Actions

Work Header

The Caretaker

Summary:

Jeno dan Jaemin sahabat dari orok sampai tua yang masih dekat satu sama lain, terutama setelah istri mereka meninggal, dan anak-anak juga sudah pada kawin. Akhirnya dua bestie ini memutuskan buat tinggal bareng dan mempekerjakan caretaker yang dipercaya bisa mengurus mereka. Siapa sangka pengurus baru di rumah ternyata lebih menggoda dibanding orientasi seksual normal keduanya

Notes:

post on wattpad too.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

⚠️ : boypussy!renjun ; elder!nomin ; age-gap ; vaginal sex ; no di nomin adalah no homo ; inspired by jav kakek sugiono yang sampe sekarang aku ga ketemu lagi dimana videonya (nangisㅠㅠ) ; sexual tension ; slight!jaemrina ; slight!jenselle ; squirting ; multiple come ; double pene ; petnames ; daddy ; big dicks energy ; resiko tanggung sendiri.

Selamat tahun baru pembaca tercinta. Enjoy 11k of norenmin yang lama terpendam dan akhirnya diselesaikan.

***

.

.

.

Usia 65 tahun sudah dapat dikatakan cukup bagi Jaemin maupun Jeno untuk berhenti bekerja dan menikmati masa tua. Entah apa maksud Tuhan di atas sana, Karina Yoo, istri Jaemin selama 30 tahun tak disangka-sangka dipanggil duluan. Kedua sekawan berkabung, menangisi kepergian wanita yang masih sangat cantik meski berumur 60 tahun. Setelahnya, lima tahun sejak kepergian Karina, istri tercinta Jeno menyusul kemudian karena serangan jantung yang tidak terelakkan.

"Mungkin gara-gara mereka jarang olahraga makanya lebih cepat dipanggil Tuhan." mulut kurang ajar Jeno terdengar membisik di kuping Jaemin saat peti mati Giselle baru saja diturunkan. Jaemin berusaha menahan tawa, sebab tahu rumah tangga sahabatnya memang tak baik-baik saja sejak puluhan tahun silam. Mereka tetap bersama hingga akhir hayat pun syukur, demi menjaga keharmonisan anak-anak mereka.

"Papi, nanti pulangnya sama Nella aja ya." putri bungsu Jeno yang menikah dua bulan sebelum kematian sang ibu menawarkan tempat tinggal pada sang ayah, dia tampak sedih, tidak berhenti memeluk lengan kekar terbalut jas milik Jeno, tersedu-sedu menarik ingus lantaran orang yang suka mengomel sebagai bahasa cintanya telah menghilang selamanya. "Nella bakal kangen sama Mami."

Jeno hanya diam sembari merangkul sang putri, mendaratkan kecupan sayang tepat di puncak berambut pirang kehitaman sesekali menatap peti mati istrinya yang mendarat sempurna di tanah.

"Papi pulang sama Om Jaemin."

"Huh?" Geanie menaikkan satu alis, menatap Jaemin dan papinya bergantian. "atas dasar apa?"

Jeno dan Jaemin memang punya rencana semenjak Karina tiada, jika pasangan mereka dipanggil Tuhan duluan, mereka ingin hidup bersama sembari mempekerjakan asisten untuk mengurus mereka di masa tua.

"Om Jaemin ngajakin Papi tinggal bareng."

"Aw? Diam-diam kalian homo ya?" sahutan Geanie membuahkan gebuk sayang dari Papinya yang melototkan mata.

"Mulutmu Gen, siapa yang ngajarin hah? Masa Papi jadi obat nyamuk Nella sama Edmund, nggak mau ah. Papi nebeng Om Jaemin aja."

"Iya, Gen," Jaemin menyahut, bertepatan kerumunan pelayat mulai bubar menyisakan dua sekawan, Nella dan suaminya, Sion putra sulung Jaemin dan istrinya, Geanie putri sulung Jeno bersama keluarga kecilnya, serta Minji anak bungsu Jaemin yang masih bujangan. "kamu nggak usah khawatirin Papi kamu, kita sudah punya rencana mau tinggal di rumah pinggir pantai."

"Mudahan nggak dihantam tsunami ya." imbuh Sion mendapat cubitan kecil dari Minseo sang istri, Jaemin terkekeh karena anaknya dapat teguran menantu kesayangan, ikut menoyor dahi lelaki itu pelan.

"Kalau dihantam tsunami beneran, kita nggak perlu repot-repot kasih pemakaman." celetuk Geanie akhirnya cengengesan. Jangan terlalu kaku sama dua keluarga ini. Bapaknya aja masih bisa candain istrinya yang dikubur, sudah pasti mulut nyablaknya menurun ke putri-putri sendiri. Geanie dan Nella pun pas dewasa jadi paham kalau rumah tangga orang tua mereka nggak se-harmonis seperti yang dikasih lihat ke tetangga, ketika mereka menanyakan diam-diam ke Jeno di belakang Giselle, Jeno cuman angkat bahu dan suruh mereka tanya lagi ke Giselle. Yang ternyata nggak dijawab apa-apa sebab disuruh mikir sendiri. Ujung-ujungnya dua bersaudara beda lima tahun itu bodo amat selagi masih dikasih jajan.

"Geanie masih penasaran kenapa Papi sama Mami nggak cerai?" sewaktu makan siang setelah menyelesaikan ritual upacara penghantaran terakhir Giselle, Jeno dan Jaemin membawa anak-anak mereka ke restoran untuk mengisi perut sebelum pergi ke tujuan masing-masing. Dentingan garpu dan pisau saling beradu di permukaan piring, kepulan asap berayun-ayun dari sajian penggugah selera.

"Apa ya?" Jeno tampak berpikir, tangan memegang pisau berhenti di udara selagi ia mengulas balik alasan mereka tidak berpisah meski sudah terasa hambar. "karena kasihan sama kalian berdua. Geanie masih sekolah, Nella belum ngerti apa-apa, kalau mau paksain ego, kalian nggak bakal sejahtera sampai nikah kayak sekarang."

"Emang masalahnya apa sih, Pi?" tanya Nella dengan nada C minor (?) enggak, dengan nada pelan agar ayahnya tidak tersungging. Jaemin di sebelah Jeno nampak menipiskan bibir, melirik sang sahabat, tidak jua berkeinginan menjawab walau tahu ceritanya.

"Cuman hambar aja. Mami nggak suka sama sikap Papi yang nggak peka, Papi juga males berdebat kalau Mami kalian sudah mencak-mencak. Makanya Papi selalu bilang ke kalian, cari cowok jangan yang cuek, cari yang perhatian, pengertian, bisa manjain kalian, dan sayang sama kalian lebih dari Papi." tutur Jeno panjang lebar, intonasi bicara memang santai, tapi rupanya mengetuk hati Nella yang mendadak berkaca-kaca. Putri bungsu Jeno bangkit sejenak dari tempat duduk, kemudian menghambur pelukan sembari minta pangku sekalian. "heh! Nggak malu apa di depan Edmund malah begini ke Papi?"

"Papi tinggal sama Nella aja hueeee~"

"Mulai." Geanie memutar mata malas terhadap kelakuan sang adik seiring dia meminta maklum ke orang-orang sekitar yang rupanya menaruh perhatian. Sion dan adiknya, Minji terkekeh melihat anak-anak Jeno, sejak kecil mereka berteman, pasti terlalu maklum sama kedua putri Lee tersebut.

"Nggak mau ah, kamu nanti mesraan sama Edmund, terus Papi di sofa pojok ngeliatin kayak berhala, mending Papi sama Om Jaemin lah. Nyata kita bisa beraktivitas bareng."

"Sudah kubilang kan?" Geanie mengarah ke Sion dan Minji, "mereka diam-diam sebenarnya maho."

"Lee Geanie, mulutmu!" pekik Jeno gregetan, beruntung lagi di luar, habis nanti Geanie kena cubit di pipi tembemnya. Jaemin malah tergelak, menaik-turunkan alis ke Geanie seolah membenarkan perkataan asal bunyi tersebut.

"Oalah pantes," Minji berceletuk, "sebetulnya mereka mau hidup berdua karena udah terlalu lama nikah sama orang lain."

"Na Minji." tegur Jaemin agak melotot pada celetukan sang bungsu. "nggak usah mikir aneh-aneh, Papa sama Mama itu cintanya sampai akhir hayat, nggak kayak Om Jeno."

"Ya kan hayat Mama udah habis, berarti Papa bisa cinta sama Om Jeno."

Jeno memasang ekspresi mau muntah, "Please Minji, cuman Mama kamu satu-satunya yang bikin Papamu berdiri."

"EWWWHHH PAPIII!" "IHHH PAPIII!" "Astaga Om Jen!!"

Sementara Sion, istrinya, suami Nella, dan suami Geanie sama-sama menepuk kening pada teriakan melengking yang menggema di sekeliling meja makan seraya meminta maaf ke pengunjung pada kehebohan yang diciptakan.

***

.

.

.

Semenjak kepergian Giselle, Jeno mantap pindah bersama Jaemin ke sebuah rumah pinggir kota. Nggak jadi pinggir pantai soalnya sudah didoain Geanie kalau dihantam tsunami, nggak perlu repot dimakamin sama anak sulungnya. Kurang sambal mulut Lee Geanie, kejudesan Giselle seratus persen menurun ke anak pertama mereka.

Pekerjaan Jeno hanya sekadar memantau perusahaan yang ia bangun sejak muda sesudah melimpahkan ke Geanie. Nella seorang lebih memilih jadi dokter karena bercita-cita merawat Jeno jika sang ayahanda sakit-sakitan. Namun, kayaknya nggak terwujud bila dilihat betapa mesranya dia dengan sang suami. Jeno nggak ambil pusing sih, dia sama Jaemin berniat mempekerjakan pengurus rumah, dari membersihkan tempat tinggal, menyiapkan makan, dan lain sebagainya.

"Ini supir kita pekerjakan dua atau satu aja, Jaem?"

"Kamu mau pisah mobil apa pergi barengan?"

Kedua sekawan tidak nampak seperti kakek-kakek umur 65 tahun kalau mereka hanya berduaan saja sambil mengutak-atik layar iPad yang menampilkan profil rekrutmen berdasarkan usulan dari asisten pribadi di kantor. Jaemin sibuk membaca resume, Jeno malah nonton opera sabun.

"Panggil aja kali ya, biar lihat langsung." usul lelaki surai cokelat menoleh ke sahabatnya, Jeno menggumam setuju, memencet tombol remote untuk menurunkan volume supaya mereka lebih konsen berdiskusi. "gimana perasaanmu ditinggal Gigi?"

"Biasa aja."

Jaemin mendengus, geleng-geleng tidak percaya. "Gen bener berarti, kamu punya rasa sama aku."

"Anjing, Jaem. Jangan ngarep deh." jawab Jeno bergidik geli. Jaemin tertawa keras, menampar-nampar lengan kekar sahabatnya yang tidak terbalut kain sehingga Jeno buru-buru menghindar karena sakit.

"Masa istri baru meninggal bilangnya biasa? Aku aja nangis tiap kali ingat Karina."

Jeno mencebik, "Ya karena kalian saling cinta sampai hembusan napas terakhir. Lah aku sama Gigi, bersyukur kita nggak saling jambak selama hidup, tidur seranjang aja dianya ogah."

"Tapi kabar dia ketemu teman reuninya memang beneran, Jen?"

