali, memintanya melakukan hal yang serupa terhadap puting sebelah kanannya.

“Aku mau kel—uarrrr! Ahhh.” Jaemin nyaris menjerit, dia merasa begitu pening seusai vagina serta putingnya dimanjakan secara bersamaan oleh lidah dan jari Mark. Akhirnya Jaemin berhasil menjemput putih pertamanya, cairannya mengenai tangannya dan baju pria tersebut.

Jaemin lemas, jari Mark terus bergerak semakin cepat di dalam sana, ibu jarinya terus menggesek titik terdalam Jaemin. Mark terus memacu jari-jarinya dengan hentakan kuat dan cepat di dalam vagina Jaemin, dia bisa merasakan lubang Jaemin menelan kuat jarinya, dinding rahimnya menghimpit jari Mark. Membuatnya bertanya-tanya betapa nikmatnya nanti saat penisnya berhasil masuk ke dalam lubang Jaemin.

Mark kemudian menarik jarinya dari vagina Jaemin lalu memasukannya ke dalam mulutnya sendiri, mengerang merasakan sisa klimaks Jaemin. “Enak banget rasa cairan kamu.”

Mark lantas berdiri, menarik pinggang Jaemin agar lebih menempel padanya. Membuka kancing serta menarik resleting celananya, lalu menggesekkan penisnya yang sudah berdiri tegak ke belahan vagina Jaemin. Gerakannya naik dan turun, “gue masukin sekarang ya?”

Jaemin mengangguk. Mark lantas menutup tutup closet dan duduk di atasnya, tubuh Jaemin ditarik mundur sampai akhirnya duduk di atas pangkuannya. Mark mengecup singkat leher Jaemin, kepalanya dibuat mengadah ke atas seakan memberi akses lebih untuk Mark agar lebih leluasa menjamah lehernya., dihisap serta dijilat sampai muncul ruam merah di sana. Jaemin begitu pening saat diberi kenikmatan secara bertubi-tubi oleh Mark, rasanya dia ingin melayang ke angkasa dan berbaur bersama bintang-bintang di langit. Jaemin tak menyangka jika hari ini dirinya pasrah dipakai oleh orang yang baru ditemuinya sekali.

Mark sedikit kesusahan maka diangkatnya tubuh Jaemin agar penisnya dapat masuk ke dalam vaginanya, “sempit banget fuck!” Penisnya terasa dijepit kuat oleh vagina Jaemin, dia meringis dibuatnya. Padahal vagina tersebut sudah dibuat selonggar mungkin agar penisnya dapat masuk dengan lumayan mudah. Mark menekan paha Jaemin supaya penisnya lebih dalam masuk ke lubangnya. Sampai usahanya membuahkan hasil.

“Ahhhh enak.” Penuh. Saat seluruh penis Mark telah berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginanya, rasanya begitu penuh. Penis Mark begitu besar di dalamnya, memenuhi Jaemin tanpa tersisa.

Jaemin hanya mampu mengadahkan kepalanya serta memejamkan matanya sembari tangannya mencengkeram erat lengan Mark, “Na Jaemin..” panggil Mark lirih, Jaemin yang mendengar namanya disebut menoleh ke arahnya, lalu Mark memberi kecupan di seluruh wajah Jaemin.

Sedangkan penisnya di dalam sana masih belum bergerak. Mark sengaja mendiamkannya sejenak, membiarkan Jaemin terbiasa dengan ukuran penisnya. Dan jika dirasa pria manis tersebut sudah siap, Mark akan langsung menghentakkan penisnya. Walaupun tubuhnya sudah dikuasai oleh obat perangsang tidak membuat dirinya egois dengan tidak mementingkan kenyamanan Jaemin.

“Gerak. Coba gerakin sekarang, Mark.” Jaemin meyakinkan Mark bahwa dirinya sudah siap untuk dimasuki lebih dalam. Pipi Mark dikecupnya dengan lembut, seakan memberi tahu bahwa tak apa jika dia lebih berani dalam hal ini.

“Oke gue gerak ya.” Tak menunggu waktu lama, Mark mulai menggerakkan penisnya di dalam vagina Jaemin secara perlahan. Temponya memang pelan tapi hentakannya itu tepat dan kuat.

“Ah-ahh. Faster. Ah ah kontol lu e-enak juga!”

“Shit! sama, memek lu juga enak.”

PLAK!

“Ahh!” Jaemin tersentak saat pantatnya ditampar kencang oleh Mark, yang menjadi pelaku hanya tersenyum miring menanggapi tatapan tajam Jaemin yang ditunjukan kepadanya.