Lelaki surai hitam mengangguk malas, "Iya, dia ngaku sebulan habis kegep sama aku, untung anak-anak nggak tahu. Coba bayangin sejengkel apa Geanie kalau lihat maminya malah ke hotel sama pria lain."

"Nella sih, kebayang sejingkar apa dia kalau tahu."

Jeno menggumam membenarkan, benar di benak tiba-tiba membayangkan seandainya ketika Giselle ia pergoki bersama anak-anak mereka sedang berduaan di hotel dengan seorang pria selain ayahnya.

"Mereka sayang sama Gigi, biar secerewet apapun, biar pengomel tapi nggak tahu kenapa anak-anak malah nempel terus. Pakai pelet kali ya?" Jaemin tertawa lagi, kali ini memberi tonjokan main-main ke pundak Jeno sehingga sang empunya bahu mendelik sinis.

"Pelet dia pun manjur ke kamu di awal."

Pria sabit tersebut mengulas senyum tipis, mata menerawang pada langit-langit yang tinggi, mengingat kembali bagaimana ia dan Giselle bisa berhasil sampai ke jenjang pernikahan. "Bener. Kuakui sih."

"Mereka akan selalu di hati kita, bro." sang kawan di samping menyodorkan kepalan tangan, Jeno akhirnya luluh meloloskan gelak, menubruk kepalan tersebut pelan.

"Urus tuh rekrutmen besok, aku tinggal nunggu jadi."

"Sialan."

Rumah dua lantai pinggir kota, dilengkapi fasilitas kolam renang, taman yang luas untuk mereka beraktivitas, serta dilindungi pagar tinggi estetik menawan mata, sama sekali tidak terlihat dingin meski hanya dihuni bapak-bapak berumur yang telah ditinggalkan sang istri ke surga.

***

.

.

.

"Perkenalkan dirimu."

"Baik, Pak. Nama Saya Son Jiwoo, umur saya 26 tahun, saat ini saya sedang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Cheong-il Do selama kurang lebih tiga tahun."

Jaemin dan Jeno berpandangan sebentar, kemudian mengarah lagi ke Son Jiwoo, calon karyawan yang pertama mereka wawancara. Sekilas, perempuan ini terlihat rapi, sopan, anggun, dan tidak neko-neko bila Jeno menelisik dari lengkungan sudut bibirnya. Manik memancarkan harapan diterima, gerak-gerik tubuh menunjukkan kepercayaan diri.

"Sudah nikah?"

"Sudah Pak, baru punya anak."

Tetot. Jeno mengangguk seraya mengalihkan tatap, sementara Jaemin tetap mempertahankan senyum profesional. "Baik, kami akan segera menginfokan kalau kamu diterima."

>>>

"Choi Beomgyu, 24 tahun. Saat ini saya jadi guru di taman kanak-kanak."

Apa kami terlihat seperti anak TK dimatamu, Choi Beomgyu-sshi?' kira-kira seperti itu tatapan mata Jeno yang diartikan langsung oleh Jaemin, lelaki surai cokelat menoel kaki sang kawan agar tetap berekspresi datar supaya tidak dipikir macam-macam.

>>>

"Ji Changmin, 26 tahun. Saya bekerja di sebuah penitipan anak selama lima tahun."

Apa kami kelihatan seperti batita dan balita di penglihatanmu, Ji Changmin-sshi?!'

Jaemin menghela napas pendek sesaat menangkap arti dari sorotan mata elang Jeno seiring mengulas senyum profesional ke arah Ji Changmin yang tidak tahu menahu pada makna tatapan pria rambut cepak di hadapan.

"Kami akan beritahu secepatnya kalau kamu diterima." ujarnya lembut.

>>>

Sekitar sepuluh kandidat diwawancara, belum ada satupun kecantol di hati dua sekawan. Jeno sudah ditahap menghembuskan napas panjang, Jaemin telah melonggarkan dasi sampai mengacak surai cokelat hingga awut-awutan.

"Satu lagi," ucap pria rambut hitam, membuahkan gumaman dari Jaemin. "kalo sampe yang ini nggak oke, kita masuk panti jompo aja." usulan Jeno membuat Jaemin tergelak renyah, bertepatan langkah kaki ringan memasuki ruang tamu, seorang lelaki muda berambut pirang segar, struktur wajah feminim, berpakaian formal tetapi sangat anggun bak model papan atas. Dua pria di sofa sama-sama membulatkan mata, tidak berkedip saking tak mau melewatkan pemandangan bintang tamu yang hadir dan berdiri tidak jauh dari kursi seberang.

"Um.. boleh saya duduk?" suara halus, selembut sutra terdengar merdu menembus gendang telinga keduanya. Kepala mereka refleks mengangguk, mempersilakan calon pengurus segera mengambil tempat di kursi tersedia.

"Huang Renjun?" tanya Jaemin setelah melirik ke profil di iPad. Pemuda itu mengangguk seraya menyampirkan senyum. Lesung pipi nampak jelas di bawah sudut bibir kanan, manik rubah berkilauan, serta pipi tembem memiliki semilir rona merah. "silakan perkenalkan dirimu."

"Baik Pak, nama saya Huang Renjun, umur saya 27 tahun. Saat ini saya sedang bekerja di rumah sakit, menjadi perawat di bagian intensif selama 4 tahun. Kebetulan saya belum menikah, kalau bapak sekalian kepingin bertanya, dan alasan saya ingin bekerja di sini karena saya lumayan capek kerja di rumah sakit dengan shift yang berantakan, jadi sewaktu ada lowongan kerja menjadi caretaker, saya coba masukan resume ke sini."

Aduh. Kalian pikir mereka paham sama yang diomongin Renjun? Tentu tidak! Jeno dan Jaemin justru salah fokus pada bibir kenyal yang terbuka-tertutup setiap kali sang pemilik sedang berbicara panjang lebar. Otak mereka bak terkoneksi satu sama lain, seperti memikirkan hal serupa tentang apa yang bisa bibir itu lakukan kepada mereka. Belum lagi sorotan mata rubah Renjun yang meneriakkan kesan, "Fuck me Daddy! Wreck me hard! Come and stuff me with you big cocks!" ya intinya begitu, sehingga menambah durasi konslet di kepala dua sekawan agak lama buat mencerna perkataan.

Renjun mengernyitkan kening kala tidak mendapat respon, dahi berkerut membentuk tiga garis kemudian mencoba memanggil. "Pak? Pak? Mohon maaf, saya sudah selesai perkenalan."

"Oh." Jaemin orang pertama yang tersadar, menyenggol Jeno untuk berhenti menatap dengan tatapan ingin menerkam. "oh, iya. Maaf. Jadi kamu belum menikah?"

"Belum, Pak." Renjun mematri senyum sopan.

"Kenapa belum?" Jeno kedengaran bertanya. Murni nanya doang tapi mungkin malah ditangkap jadi nada menghakimi oleh Renjun bila dilihat dari pundak landai yang terjengit kecil-kecilan. "sorry, saya nggak bermaksud aneh."

"Nggak papa, Pak. Saya memang nggak suka berkomitmen sama orang."

"Jadi kalau kami mau diurus 24 jam setiap hari, kamu sanggup?" tanya Jaemin menelisik reaksi.

Mata Renjun tampak berkedip-kedip lucu, "Dua puluh empat jam? Setiap hari? Saya harus tinggal di sini, Pak?"

"Ya iya," imbuh Jeno, "makanya kami selalu tanya status pernikahan calon pekerja sebelum benar-benar diterima. Karena mereka bakal 24 jam di sini, mengurus kami."

Lelaki surai pirang mengangguk-ngangguk paham, dari air muka yang terkejut, tidak menyangka, kini berubah menjadi lebih santai seperti pertama kali datang. "Nggak masalah, Pak. Kebetulan saya orang rantauan juga, aslinya dari Beijing dan memang tinggal sendirian."

Menarik. Menarik sekali calon mereka yang terakhir ini. Eh, calon apa nih? Calon pekerja loh ya. Jangan mikir aneh-aneh dulu.

"Kamu bisa masak?"

"Bisa, Pak."

"Bersih-bersih?"

"Bisa, Pak."

"Nyetir?"

"Bisa, Pak."

Jeno dan Jaemin berpandangan kembali, memberi isyarat satu sama lain tentang pertanyaan apa lagi yang mereka perlu tanyakan.

"Bisa muasin?" eits, ini tidak dilontarkan ya, teman-teman. Murni terkurung dan terkunci rapat-rapat di benak dua sekawan setelah menatapi Renjun dari ujung rambut hingga ke kaki. Postur tubuh lelaki itu seperti perempuan langsing, tegak berlekuk di pinggang ke bawah, kemudian menyilangkan kaki memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi.

"Oke, kamu diterima." ucap Jaemin mematikan iPad di tangan. Netra rubah bersinar tak percaya, membuat Jaemin dan Jeno lumayan silau saat beradu tatap. "kamu bisa mulai besok atau lusa, dan silakan bawa barang-barangmu ke rumah ini, nanti kami siapkan kamar buat kamu."

"Bener, Pak?"

"Iya, bener." jawab Jaemin kemudian berdiri, disusul Jeno lantaran dicolek dikit, lalu mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. "nama saya Na Jaemin, dan teman saya Lee Jeno."

"Eh? Teman?" Renjun menatap mereka bergantian dengan wajah penuh rasa heran, "saya pikir bapak pasangan suami-suami."

Muka Jeno sontak merah padam seiring mata sipit berlengkung sabit membulat macam bakso. Jaemin di samping sudah tertawa lepas menertawakan kesalahpahaman, lalu melambai-lambaikan tangan.

"Bukan, kami bukan pasangan. Kami sahabat dari orok, dan istri kami sudah meninggal, jadi kami memutuskan tinggal berdua daripada ngerepotin anak-anak."

"Ohh.. begitu.." Renjun meringis kikuk, terutama ke arah Jeno sebagai permintaan maaf karena salah duga pada ikatan mereka berdua. "maaf Pak, salah paham."

"Nggak papa, Ren- eh saya boleh panggil Ren kan?" di antara Jaemin dan Jeno, menurut Renjun lebih enak mengobrol dan berkomunikasi sama atasannya yang ini dibanding lelaki rambut hitam yang tak berhenti menatapnya sedari awal ia menginjakkan kaki. Pembawaan Jaemin begitu santai, luwes, dan membuat Renjun seketika nyaman ketika berbicara. Berbeda dengan Jeno, pria itu bak hendak menerkam hingga terbuai jadi bagian-bagian tipis meski rupa wajah dia masuk dalam kategori lelaki yang bisa membuat Renjun rela buka kaki.

Ganteng dan dingin. Brrrr.. cowok kutub plus jiwa badboy meronta-ronta ingin menggaet Renjun ke kasur. Rawr. Ini kenapa pikiran calon karyawan sama atasannya sama sih? Jodoh jangan-jangan, eh?

"Terima kasih sudah menerima saya, Pak Jaemin, Pak Jeno. Sampai jumpa besok!" Renjun menjabat tangan mereka sekali lagi sebagai perpisahan, sedikit gugup sewaktu Jeno meremas pelan bak mengimplikasikan sesuatu. Tuhkan, beneran mau diterkam kayaknya. Jaemin rupanya peka kalau temannya menatap sampai ke tulang rusuk Renjun, buru-buru ia menyenggol sehingga jabatan tangan mereka terlepas.

Renjun tersenyum kikuk, "Saya permisi, Pak."

"Mari saya antar ke depan, Ren."

Sepulang pengurus baru mereka, Jaemin menghembuskan napas panjang sembari menatap Jeno sekaligus geleng-geleng kepala.

"Kamu tuh bener-bener nggak bisa main halus, Jeno."

"Cantik sih, gimana nggak liatin terus." balas sahabatnya langsung terduduk kembali ke sofa, rambut hitam yang awalnya berantakan sejak Renjun datang, kini diusak-usak lagi berupaya menghilangkan kepeningan. "anjirlah, aku baru ini kepingin nerjang cowok."

"Hmm, nggak munafik, aku akui dia memang cantik. Kayak ada sesuatu nggak kasat mata dari aura dia yang bikin kita pengen berbuat macam-macam." Jeno menggumam sebagai tanda setuju. Bukan hanya dia yang merasakan dentuman aneh di rongga dada ketika melihat Renjun, teman oroknya pun juga sama.

Mereka kembali berpandangan, tiba-tiba meloloskan gelak, nggak tahu kenapa pikiran mereka bersambungan.

"Let's see seberapa lama kita berhasil bawa dia ke ranjang."

"Insane is your middle name, Jaemin."

"Oh, so is 'crazy' to you, Jeno."

.

.

.

***

Nothing changed much. Baiklah, tidak ada yang berubah dari kehidupan Renjun selain tempat tinggal dan deskripsi pekerjaan. Kalau sebelumnya dia selalu bolak-balik ruangan memeriksa pasien di kamar mereka, selalu kekurangan jam tidur, selalu berlari bila ada bunyi kode di pager dalam saku, atau selalu terlambat makan saat pasien keluar masuk, kali ini, mulai detik sekarang, Renjun terbebas sepenuhnya dari kerusuhan yang ia rasakan selama 4 tahun.

Dibilang bebas sih nggak. Masih ada pekerjaan lain. Mengantar majikan keluar jika mereka punya agenda, memasak, menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, camilan kalau para bapak tampan tersebut di rumah doang.  Terkadang membersihkan rumah, menyapu halaman, membersihkan kolam renang yang jarang digunakan sang pemilik, dan hal lainnya.

Renjun memulai hari dengan berpakaian serba rapi, mirip butler di tayangan televisi. Mempersiapkan segala-galanya, sehingga Jaemin atau Jeno tidak perlu lama menanti. Mereka nggak banyak menjalani aktivitas di rumah. Jeno kembali ke masa muda yang suka main game, Jaemin mengisi waktu luang dengan membaca buku, bisa juga mereka tiba-tiba main catur dan berteriak heboh jika salah satu ricuh.

Namanya pengurus, Renjun hanya menontoni kegiatan mereka dalam diam, tak bersuara, hanya bergerak santai melaksanakan tugas, ia menjawab sopan kalau ditanya, atau bertanya jika Jeno dan Jaemin membutuhkan sesuatu selain yang mereka suruh.

"ANJING YA CURANG KAMU JAEM!"

Satu hal yang seringkali menyebabkan pundak Renjun terlonjak ke atas apabila Jeno mulai berteriak mengamuk lantaran Jaemin suka mengganggu dalam permainan catur. Seminggu tinggal di sini, Renjun perlahan-lahan tahu kebiasaan mereka. Gaya bicara, gaya bercanda, sikap Jeno ke Jaemin, sikap Jaemin ke Jeno, tidak menunjukkan tanda-tanda mereka terikat hubungan.

Murni pertemanan, didasari kekeluargaan.

"AH MALES MAIN SAMA KAMU!"

Renjun berusaha menahan tawa melihat kerusuhan Jeno setelah dicurangi Jaemin. Sementara sang kawan sudah tertawa lepas kala mendapati lelaki surai hitam menghambur anak catur saking dongkolnya.

Ada-ada aja bapak kepala enam ini. Dah punya cucu, tapi kelakuan masih sebelas dua belas sama anak lima tahun yang dilarang beli boneka. Pria puber memang ajaib, Renjun seorang geleng-geleng kepala dari jauh menontoni interaksi mereka.

"Reeennn, ambil air!"

"Hah? Buat apa, Pak?"

"Kita rukiyah si Jeno biar nggak kerasukan jin."

"NA JAEMIN!" teriak Jeno melotot tidak terima diolok teman sepantaran yang terbahak-bahak. Sumpah, ekspresi lucu Jeno nggak ada duanya dibanding acara komedi, Renjun sendiri mencoba tidak ikut-ikutan walau senyum lebar nyaris terukir.

"Catur doang elah, Jen. Marah sampai segitunya, stroke baru tahu." balas Jaemin kembali merapikan biji-biji catur di atas papan, menggerakkan dagu sebagai isyarat Jeno memulai duluan.

Hidung Jeno kembang-kempis, merasa tertantang. Dia mulai menggapai pion putih miliknya, menggeser ke kotak yang seharusnya mampu ia kalahkan.

Satu menit..

Dua menit..

Dahi Renjun mengernyit pada keheningan melanda ruang keluarga, dia yang tengah menata piring serta gelas di lemari dapur sempat melongo melalui celah kusen yang tembus ke tempat Jeno dan Jaemin berada. Kedua majikannya saling menatap biji catur seakan ada laser yang akan meledak dari sana, sementara Renjun mengedikkan bahu usai dirasa tidak akan terjadi apa-apa.

Wrong.

"Checkmate."

"BANGKE NA JAEEMINNNNN!!!!"

Renjun menghela napas panjang setelah menangkap teriakan Jeno lagi. Ya benar, sambil diiringi gelak Jaemin yang nggak habis-habis menjahili teman sendiri. Lelaki cantik itu sudah selesai menata alat makan, menyempatkan waktu buat mendekat dalam rangka ingin melihat ketantruman Jeno serupa anak kecil.

"Sini Pak, saya bantu kalahin."

Jeno menoleh seraya memicingkan mata, "Emang kamu bisa?"

Si Cantik berdecak kecil, "Bisa. Saya jago main catur, juara komplek pas di kampung." Jeno dan Jaemin seperti biasa saling berpandangan, entah arti tatapannya apa namun mempersilakan Renjun duduk di samping Jeno untuk melawan Jaemin.

Kalian pikir mereka berdua fokus sama permainan?

Tidak dong.

Mereka malah memandangi Renjun dari tempat duduk masing-masing. Jaemin berhadapan langsung, Jeno tepat di sebelah kiri. Jaemin menatap wajah Renjun keseluruhan, Jeno hanya memandang sisi kiri yang berlekuk, terutama tepat di hidung mancung.

Renjun belum menyadari, sibuk memajukan pion, menggeser gajah, menggerakkan kuda, memakan siapapun yang berada di papannya, sehingga kedua lelaki lebih tua tersebut tidak menyadari menteri Renjun sudah pada jangkauan Raja milik Jaemin.

Pemuda surai pirang menyeringai, "Checkmate."

Jeno sontak bertepuk tangan, kagum tanpa suara namun manik setajam elang mendeskripsikan perasaan, sementara Jaemin membulatkan mata, cukup terkagok usai melihat betapa cekatan strategi yang Renjun perlihatkan.

"Mudah kan, Pak Jeno?"

"Dia curangin saya, gimana nggak saya kalah."

"Dih cepu, pukul aja Ren pakai garpu." balas Jaemin mencebik sinis. Renjun hanya tertawa geli, tidak terlalu membalas selain memberikan senyum sopan lagi.

"Bapak-bapak mau makan lagi nggak?" tanya lelaki termuda sambil bangkit berdiri, "mumpung belum jam 9."

"Vodka aja, Ren." jawab Jeno membuahkan anggukan dari si cantik.

"Pak Jaemin mau apa?"

"Mau kamu." enggak, hanya di kepala Jaemin. "Kopi hitam tanpa gula."

"Udah malam loh, Pak. Niat begadang?"

"Engga, kan biasa main catur temannya minum kopi, bukan vodka." sindir Jaemin mendapat tendangan madun dari Jeno di bawah meja hingga ia meringis kesakitan. Renjun tertawa kembali melihat tingkah mereka, nggak kelihatan umur 60 sama sekali.

"Baik, saya ke dapur dulu."

Badan Renjun berbalik memunggungi, dan kalian pasti bisa menebak apa yang dilakukan dua tetua ini? Benul, seratus persen mata jelalatan mereka mengarah ke pinggul Renjun sampai ke bokong yang terbalut celana kain. Tampak berlekuk, membentuk garis S, padat bak minta diremas telapak besar, dan tungkai yang anggun saat melangkah.

"Kapan kita bisa bawa dia ke kasur ya?"

"Hmm, sebelum sampai sana mending mikir dulu cara seks sama cowok tuh gimana." sahut lelaki surai hitam menjawab pertanyaan acak Jeno. Mereka terlibat permainan tapi sambil diselingi diskusi pelan, takut tiba-tiba Renjun dengar terus nggak terima dirinya jadi bahan obrolan.

"Ya di pantat kan? Dimana lagi memang."

"Enteng bener mulutnya kayak kapas. Dipikir langsung coblos terus crot keluar gitu? Nggak semudah itu, Jen."

"Setauku gitu."

"Makanya berguru yang bener, jangan taunya ngewein pookie aja, sudah tertarik sama laki baru kelabakan mikir gimana nge-seksnya." omel Jaemin menggeser gajah secara diagonal ke kotak hitam dimana pion Jeno berada.

"Dih, kayak kamu tahu aja."

"Tahu dong." ucap lelaki bergigi kelinci itu bangga, "sejam habis Renjun pulang, aku baca jurnal tentang seks anal. Bukan cuman homo doang yang bisa begituan, tapi normal pun bisa. Persiapannya harus matang, lama, bahkan sampai puasa dulu berhari-hari. Nggak boleh makan berat biar ususnya nggak bikin kotoran kayak biasa, atau makanan berserat banyak biar keluar semua sebelum lubangnya digunakan."

Jeno manut-manut, wajahnya persis kayak marmut. Kuda putih bergerak huruf L ke papan Jaemin, melawan gajah yang tengah menunggu giliran. "Ohh, jorok tapi kalau Renjun kayaknya aku rela deh."

"Kenapa kita jadi homo gini waktu dia muncul ya? Padahal kita hidup sama cewek terus kok." ujar Jaemin bertanya-tanya.

"Mungkin karena dia satu-satunya cowok yang berhasil bikin kita kliyengan sewaktu ketemu dia. Aku sendiri juga mempertanyakan kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin."

"Geli, but okay, aku ngerti." Menteri Jaemin kena libas. Bertepatan pria berkutang abu itu hendak mengajak gelud, Renjun keburu datang membawa dua gelas minuman. Beruntung pertikaian dapat dihentikan sebelum dimulai betulan.

"Ini punya Pak Jeno, ini punya Pak Jaemin. Saya balik ke kamar ya Pak, kalau ada apa-apa ketok aja." ucap Renjun seraya membungkuk kecil sebelum berlalu tanpa mendengar balasan. Seperti biasa, kedua sekawan melihat bagaimana pantat Renjun bergoyang tiap mengambil langkah maju, seiring bibir gelas bertemu mulut buat dihirup agar menghilangkan dahaga semu.

"Jaem, kita harus cari cara buat bikin dia teler di kasur."

Jaemin menggumam, terlihat di wajahnya yang masih bingung mencari cara untuk membuat Renjun bertekuk lutut. Kan consent is a must ya. Dan mereka berdua juga mesti belajar lebih lanjut soal hubungan intim lewat belakang.