Vagina milik Jaemin terasa begitu sempit seakan menjepit kuat penisnya. Nafsunya sudah tinggi, terlebih dengan melihat penampilan Jaemin yang berantakan seperti ini. Mark berinisiatif melepas kemeja tipis yang sedang dipakai Jaemin, lalu mengantungkannya pada pengait baju yang berada di dalam kamar mandi dengan penis yang tetap tertanam pada lubangnya.

Mark mulai menaik-turunkan pinggulnya. Dia juga menggerakan pinggulnya agar Jaemin tidak terlalu kewalahan dalam menyeimbangi gerak tubuhnya. Gerakan Jaemin yang berada di atasnya mulai melambat yang mana membuat Mark lebih mempercepat lagi hentakannya. Mark mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang lebih cepat, memaju dan mundurkannya. Jaemin hanya bisa memijat kepalanya saking peningnya, otaknya terasa kopong, yang dia pikirkan hanya betapa nikmat penis besar Mark menyentuh titik terdalamnya terus menerus. Nikmat, rasanya sangat menggairahkan. Bahkan bisa Jaemin bilang permainan Mark lebih unggul dibanding semua mantannya.

“Ahh! E-ennak banget!”

“Enak kan kontol gue.”

“Iyahh enak bangett.” Ucap Jaemin sembari memberi kecupan di pipi Mark. Desahan keduanya saling bersahutan memenuhi ruangan kamar mandi yang tidak terlalu besar itu, mereka berdua sudah tidak memperdulikan jika desahan keduanya sampai terdengar ke luar. Mark tidak berhenti mengucapkan kalimat pujian saat melihat bagaimana kacaunya wajah Jaemin saat berhasil dia bawa terbang seperti ini.

“Fuck! Gue mau k-keluar! Aahh.” Jaemin meremas puting susunya sendiri, terasa vaginanya semakin basah dan lengket oleh cairannya. Mark membantu dengan mengulum puting susunya, setelahnya desahan panjang keluar dari mulut si manis.

“Ah! Nanti dulu tungguin gue!” Ucap Mark sambil dia hisap kuat leher Jaemin.

“U-udah engga kuat! Ahhhh.” Dan benar saja tak lama dari situ Jaemin kembali menyemburkan putihnya, dia tak kuat bila harus menahannya lebih lama.

Jaemin memilih untuk melepaskannya saja, kali ini Jaemin mengeluarkan cairannya cukup banyak sampai mengenai perut dan dadanya sendiri. Tubuhnya terasa begitu lemas, dia bersandar pada dada bidang Mark yang berada tepat di belakangnya. Mark secara sigap memeluk Jaemin dengan erat, “mantep juga goyangan lu.”

"Haha makasih." Jaemin menepuk pipi Mark yang baru saja memujinya.

“Berhenti dulu bisa? Asli gue lemes banget..” pinta Jaemin dengan suara parau. Namun Mark memilih abai karena rasanya sangat tanggung jika tidak dituntaskan saat ini juga. Mark tidak mau berhenti, dia terus mengejar klimaksnya yang sebentar lagi akan datang. Dibarengi dengan lubang vagina Jaemin yang kembali menjepit kuat penisnya.

Beruntungnya vagina Jaemin sudah sangat basah dan becek, mempermudah Mark untuk menggerakkan penisnya di dalam lubangnya lebih dalam dan cepat. Terus menghentak kuat dan terkesan tidak beraturan. Saat dorongan terakhir, Mark menghentak penisnya sampai mentok, membiarkan spermanya tertampung dan membasahi vagina Jaemin.

“Ahh bangsat! enak banget!” Mark mendesis, merasakan penisnya yang terus menembakan cairannya tanpa henti. Jaemin hanya mampu memejamkan matanya, merasakan cairan alami Mark yang hangat di dalam perutnya. Mark mengisinya dengan penuh, penisnya yang besar bersemayam di dalam vaginanya sampai tak ada setetes cairan pun yang keluar dari sana.

Dipeluknya tubuh Jaemin dari arah belakang karena Mark merasa Jaemin akan jatuh tersungkur ke lantai jika dia tidak menahan beban tubuhnya sendiri. Napas Jaemin berderu, kepalanya pusing bukan main. Lantas pria cantik tersebut menoleh ke arah Mark, tersenyum entah untuk apa.

Mark berbisik di telinganya.

“Thank you Na, gue berhutang budi sama lu yang rela ngasih tubuh lu buat bantuin gue.”

“Iya sama-sama Mark Lee?”

“Panggil gue Mark.”

 



Tanpa mereka tahu kalau di luar sana crew sedang mencari sosok model yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Padahal masih ada dua sesi photoshoot lagi.

Notes:

Leave kudos and comment if you like this story 🤍

thanks for reading-ca