Hmm.. kira-kira sampai kapan mereka cuman bisa natapin Renjun tanpa melakukan aksi apapun?

.

.

.

***

Dua minggu berlalu, Renjun masih baik-baik saja di rumah baru.

Pekerjaan dia tidak membosankan meski terlihat monoton. Namanya juga jadi asisten rumah tangga memang mau ngapain lagi selain mengerjakan yang disuruh? Dia sering kok dikasih kesempatan bersantai, me-time bila para majikan ada agenda keluar dan rumah sudah bersih berkilau. Dia tetap diperbolehkan jalan-jalan asal pulang sebelum mereka tiba di rumah. Bukan semerta-merta meninggalkan tanggung jawab begitu saja.

Seperti saat ini. Bertepatan pada hari minggu kuturut ayah ke kota- oke bukan, adalah hari pilihan Jeno dan Jaemin mengundang anak-anak mereka berkunjung melihat rumah yang telah ditinggali hampir dua bulan lamanya. Surprisingly, meski di pinggir kota, berasa asri dan nyaman buat ditempatin. Geanie pun pas tiba sontak betah meluruskan pinggang di sofa keluarga tempat Jeno dan Jaemin biasa bercengkrama.

"Hati-hati Papa sama Om Jeno sering main disitu." celetuk Sion ketika melewati Geanie yang sedang memeluk putra tunggalnya karena lelah kelamaan duduk di kursi pengemudi. Padahal maksud Sion memang ayah mereka menghabiskan waktu bermain game di sana, tetapi Geanie menangkap hal lain sehingga ia melompat jauh seraya membawa Noze dalam dekapan.

"EWWWHH PIIIII!"

"Apa sih Gen? Baru juga datang ngerusuh rumah orang." gerutu Jeno tanpa mengetahui sebab akibat kenapa putri sulungnya berteriak jijik. Sion sontak tertawa, sama usil kayak papanya. "sini kenalan dulu sama Renjun."

Renjun buru-buru mencuci tangan sebelum berjabatan dengan anak-anak majikan. Ada Sion bersama Minseo dan putri mereka, Seorin, ada Geanie bersama sang suami, Rowon dan putra mereka Noze. Serta Minji yang baru datang membawa buket bunga sebagai ucapan selamat darinya kepada dua sekawan.

"Papi Jeno ngerepotin kamu nggak, Ren? Eh umur kamu berapa, jangan-jangan seumur."

"Mimpi banget seumur," celetuk Jeno terhadap basa-basi sang putri. Geanie melotot dikit, sementara Renjun tergelak kecil.

"Saya umurnya 27 tahun, Mbak."

"Oh deketan, kita panggil informal aja ya, Ren."

"Gen, deketan gimana?! Umur kamu udah kepala tiga ya!"

"Apasih Papi protes mulu heran!"

Renjun mengangguk setuju tanpa meruntuhkan senyum. Sekilas yang lebih tua di susunan anak Jaemin dan Jeno dari Sion (34) kemudian menyusul Geanie beda tiga tahun (31), Nella beda lima tahun dari kakaknya (26), menyisakan Minji yang lumayan jauh dari Sion (25).

Semerta-merta kegiatan Renjun di dapur tidak hanya dikerjakan sendirian. Geanie dan Minji sigap membantu meski Renjun berulang kali melarang mereka lantaran telah datang jauh-jauh. Namanya anak perempuan, dibesarkan oleh ibu penuh kemandirian, tentu keduanya tak mengacuhkan larangan Renjun dan tetap ikut campur.

Nella datang berdua sewaktu sajian mulai dihidangkan. Dia memeluk sang ayah erat sekali kemudian membulatkan mata ketika beradu tatap dengan Renjun yang memberi senyum sopan.

"Oh my god! Kak Renren!"

Jeno dan Jaemin mencuri-curi lirikan. Dalam rangka apa nih si bungsu Lee kenal pengasuh mereka? Mereka terlibat pelukan hangat, bahkan Nella mendekap sangat kuat sambil tersenyum cerah saat lepas, tangan lentik meremas lengan Renjun yang terbalut jas, tidak menduga mereka akan bertemu di acara keluarga.

"Jadi Kakak resign terus kerja sama Papi?"

"Aku nggak tahu kalau Pak Jeno ayah kamu, pantas rada familiar." jawab Renjun sesekali menatap Jeno dan Nella bergantian. Nella sontak tersipu, memeluk Renjun sekali lagi sambil digoyang-goyangkan sampai kena tegur sang papi.

"Nella, jangan kuat-kuat gitu kasihan Renjun sesak napas."

"Ih! Party pooper banget! Nella tuh kangen sama Kak Renren habis dia ngundurin diri dua minggu lalu. Taunya malah ngurusin Papi yang bau tanah ini."

Geanie mengikik macam kuda sesaat mendengar roasting sang adik sementara Jeno melotot agak lebar. "Kamu ya Nella, baru kemarin nangis-nangis mau tinggal sama Papi sekarang malah ngatain Papi bau tanah."

"Daripada bau bensin, mending mana?"

"Lee Nella!" tenang, ini cuman teriakan Jeno kayak biasa kalau dia gregetan nggak bisa melawan. Atmosfer ruang makan pun santai dan cair seperti acara keluarga kebanyakan. Renjun yang notabene hanya seorang pengurus rumah juga diajak menyantap masakan seorang walau dia sudah menolak.

"Nggak boleh nolak, Ren. Ayo makan sini, ambil piring." Jaemin memberi perintah sehingga mau tak mau Renjun mematuhi tanpa banyak bantah. Dia mengambil kursi di samping Nella, yang sangat antusias ingin berbagi cerita selama mereka tidak satu kantor bersama.

"Kak Renren ini perawat yang kerja satu ruangan sama aku, Pi. Sebelum aku nikah, kita berdua sampe dibilangin hospital couple karena sering nempel setiap kali pasien masuk buat dirawat."

Renjun mengangguk-ngangguk membenarkan, tangan lihai menyuap nasi ke mulut, membiarkan Nella menceritakan kisah mereka saat bekerja bersama.

"Ooh, tapi Edmund tahu kamu dibilangin gitu?" tanya Jeno.

"Tahu, Pi. Makanya gercep aku lamar dia biar satu rumah sakit tahu Nella deketnya sama aku." jawab Edmund membuat satu keluarga mengangguk paham. Suasana meja makan diiringi dentingan sendok, garpu, sumpit serta suara obrolan dan rengekan minta suapi dari para cucu. Renjun yang disuruh bergabung, lama kelamaan merasa hangat pada sikap dua keluarga dengan durasi saling kenal yang cukup lama sehingga rasa kekeluargaan mereka melebihi keluarga harmonis lainnya.

"Kamu kok mau sih Ren jadi caretaker mereka?"

Mulai. Bukan Geanie namanya kalau nggak asbun.

"Kebetulan aku kena burnout selama di rumah sakit, Mbak. Jadi pas ada lowongan buat jadi asisten rumah tangga sekaligus caretaker lansia, ya aku coba ngelamar."

Jaemin berusaha menahan ekspresi sesaat dibilang lansia, rada nggak terima aja sih. Soalnya sejak muda dia selalu olahraga dan makan makanan sehat, sampai sekarang dia tidak pernah dianggap berusia 65 tahun, selalu 40 atau 50an. Keriput nggak kelihatan, figur pun masih segar, bugar dan kekar.

Sama kayak Jeno, waktu Renjun sebut kata lansia, entah kenapa hati dia langsung nyess menghadapi kenyataan. Di umur kepala 6 ini, Jeno harusnya lebih banyak ibadah dibanding memikirkan cara membawa Renjun ke ranjang bersama Jaemin. Tapi, entah kenapa dia tetap merasa percaya diri bahwa performanya dalam menggoyang sampai anak orang teler pasti masih sama seperti di masa muda.

"Kalau mereka macam-macam, ludahin aja Ren." Geanie setia menjadi kompor meleduk. Renjun malah ketawa renyah, merdu mengalun lembut di telinga dua sekawan yang diam-diam memperhatikan anak-anak mereka berinteraksi dengan sang asisten. "atau suntik biar diam."

"Gen, kamu dendam apa gimana sama kami?" tanya Jaemin geleng-geleng kepala, "kemaren mau kami kena tsunami, sekarang suruh Renjun ludahin, memangnya Papi sama Om bakal ngapain Renjun sih?"

Geanie memicingkan mata, bagai menelisik manik kedua sekawan yang mendadak gelagapan, takut dibaca beneran. "Ya siapa tahu kalian rewel, namanya puber keenam, kita nggak tahu, yekan Yon?"

Sion mengangguk sebagai pembenaran. "Daripada nyusahin Renjun, mending ngurus satu sama lain aja nggak sih?"

"Sion mulutmu ngadi-ngadi ya!" tegur Jeno melotot lagi. Sayangnya, air muka pamannya lucu, jadi Sion malah tergelak.

"Loh, kita nggak menghakimi Papa sama Om Jeno loh ya kalau mau nikah beneran." kali ini Minji ikut-ikutan, sampai akhirnya dua sekawan pasrah kemudian memohon maaf ke Renjun supaya tidak terjadi kesalahpahaman terhadap omongan asal bunyi anak-anak mereka.

Respon Renjun hanya tersenyum maklum, padahal di rongga dada, terdapat gemuruh badai seolah mengharapkan Jaemin dan Jeno memang punya hubungan apa-apa selain teman. Sumpah. Renjun rela jadi penonton bila seandainya dikasih kesempatan buat melihat bagaimana para majikannya bercumbu di kamar. Jeno yang dimasukin? Atau Jaemin? Aaahh!! Huang Renjun hentikan pikiran jorokmu-

"Sekali lagi, Papa cuman berdiri sama Mama kamu."

"EWWWHHHHH!"

Renjun tersadar dari imajinasi fiktif dalam pikiran sesudah mendengar Jaemin memberi klarifikasi diiringi sahutan keseluruhan. Yah... nggak terwujud dong.

Mari sejenak kita biarkan dua keluarga serta Renjun makan siang dengan tenang selagi penulis mengatur alur selanjutnya.

.

.

.

***

"Ren, saya sama Jeno mau nginap semalam di tempat  anak-anak, nanti kamu jaga rumah ya." suatu hari tepatnya di sabtu cerah, Renjun mendapat perintah dari dua majikan gantengnya. Dia mengangguk-ngangguk patuh, bahkan menawarkan jasa antar.

"Mau saya antar jemput, Pak?"

"Nggak usah, Ren," imbuh Jeno menggeleng, "nanti supir mereka yang antar jemput, kamu istirahat aja kalau nggak ada kerjaan, misal mau keluar jalan juga nggak papa, asal rumah dikunci."

"Aman, Pak. Saya mungkin mau selesaikan episode drakor yang belum habis." Dua pria tertua di sana tersenyum menahan gemes, seandainya bisa cium, sudah Jeno sosor duluan bibir kenyal yang tidak pernah absen menari di pikiran. Mereka dijemput bersamaan, melambaikan tangan ke Renjun pertanda pamitan, tak lupa memberi pesan agar Renjun tidak perlu bekerja terlalu keras selama mereka tidak ada.

Hunian kosong memberikan Renjun kesempatan untuk melakukan yang dia inginkan. Berdiam diri dalam selimut, mematikan lampu kamar, kemudian menyalakan televisi yang menayangkan drama baru. Dia baru selesai pukul 3 pagi di hari minggu lalu tertidur hingga pukul 10 karena perut meronta kelaparan.

Sesudah memasak sarapan dan makan siang apabila Jeno dan Jaemin keburu datang, Renjun bersiap hendak membersihkan kolam renang. Sewaktu masih ada majikan, dia tetap berpakaian rapi seperti kaos lengan panjang serta celana traning agar kesopanan selalu terjaga. Sekarang, mumpung para pak tua itu tidak ada, Renjun memberanikan diri mengenakan celana dalam tali yang hanya menutupi kemaluan depan saja. Niatnya sih sekalian berenang, lama juga nggak menyelam selama tinggal sebulan di tempat kerja.

Pukul setengah 11 Jeno sudah tiba di rumah. Dia tidak menemukan batang hidung Renjun dimanapun sehingga ia mengedikkan bahu lalu melangkah ke ruang makan. Berbagai macam hidangan makan siang telah dipersiapkan, itu artinya Renjun menyelesaikan tugas harian terlebih dahulu sebelum pergi keluar. Sewaktu Jeno masuk ke kamar, yang dimana jendela besar di sana menghadap ke arah kolam renang, disaat itulah Jeno hampir kena serangan.

"Jesus Christ." gumam lelaki surai hitam sigap menyembunyikan badan di balik tirai. Pasalnya, dia takut penglihatannya bermasalah. Jeno mencoba mengucek-ngucek tetapi pemandangan pantat Renjun yang polosan diterpa sinar mentari pagi sedang bergoyang ke kanan kiri mengikuti gerakan sang pemilik. Rupanya pemuda itu mendengarkan musik pakai earphone, tak mengetahui ada seseorang mengintip di balik gorden tinggi.

Jeno menegak ludah, mengulurkan tangan ke selatan demi memperingatkan kelamin seorang agar tidak terbangun mendadak. Renjun tampak menyapu dedaunan di sekitar pinggir kolam, setia memunggungi, menggoyangkan pinggul seirama dentuman lagu di kuping.

"Fuck, I want that piece of arts, God." batinnya mengepalkan tangan di samping badan kemudian bergegas menelepon Jaemin agar segera pulang dan tidak melewatkan pemandangan erotis yang ia tonton sekarang. "Jaem, you should be back."

"Why?"

"Fuck!" teriakan Jeno di seberang telepon menyebabkan kening Jaemin berkerut seraya menjauhkan benda elektronik dari telinga. Seorin yang duduk di pangkuan terlihat penasaran kenapa kakeknya kayak orang kebingungan sesaat menerima panggilan. "Jaem, kalau kamu nggak mau ketinggalan, kamu harus pulang sekarang."

"Ya memang kenapa- YAK! LEE JENO!"

Jeno memutuskan sambungan secara sepihak, mata tidak lepas dari lekukan tubuh Renjun yang kini membalikkan badan sambil terus menyikat keramik pinggir kolam. Kalian mau tahu apa yang membuat Jeno mengumpat barusan? Karena Huang Renjun yang hanya mengenakan celana tali dengan penutup depan tidak seperti yang Jeno bayangkan.

Tidak mungkin laki-laki tak punya gundukan, mau sedang layu pun, celana tipis warna hitam itu pasti akan menggembung saking tidak muatnya menopang belalai gajah dan dua telur. Tapi Renjun tidak. Lelaki cantik itu tidak terlihat punya gundukan, atau bukit, atau sesuatu yang menyembul karena sempit dikurung celana. Renjun tidak seperti lelaki pada umumnya, dia adalah lelaki spesial, tidak memiliki kejantanan, tetapi kewanitaan.

Jaemin harus lihat. Dengan mata kepala dia sendiri.

"Apa?! Kenapa Jen?!"

"Ssshh! Jangan berisik nanti dia sadar kalau kita lihatin." Jeno menarik Jaemin agar masuk ke dalam tirai bersamanya, melanjutkan kegiatan mengintip Renjun bersih-bersih kolam dari tempat mereka berpijak sekarang.

"Holy shit-" rahang bawah Jaemin terjatuh sesuai gravitasi, mata bulat terbelalak tak percaya, tidak berniat mengedip sama sekali. Takut tiba-tiba pemandangannya berubah. "holy shit- dia.. dia he-fem?"

He-fem. Sebuah istilah baru di kota tempat Jaemin dan Jeno tinggal, dimana lelaki berkromosom Y memiliki kelainan kromosom X yang menghasilkan kelamin berlawanan kodrat. Renjun merupakan kasus ke-3 dari 10 laki-laki normal di kota mereka.

"Terus ngapain capek-capek kita belajar seks anal anjir, kalau ternyata dia punya pookie."

Jeno nampak menimang-nimang, "Bisa juga sih dipakai, kalau dia nggak keberatan." Jaemin menatapnya buat mencerna perkataan, sepersekian detik kemudian ia mengangguk setuju.

"Hmm, iya betul. Kita nggak tahu dia sukanya apa kan? Fucking hell, that ass though!" ia menjerit setelah menemukan Renjun berbalik kemudian membungkuk bak mengambil sesuatu di tanah. Kedua laki-laki birahi menggigit kepalan tangan masing-masing sambil memikirkan skenario-skenario fiktif di kepala tentang apa yang akan mereka lakukan dengan pantat seindah milik Renjun saat ini.

"Aku bersumpah, aku rela didudukin sama dia."

"Aku juga mau, kita gantian."

"Terus kita masukin bareng?" Jaemin refleks menggigit bibir seraya memejamkan mata ketika imajinasi Renjun dihimpit mereka berdua tengah menunggangi penis mereka bersamaan sambil merengek nyaring akan kepenuhan yang melonggarkan pookienya.

"Pasti perutnya langsung nyembul-"

"Kayak hamil."

Mereka tiba-tiba high five sekaligus cengengesan. Begitu keduanya menghadap ke jendela, sosok Renjun lenyap tak berbekas. Membuat mereka kebingungan, lanjut panik kenapa pemandangan mereka jadi kosong melompong.

"Pak Jaemin?! Pak Jeno?!" suara Renjun dalam rumah menyadarkan dua sekawan bahwa sang pengurus tahu mereka sudah pulang. Keduanya saling mengacir nyaris menubruk satu sama lain kemudian keluar dari kamar Jeno agar segera menjawab.

"Iya Ren!" sahut Jaemin duluan. Jeno merapikan kaos polo yang sempat berantakan, celana jeans dilonggarkan supaya tidak mencetak bentuk kemaluannya sekarang. Ntar ketahuan dong barusan berbuat mesum.

Renjun muncul dengan pakaian rapi pada umumnya. Menumbuhkan rasa kecewa di sanubari Jeno dan Jaemin lantaran tidak bisa melihat kembali sepotong kain yang hanya menutupi kewanitaan pengurus mereka. Lelaki surai pirang memiringkan kepala terhadap reaksi para majikan, berdeham menyadarkan lamunan.

"Sudah makan, Pak?"

"Belum, Ren." "Sudah, Ren." kedua sekawan berpandangan sebentar.

"O..kay, saya mau keluar dulu beli alat, makan siang sudah ada di meja, mungkin sekitar setengah jam saya baru kembali." Jeno dan Jaemin saling mengangguk cepat, di pipi mereka tampak jelas rona merah sedang bersemayam, menambah tanda tanya bergejolak di benak Renjun seorang. Tapi, dia nggak boleh ikut campur sih, siapa tahu majikannya habis melakukan apa gitu sebab keluar kamar bersamaan. Kira-kira yang dimasukin siapa ya? Jeno atau Jaemin? Renjun jadi kepanasan jika membayangkan mereka bercumbu diam-diam meski mengatakan mereka hanyalah teman.

Teman kan juga bisa ngasur ya? Renjun lemah sama cowok maskulin yang berhubungan badan, btw.

"Ren! Renn!" panggilan Jaemin membawa dia ke bumi lantaran sempat melamun menatapi majikan mereka dengan tatapan kosong. Jeno sendiri berusaha tidak salah dalam mengartikan ekspresi mupeng tersebut. Renjun tampak menarik napas cepat, lalu membungkukkan badan.

"Saya pergi dulu, Pak." ia melesat bagai roket luar angkasa seperti tidak ingin mendengar respon dua majikan.

"Mukanya kok mupeng banget ya?" Jeno kedengaran bertanya tanpa memutuskan tatapan pada gerak-gerik Renjun yang menjauh dari mereka.

"Apa jangan-jangan sebenarnya dia juga mau sama kita tapi kitanya nggak gerak-gerak?" balas Jaemin memikirkan ekspresi Renjun beberapa detik lalu, dan sudah pasti terngiang-ngiang di kepala. Mereka lagi-lagi terlibat adu tatap. Dua detik kemudian, seringaian lebar terpampang nyata di wajah tampan.

"You know what to do, right, Lee Jeno?"

Jeno terkekeh pelan, "Of course, kita nggak akan membiarkan kitten kita tidur nyenyak malam ini."

.

.

.

***

Oke, Renjun nggak bohong tetapi semenjak siang tadi, suasana rumah sesudah ia kembali dari agenda belanja alat pertukangan tiba-tiba berubah mistis. Bukan menyangkut tentang hantu atau dedemit sih, lebih ke dingin... membuat bulu kuduk berdiri, dan sesuatu lain ingin menonjolkan diri.

Jeno dan Jaemin tak tampak batang hidung mereka. Namun sajian makan siang telah habis menyisakan piring-piring bekas seperti biasa. Renjun mengira para majikan telah beristirahat atau nina bobo di kamar, sehingga ia membereskan sampai kinclong kemudian mulai memperbaiki wastafel di kamar mandi tamu yang sempat bocor.

Keheningan bukanlah satu kesatuan dengan rumah Jeno dan Jaemin saat mereka ada. Walau mereka tidak minta disupirin ke mana-mana, pasti suara mereka ada di bagian mana. Entah bunyi keyboard Jeno, bunyi televisi di kamar Jaemin, atau kalau memang sunyi, mereka tergeletak mengorok di peraduan masing-masing.

"Apa aku diprank ya?" Renjun cukup terkejut pada pertanyaan sendiri. Memutuskan untuk mengabaikan keadaan rumah, dan fokus menyelesaikan tugas harian sebelum berniat meloncat kembali ke kasur buat melanjutkan tidur sebentar.

Ketika malam tiba, Renjun tidak dapat menyepelekan aura di rumah.

Biasanya, Jeno maupun Jaemin sibuk dengan aktivitas mereka, entah berdua atau sendiri-sendiri, sambil menunggu panggilan Renjun perihal sajian makan malam. Kali ini, Renjun terpekik kecil mendapati Jeno sudah berdiri di belakang figurnya dengan jarak sejengkal tepat di sebelah kanan.

"Kenapa, Pak?" tanya si Cantik hati-hati. Tidak mau menoleh sembarangan, merasa Jeno seakan mengukungnya hingga ia bersentuhan dengan meja kompor.

"Nggak ada sih," Jeno menjawab, pelan, setengah berbisik, menggantungkan kalimat. Renjun nggak berani menarik napas, takut ketahuan betapa gugupnya ia sekarang. Belum lagi tangan Jeno bertengger di pinggang bagian kiri, meremas halus lalu mengulur nyaris dekat selangkangan. "cuman mau nanya masak apa."

"M-masak.. masak... pasta." balas Renjun menyumpahi pita suara yang terbata-bata. Kali ini jakun seorang bergerak naik turun saat Jeno dirasa bernapas terlalu dekat. Hidung mancung bak perosotan yang sering dibayangkan Renjun mengendus kewanitaannya, mendadak menempel di garis leher kanan. Renjun membeku, tiba-tiba menegang menanti gerak selanjutnya.

"Oh.." itu saja balasan Jeno sebelum pria lebih tua menarik pinggang Renjun agar merapat. Renjun menahan erangan pada perlakuan, mulai tidak tenang lantaran lowkey senang diperlakukan pakai kekuatan fisik Jeno sekarang.

"Pak, tunggu di luar aja-" napas sang asisten tercekat, membentuk partikel hembusan tipis seiring rambut tak kasat mata di leher melambai-lambai setiap kali Jeno bernapas di sana. "nanti kalo di sini, kompornya meledak."

Jeno tergelak, rendah, berat, serupa bass, mendebarkan jantung Renjun di rongga dada serta memecut daging rentan di balik labia. Ia menegak ludah kembali, tidak berani menoleh, takut tiba-tiba dicium sampai pingsan.

"Okay, saya tunggu." setelah Jeno berucap, dia tak langsung pergi begitu saja. Justru dia mengecup leher bagian kanan Renjun secara lembut baru sesudahnya berlalu. Renjun semakin mematung, membulatkan mata tak percaya seraya menyentuh bekas yang dikecup.

Jeno menyunggingkan senyum miring seiring dia meninggalkan Renjun dari dapur. Jaemin tak ketinggalan, pria surai cokelat itu mengarahkan fist bump ke Jeno saat ia berjalan berlawanan arah dengan sang kawan demi menggoda Renjun secara bergantian.

"Hei, Ren." suara berat Jaemin mengagetkan si asisten hingga pundak landai terlompat. Dia tergelak kecil, berdiri terlalu dekat di belakang Renjun sambil merapatkan tubuh mereka hingga Renjun lagi-lagi terjepit antara tubuh kekar majikan dan meja kompor di depan. "kaget ya? Maafin saya."

"Ng.. nggak Pak.. haha.." sedari awal kedatangan Jeno, dia nggak ada niat mau menatap mata mereka. Takut salah tingkah, terus berujung ciuman kan tidak profesional ya. Apalagi mereka orang tua, dengan usia hampir tiga kali lipat lebih tua dibanding Renjun seorang. Sudah seperti mengurus bapak sendiri, cuman bedanya di mata Renjun, bapak-bapak yang ini homo berkedok teman dekat. Rasanya takut mau menunjukkan ketertarikan bila di kepala selalu mencamkan bahwa dua majikannya memiliki hubungan spesial dan dia tidak mau ikut campur meskipun kalau ditawarin nontonin mereka di ranjang, Renjun duluan dari moto Yamaha yang semakin di depan jadi penonton VVIP.

"Masih lama masaknya?" tanya Jaemin lembut, setengah berbisik, tepat mengetuk gendang telinga Renjun. Lelaki surai pirang memegang spatula kuat-kuat, mencoba tabah dalam menghadapi ujian, godaan pria-pria kekar yang tengah mengganggu agenda masak.

"N-nanti saya panggil kalau sudah." Renjun menahan lenguhan saat Jaemin merayapkan tangan kanan tepat di pinggang, kalau Jeno tadi di kiri, jadi yang pertamanya bulu kuduk Renjun cuman berdiri di samping, kini secara keseluruhan melambai-lambai mencari sensasi.

Jaemin menggumam, getarannya sampai di leher kiri Renjun yang meremang, "Hmm.. harum."

Renjun menegak ludah, "I-iya Pak."

Pria lebih tua menempelkan hidung tepat di kulit leher, menghirup lamat-lamat, tidak mengacuhkan bagaimana rambut halus di sana merinding semeriwing terhadap perlakuan seorang, "Kamu juga.. wangi." pujinya memamerkan senyum geligi meski Renjun tidak akan melihat saking berusaha mempertahankan posisi.

"Errr.. saya sudah mandi, Pak."

"Hmm, gitu. Wangi banget." chup. Jaemin mendaratkan kecupan tepat pada bagian yang dia endus kemudian pergi berlalu begitu saja. Renjun tambah menggelinjang seluruh badan karena lehernya kena cium para majikan. Kenapa nih?! ADA APA NIH?! Lowkey agak takut tapi excited dikit ya. Kewanitaan dibalik celana kain hitam perlahan-lahan menjadi basah akibat keanehan tingkah laku para lansia tadi.

"Renjun, ingat mereka udah berumur! Kenapa kamu desperate gini pingin nunggangin sihh?!" batin moral berteriak kecil, tetapi sisi horny malah mengompori.

"Kalau mereka sudah kayak gitu, artinya mereka tertarik sama kamu. Ayo Ren nggak papa, balas aja, buktikan kalau kamu juga pingin digoyang sama mereka barengan."

"Tapi mereka kan udah kakek-"

"Kita nggak tahu kakek kayak mereka berdua sejago apa performanya di ranjang kalau belum coba, iya kan? Captain America aja 100 tahun masih kekar, apalagi mereka yang cuman manusia biasa."

Sebetulnya batin moral Renjun mau membantah tentang Captain America yang merupakan tokoh fiksi sementara Jeno dan Jaemin orang beneran. Tetapi sisi horny Renjun keburu melototkan mata (jika dia punya) supaya batin moral diam dan membiarkan Renjun memutuskan.

Makan malam siap, para majikan ia panggil untuk mendekat. Biasanya Renjun selalu makan setelah mereka, di dapur, atau bawa ke kamar. Kali ini sepertinya dia tidak akan dilepas begitu saja.

"Duduk sini, kita makan sama-sama."

"Tapi Pak-"

"Ren," Jeno bersuara memperingatkan, Renjun kembali mengingat kecupan di sebelah kanan lalu tanpa babibu langsung mengambil tempat. "nanti tolong siapin air hangat habis ini ya."

"Pak Jeno aja?"

"Buat kami berdua."

Meletus balon hijau, DOR! Kira-kira seperti itu deskripsi jantung Renjun sekarang setelah Jeno memberi perintah. Fantasi dia yang akan melihat pria-pria maskulin ini telanjang, saling menggoda, kemudian berujung entah siapa digoyang oleh siapa, kemungkinan akan terwujud sesudah makan malam. Tapi, dia nggak boleh terlalu berharap, siapa tahu mereka butuh privasi, hanya memperbolehkan Renjun mendengar geraman rendah, suara tamparan kulit secara kasar, dan membayangkan sendiri di balik pintu kamar mandi sambil mengocok jari di organ intim.

Ekspresi mupeng Renjun tidak terabaikan oleh kedua sekawan. Mereka semakin yakin, Renjun benar ada ketertarikan yang tidak mau diungkapkan. Jaemin dan Jeno melirik satu sama lain, berusaha menahan seringai, melanjutkan makan malam sesekali melempar diskusi ringan di antara mereka.

Makan malam seharusnya berlangsung cepat tetapi bagi Renjun serasa lamban. Dirinya mencoba memperlambat gerakan tangan menyuap pasta di hadapan, tetapi kedua pria di sana malah menontoni lekat-lekat. Kan grogi jadinya! Ia jua tersentak kecil begitu jempol kaki entah punya siapa, dirasa menggrayangi lubang celana kain lanjut meraba kulit betis nan mulus.

Renjun tergesa-gesa menelan sebelum tersedak. Dia otomatis bangkit dari tempat duduk kemudian membereskan alat makan tanpa meloloskan sepatah kata apapun. Sialan, suasana mereka saat ini terlalu canggung buat Renjun bergerak kayak biasa. Dia menjauh seraya membawa piring kotor ke wastafel pencucian tak lupa membungkuk sopan. 

"Tunggu di kamar mandiku." ujar Jaemin berdiri duluan setelah punggung Renjun lenyap. Jeno mengangguk, hendak bersiap-siap sendiri di kamarnya sambil menunggu Renjun menyiapkan air hangat di jacuzzi kamar Jaemin. 

Asisten muda itu mencoba tidak berpikir macam-macam, tapi gimana mau berprasangka baik kalau para majikannya datang pas-pasan dia sedang menyalakan kran di bak besar tersebut. Mereka sama-sama hanya mengenakan baju mandi mahal, menatap Renjun dengan banyak arti, sehingga lelaki cantik tersebut kikuk sendiri. 

Renjun terus menundukkan kepala, rupanya lantai lebih ganteng dari pahatan wajah dua majikannya. Jeno dan Jaemin mengukir senyum jahil saat menangkap gelagat ragu-ragu sang pengasuh. 

"S-sudah siap, Pak." 

"Makasih, Ren." ucap Jaemin melangkah mendekati diekori Jeno tak jauh. Renjun merasa kakinya dipaku pada keramik, manik berupaya menatap ke sana kemari asalkan tidak mengarah ke mereka yang telah bugil. 

Bunyi gemericik air sedikit mengagetkan Renjun, splash- splash- membuat dia menyeret langkah menuju pintu tertutup. Tidak sampai empat pijakan, sebentar lagi dia akan keluar, sebuah suara memanggil. 

"Ren." 

Renjun belum merespon tetapi langkah kaki terhenti separuh jalan. 

"Balik badan." nada rendah dari Jeno berhasil menaikkan bulu kuduk seorang. Renjun menuruti perintah sang Tuan. Perlahan-lahan membalikkan badan dengan kepala tetap tertunduk, mungkin mau mengheningkan cipta sekalian. 

'Terpujilah..' bukan. 

"Jangan nunduk," kali ini Jaemin menegur pakai intonasi sedikiiiit tajam, biar gemetar kecil-kecilan. Renjun terkesiap, hati-hati mengangkat kepala meski pandangan mata beralih kemana saja selain para majikan. "lihat kami." 

Mau tak mau, ada setitik rasa suka diperintah seperti saat ini, manik rubah menatap Jeno dan Jaemin bergantian, ya walau hanya sepersekian detik, tetapi cukup menggerakkan itil. 

"Kalau kami suruh buka baju, kamu mau nurut?" tanya Jeno lagi tanpa memutuskan pandangan. Renjun menegak ludah, jakun bergerak-gerak dikit, kemudian mengangguk sembari mulai melucuti pakaian formal yang ia kenakan. 

Setelan jas terjatuh tak etis, disusul kemeja satin berwarna putih menyisakan kanvas tidak ternodai lengkap dengan dada data serta puting mungil. Jaemin tidak sadar telah menjilat bibir, manik tidak pernah lepas dari pemandangan si cantik. 

Atasan sudah. Berlanjut ke bawahan. Di sini Renjun bersumpah dentuman jantungnya sudah mencapai tingkat tinggi, seakan sedang menabuh gendang telinga. Celana kain hitam diturunkan perlahan, memamerkan paha padat berdaging serta betis ramping yang jenjang untuk ukuran laki-laki. 

Jeno dan Jaemin semakin bersemangat, tapi hebatnya mereka menanti bagai anak baik-baik. Mereka ingin Renjun menyerahkan diri, bukan semerta-merta karena paksaan atau menuruti perintah yang tidak dikehendaki. 

Kala sang pengasuh tersisa sepotong kain berbentuk segitiga yang mengelilingi area selangkangan, telapak tangan Renjun telah siaga menutupi pelindung depan. Kaki-kaki saling bergesekkan, antara menahan malu dan dingin beda-beda tipis. 

"Um.. Pak?" 

"Kenapa ditutup?" Jaemin bertanya menyebabkan rona merah kini melingkupi permukaan kulit seputih tahu milik Renjun, bukan hanya di pipi tembem saja, melainkan sampai ke perut maupun dada. 

"M-malu, Pak." 

"Buka, Renjun." Jeno memerintah, "kita mau lihat semuanya." 

"T-tapi saya-" 

"No talkback, Kitten." julukan Jeno terlontar membuat Renjun makin mirip kepiting rebus. Kalau bisa ada visualisasi asap keluar dari dua telinganya, menahan gejolak ingin lari ke bak mandi lalu mengangkang minta dipenuhi titit. 

Renjun menarik napas panjang, dengan keraguan mendalam ia menggeser tangan ke samping badan, lalu menyelipkan jempol di tali celana hitam tersebut agar dapat diturunkan keseluruhan. 

Kedua sekawan sigap mengumpat dalam hati. Benar kan. Bukan belalai gajah dan bola kembar yang mereka harapkan dari Renjun, melainkan gundukan gembil yang terbelah menjadi dua berbentuk tirai kenyal dihiasi rambut-rambut kemaluan nan lebat di atasnya, nggak banyak kayak hutan rimba tetapi berhasil mengeraskan penis Jeno dan Jaemin bersamaan. 

"P-Pak.. saya.. harus apa?" Renjun berusaha tenang meskipun geliat-geliat macam kemasukkan cacing kremi di pantat. Jaemin memberi instruksi pakai jemari agar ia mendekat seraya menepuk pinggir bak. Renjun tetap mematuhi, berjalan anggun walau didasari rasa malu, kemudian duduk di tempat yang disuruh. 

"Coba gesekin punya kamu di pinggiran ini." 

"Huh?" Perut Renjun bergejolak, menatap kedua lelaki tua ini bergantian seolah mencari keyakinan atas perintah, mendapat anggukan. "saya? onani di sini?" 

"Iya," jawab Jeno menyamankan posisi hingga bersandar di dinding bak seraya menghadap Renjun. Sementara Jaemin di sisi seberangnya, mendapat pemandangan punggung berlekuk yang belum ternoda. "puasin diri kamu di sini, kami mau lihat." 

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana isi kepala manusia puber bekerja, apalagi yang keenam seperti majikannya sekarang. Renjun disuruh gesekin pookie di pinggir bathtub, terus apa? Sampai dia orgasme gitu? Namun, dalam lubuk hati terdalam, sisi horny Renjun memenangkan keputusan kala ia mencelupkan kaki kiri ke dalam air hangat supaya mendapat posisi nyaman saat menggesek kemaluan. Dua tangan berpegangan, lalu pelan-pelan mulai bergerak maju, mundur, sesekali menekan kewanitaan di permukaan keras tersebut. 

"Ngh.." Renjun refleks menggigit bibir terhadap sensasi yang ia terima, klitoris terus bercumbu pada pinggiran, seiring ia menggoyang sesuai irama yang dia suka. Kini manik rubah mengarah ke Jeno, agak membulat ketika menemukan Jeno menatap balik sambil mengocok kejantanan. Pupil mata sang majikan gelap diselingi hawa nafsu sehingga simpulan tali dalam perut bawah mulai hendak mengikat. 

"Ahh.. mmphh.." 

"Keluarin suaranya." ucap Jaemin dari arah belakang. Renjun membiarkan dirinya terbuai sejenak untuk mencapai klimaks pertama. Liang kemaluan berkedut meneteskan lendir hingga kedua pria lebih tua dapat melihat seberapa basah pinggiran bak sehabis dilecehkan Renjun seorang. 

"Ohh.. mmhh.. Pak.." erang Renjun mengangkat pinggul sebentar ketika lubangnya berkontraksi memuntahkan cairan. Jeno sontak meremas pangkal penis agar tidak ikut keluar sedangkan Jaemin sudah muncrat duluan mengotori air yang mengelilingi mereka. "haahh... haa.." 

Asisten cantik itu bergetar kecil usai mencapai orgasme pertama. Dia memandang Jeno dan Jaemin untuk melihat reaksi mereka pada porno gratis tersebut, dan lumayan kaget begitu mendapati Jaemin ikut klimaks bersamanya. 

"Lagi, Ren." 

"Huh? Bapak mau lagi?" 

"Iya." sahut Jeno mengulurkan lengan kiri ke arah Renjun, nampak licin akibat sabun mandi yang diusapkan terlalu banyak. "puasin diri kamu lagi pakai lengan saya." 

"Pak.." 

"No talking back, remember?" Jaemin memperingatkan. Renjun menarik napas panjang lalu menggeser bokong tepat di atas lengan bawah Jeno. Ia mendesis halus saat klitoris rentan bertemu kulit sang Tuan, kemudian mulai bergerak maju mundur menggosokkan daging penuh saraf beserta liang di lengan Jeno.

"Ah.. mmhh.." 

Jaemin bergeser mendekati figur yang sedang menunggangi lengan berurat kawannya. Telapak besar itu mendaratkan tepukan lembut di pantat padat, menyebabkan Renjun berhenti mendadak buat menoleh ke sumber kekagetan. Sang pelaku malah menyeringai, menepuk-nepuk sebelah kanan, meremas demi menyalurkan rasa gregetan kemudian menyuruh Renjun melanjutkan kegiatan. 

"Ohh.. P-Pak Jeno.." squelch- squlech- bunyi gesekan antara lengan penuh sabun dan liang penuh cairan mengalahkan deru napas Renjun yang bergerak. Simpulan di perut kembali menguat, liang berkedut manja seakan hendak melahap kulit lengan Jeno membuat lelaki lebih tua mengangkat ke atas agar dapat digesek kuat. 

"Deket Ren?" tanya Jeno menyengir lebar, Renjun mengangguk cepat seirama gesekan di selatan. Napas tersengal diselingi rengekan. "nggak sabar mau kencingin tangan saya?" 

"I-iya nghh.. mau Pak.." 

"Yaudah, keluarin. Keluarin yang banyak." 

Raut muka Renjun mengernyit sewaktu mencapai pelepasan kedua. Kali ini dia memancur berulang-ulang hingga menggigil bak orang kedinginan. "Unghh.." blob- seuntai lendir putih kebeningan meluncur turun ke lengan Jeno, lalu menetes di air bak. 

Keringat sebesar biji jagung membasahi sekitaran pelipis. Renjun menyisir rambut pirangnya ke belakang agar tidak menghalau pandangan. Betis jenjang dalam bak mandi perlahan mulai terasa kram dan jari-jari mengerucut sebab kelamaan direndam. 

"Gantian, Ren. Hadap saya sini." Jaemin menginstruksikan seraya berbalik ke tempat duduk semula buat menyandarkan punggung di dinding jacuzi mewah. Renjun mematuhi yang diperintahkan, berdiri dengan lutut sedikit bergoyang, lalu berbalik seiring mencelupkan kaki kanan ke air. Dia menanti dengan jantung berdebar-debar, tidak bisa menduga langkah sang majikan rambut cokelat setelah ia duduk menghadapi. 

Jaemin mengangkat kaki sendiri dan menumpu di atas pinggir bak. Menatap Renjun dengan kilatan jenaka serta lidah menjilat bibir bawah secara halus. "Pake kaki saya sekarang." 

"Haa?" si Cantik menatap kaki Jaemin dan pemiliknya bergantian. Ludah lagi-lagi ditegak lantaran tenggorokan mendadak kering. "pake kaki Bapak? Emang nggak papa?" 

"Jeno aja kamu kencingin, masa saya nggak?" 

Jeno di seberang dinding meloloskan tawa remeh, tidak melakukan apa-apa selain mengocok kejantanan dengan tempo tak menentu seraya menikmati tontonan porno gratis di depan mata.

"I-iya deh." Agak lain ya pikiran majikan dia ini. Daripada Renjun dilanda rasa bingung yang tidak menghasilkan jawaban, mending dia eksekusi perintah Jaemin sekarang. Dia bangkit sedikit untuk menempatkan pantat serta liang di betis Jaemin. Permukaan keras akan otot dan tulang bersamaan, rupanya memecut listrik nafsu di itil mungil. "mmhh." 

"Ayo, Ren. Gesek di kaki saya sekarang." 

Kaki Jaemin memang tidak berbulu banget tapi ada sensasi menggelitiki sekeliling kewanitaan kala Renjun mulai menggerakkan pinggul maju mundur. Jaemin membuai pakai kalimat kotor, memuji betapa cantiknya Renjun sedang menunggangi betis seorang seperti alat pemuas nafsu. 

"Enak Ren? Nunggangin kaki saya?" 

"Mmfff.. enak Pak.. nghh.. ohh."  Squelch.. squelch.. "Pak J-Jaemin.. mmhh.." 

"Resapi, Sayang. Biarkan itil kamu digosok kuat-kuat." rayu Jaemin menggunakan panggilan. Renjun merasa pandangan dia berkabut, tertutupi sama nafsu setelah dua kali disuruh keluar dengan atribut bermacam-macam. Dia melenguh seraya memejamkan mata, memegangi lutut Jaemin sebagai tumpuan tanpa menghentikan pinggul meliuk ke depan ke belakang. 

"Ouhh.. Pak.. huhu deket.. dikit lagi." 

"C'mon, Kitten. Cum for us." 

Renjun mendesah nyaring begitu klimaks ketiga datang membasuh alas duduknya. Pancuran sebanyak dua kali menyemprot deras disusul untaian lendir dari liang yang menganga. Pinggul bergetar kecil, merembet ke seluruh tubuh ramping. 

Selesai memanfaatkan betis Jaemin, Renjun tak kuasa menopang berat sendiri. Jeno menjadi orang pertama yang menangkap saat kelihatan limbung, lalu disuruh berlutut selagi dia dan Jaemin berdiri dengan gagahnya di hadapan Renjun. 

"Hisap." 

Sang asisten mengangguk. Manik rubah berkilat-kilat kagum, baru mengetahui ukuran para majikannya masih besar dan panjang walau sudah berumur. Keras pula, dan yang paling dia suka, harum pas diendus. 

"Hmm.." gumam Renjun melem melek sehabis mengendus burung. Dirinya makin basah di bawah sana, tetapi rela berlutut di atas keramik kasar demi menghisap penis jumbo di depan mata. "hmmm.." 

Biasanya kalau di porno threesome, jika ada dua laki-laki dikulum bersamaan, mereka akan berciuman panas. Ini Renjun tungguin daritadi sambil melirik ke majikannya, tiada tanda-tanda Jeno dan Jaemin akan berpagutan. Apa beneran mereka nggak homo ya? Tapi radar gay Renjun aktif aja kok. 

"Kitten." tegur Jeno karena Renjun malah pasang raut mupeng ke arah mereka tapi tidak menghentikan kocokan di kejantanan. "liatin apa hm?" 

Renjun menggeleng, "Ng-nggak, Pak.." 

"Kan disuruh hisap tadi, kenapa malah dimainin?" Jaemin mengukir senyum lebar ketika Jeno yang mengambil alih dominasi. Dia hanya berdiri menunggu Renjun memasukkan organ keras mereka, membiarkan Jeno menegur sang pengasuh. 

Pemuda surai pirang melaksanakan suruhan. Batang keras digenggam pakai dua tangan, dijilat bergantian. Jeno refleks mendesis sementara milik Jaemin keras bukan main. Renjun nampak antusias memberi jilatan lain, berputar-putar di puncak jamur, mencolek lubang kencing pakai ujung lidahnya. Genggaman turun ke pangkal, meremas pelan sembari langsung memasukkan dua. 

"Fuck." Jeno berusaha menahan umpatan dari tadi, tetapi melihat bagaimana bibir kenyal yang mereka taksir sejak awal kini membuka lebar buat melahap penis kedua-duanya, tak berhasil mengurung kata kasar dari pita suara seorang. 

Jaemin di samping, tampak kembang-kempis menontoni Renjun menghisap dua sekaligus. Air mata bersemayam di pelupuk si pengurus, entah palkon siapa yang berhasil menyodok tenggorokan hingga pemiliknya tersedak meneteskan liur. 

"Such a greedy kitten." ujar Jaemin menyisir helaian pirang nan basah akibat keringat. Glok- glok- glok..

"Ohok!" 

"Hm.. bagus Sayang, masukin lagi lebih dalam." suruhan Jaemin selalu diturutin sama Renjun. Dia kepalang kesenangan dipanggil Kitten, dipanggil Sayang, dipanggil apapun buat memuaskan tuan-tuannya. Mulut Renjun bekerja semaksimal mungkin. Kepala bergerak naik turun, menenggelamkan hidung tepat di rambut kemaluan Jeno atau Jaemin, seiring lidah menjilati sekujur batang serta mengenyor-ngenyot pelan. 

"Hebat juga heh," Jeno berdecak kagum menontoni kapasitas mulut Renjun melahap kejantanan mereka bersamaan. Padahal diameter mereka nggak main-main. Ukuran panjang lebih dari 15 centi seharusnya bisa menyebabkan Renjun mati kesedakan titit. Tapi jangan ya, baru juga mau dibuai di ranjang masa meninggal sih. "jago ngulum, nggak banyak batuk, berpengalaman Sayang?" 

Intonasi mengejek Jeno malah bikin Renjun becek di bawah sana, netra rubah memancarkan sorot tantangan, semakin berkeinginan membuat majikannya keluar membasahi wajah cantiknya dengan sperma. 

Slurrpp-- 

Spurt-- spurtt

"Fuck, fuckk- Renjun-ah." Jeno pada akhirnya menyerah dan melepaskan segala muatan yang ia tunda-tunda sebelumnya. Berbekal hisapan, jari lentik memijat zakar, habislah penisnya kagok memuntahkan cairan di mulut asisten cantik mereka. 

Jaemin menghentikan kepala Renjun agar dia tetap tahan lama. Plop- mulut pemuda itu terbuka dengan sirat muka keheranan, menjulurkan lidah sebagai unjuk pamer setelah melahap mani Jeno duluan. 

"Saya udah keluar pas kamu nunggangin pinggiran bathtub." jawab Jaemin cengengesan. Renjun mengangguk pelan, mengusap bibir menggunakan punggung tangan kemudian menatap mereka bergantian. 

"Oke, kita pindah ke kasur." Sebelum dia dapat mengutarakan pertanyaan, Jeno menggendong ala koala. Renjun hanya bisa pasrah padahal dalam hati pingin loncat-loncat lantaran senang diangkat ke sana kemari macam karung beras. Jaemin mencubit hidungnya gemes ketika menyadari raut suka yang ia perlihatkan. Menyebabkan si Cantik mengerang halus di gendongan Jeno sebab ketangkapan basah menyukai perlakuan. 

"Oh hoo, Kitten kita suka dibanting, Jen." 

Alis Jeno naik satu, "Oh ya?" ia beneran membanting Renjun ke kasur besar Jaemin. Saking empuknya, lelaki cantik itu hanya terpantul-pantul pelan sembari tergelak riang. Dua kaki segera dia buka buat dipamerkan, sesekali mencolek bagian liang yang becek berlebihan. 

"Please Pakk, Kitten nggak sabar~" rengeknya mengusap si itil nggak tahu malu. Kadang tirai kenyal dia buka, mengekspos lubang kemerahan, berkedut-kedut hendak diisi siapapun secepatnya. 

"Oh, bisa minta ternyata." 

Kedua sekawan mengambil posisi bergantian. Menyerang dari berbagai sisi, menggoda Renjun sampai menjerit keenakan. Lelaki surai pirang kewalahan mencium mereka bergantian. Saling menyusupkan lidah, saling meneteskan saliva, diselingi tangan-tangan kekar menggrayangi setiap inchi kulit putihnya. 

Jeno beradu di puting, Jaemin telah turun menjilat di pookie gembil. Pria-pria birahi di sana memanfaatkan bibir dan mulut pada peraduan masing-masing. Lidah Jaemin menelusuri kelentit sampai liang, mulut Jeno menarik, menghisap pentil kecokelatan. Renjun hanya terdengar desahan serta erangannya, jari-jemari menengger di kepala para majikan ketika mereka tidak berhenti membuatnya pening. 

"Ahh! Aaahh Pak! Mmmhh Kitten mau- anghh!"

Crott..

Semburan hangat membasuh wajah Jaemin yang belum sempat menghindar lantaran terlalu meresapi santapan di antara paha. Dia mengecupi paha dalam yang terasa kenyal, menggigit, mengulum, menciptakan bercak merah sebelum mengokop si pookie kembali. 

"Gantian, cuk." 

Jaemin berdecak, "Iya bawel." dua sekawan mengganti posisi, kali ini Renjun diajak ciuman sambil menikmati sensasi lidah Jeno menari-nari mengelilingi organ intim. Bekas lendir dijilat Jeno macam es krim, melumer di permukaan lidah, lalu tenggelam membenamkan wajah lebih dalam. 

"Pak Jaemin.. mmh." 

"Iya Sayang?" sahut Jaemin mematri cengiran sembari menatap manik rubah Renjun yang berkaca-kaca pada sensasi surga dunia mengalir cepat di peredaran darah. "enak mulutnya Jeno, Kitten?" 

Renjun mengangguk-ngangguk, kembali merasa perutnya bergejolak, lalu mengerang panjang saat rasa klimaks mengucur keluar. "Aahh.. nghh.. enak banget Pak Jeno, Pak Jaemin.." 

"Panggilnya Daddy dong, formal amat pake Pak." 

Jaemin sempat menendang kecil pundak Jeno yang tiba-tiba protes disaat asisten mereka kelelahan dikuras terus dari awal permainan. "Masih mending dia mau nurut sama kita, Lee Jeno." 

"Please Daddy Jeno.." Renjun berucap, membangkitkan nafsu membara, seperti bensin menyulut perapian hingga tak sadar menghasilkan kebakaran. "Daddy Jaemin.. please masukin Kitten." 

"Shit." Jeno dan Jaemin mengumpat bersamaan. 

"Kitten mau dimasukin bareng?" 

"Ah.. mau please.. Kitten udah lama pengen diewe sama Daddy Jeno sama Daddy Jaemin." rengek Renjun lagi dengan tubuh menggeliat ke kanan kiri. 

"Jen, jackpot nih kita." ujar Jaemin mendapat sahutan setuju dari Jeno. Kedua pria berbeda warna rambut itu langsung saja melanjutkan aksi, mencari posisi ternyaman untuk mereka bertiga khususnya Renjun yang akan dihimpit. 

Renjun berpasrah selagi diarahkan, isi otak sudah berkabut, yang dia lihat adalah Jaemin berhadapan dengannya, itu berarti Jeno yang mendekap dari belakang ketika punggungnya menempel pada dada bidang. 

"Daddy~" erang sang asisten pelan, Jeno menciumi sisi samping wajah ayu, meraih bibir Renjun, mengajaknya bertautan sementara Jaemin menyiapkan liang. "ummhh.." 

Schlok- schlok- schlok. Jari telunjuk dan tengah Jaemin terdengar mengocok saluran becek hingga bunyinya terpantul ke seluruh penjuru, Renjun menegang ketika itil dan g-spot sama-sama disentuh, mengerang memanggil nama mereka dirasa hendak meletus. 

Dor. 

Tapi bohong. 

Jaemin menghentikan kocokan digit karena tidak mau Renjun sensitif berlebihan. Dia menyemai lendir nan tumpah ruah menyelimuti ruas jari ke penis sendiri, kemudian menggosokkan palkon tepat di kelentit. 

"Jen, kamu duluan biar enak aku masuk dari sini." 

Jeno berhenti menggigiti leher Renjun, persis kayak nyamuk bila dilihat dari banyaknya bercak merah terhambur di sekitaran leher putih. Lelaki surai hitam mengangkat Renjun sedikit, menurunkan pinggul berlekuk itu menuju kejantanan agar melahap centi demi centi. 

"Oh!" Muka Renjun berkerut nikmat, dia merasa liangnya direnggangkan lebih lebar dari sekumpulan jemari yang biasa digunakan saat memuaskan diri seorang. Setitik air mata berkumpul di ujung kelopak, dijilat oleh Jaemin yang memperhatikan setiap tarikan wajah. "ngh! Penuh banget.. Daddy." 

"Ini baru Jeno, Kitten," Jaemin berbisik di bibir Renjun, menjilat garis bibir sang asisten sebelum menyusupkan indra pengecap untuk mengubrak-abrik rongga basah. "kita mau bikin kamu hamil." 

Renjun gemetar membayangkan perutnya menyembul karena dimasuki dua kemaluan. Menyebabkan liang semakin basah menyelimuti milik Jeno yang bersemayam. 

"Mau, Daddy. Kitten mau hamil." 

Jaemin nggak bisa sabar, apalagi Jeno yang dipijat-pijat terus. Dia memajukan pinggul, menyapukan puncak gendut pada pintu liang yang sudah tersumbat. Jaemin salah fokus sama kerutan belakang, mengedip-ngedip manja seakan menggoda Jaemin buat mendekat. 

"Kitten mau dianal?" 

"Aahh nanti, Daddy.." jawab Renjun setengah merengek, ia mengedutkan pookie, membuahkan geraman rendah Jeno yang mendekap. "mau Daddy Jaemin sekarang nghhh.." 

"Cepetin, Jaem. Sempit banget, cuk." meski terdengar protes sebenarnya Jeno suka dijepit kayak gini, dia sudah lupa rasanya mengeram dalam liang perempuan semenjak Giselle ketahuan menghotel bareng pria lain, sedikit dibumbui rasa trauma dan tiada keinginan berhubungan badan dengan orang. Tapi sama Renjun, Jeno langsung tertarik, mau belajar cara seks anal karena pertamanya mengira Renjun cowok tulen, mau belajar hal-hal yang bisa menyenangkan Renjun di ranjang, serta membuat sang asisten merasa disayang. 

Waduh. Deep banget yak. 

Jaemin menyelipkan dua digit terlebih dahulu supaya bisa masuk, begitu palkon telah menyangkut, disitulah Renjun menangis tersedu-sedu. 

"Hueeee sakiittt!!" kedua sekawan buru-buru menenangkan, Jaemin pakai jurus seribu tangan, mengucek itil biar rasa sakit teralihkan sedangkan Jeno memelintir puting kayak tombol mainan sesekali dipagut ganas. Renjun sedikit-sedikit menahan perih akibat renggangan, mulut terbuka untuk mengambil pasokan udara sekalian mengulum lidah Jeno yang bertamu sebagai penenang. 

"Masih sakit, Sayang?" tanya Jaemin mencoba menghentak satu centi. Renjun menggangguk, menggeleng, pokoknya bermacam-macam. Rasanya liang dia seperti dirobek jadi dua tapi nggak sampai ke perinium maupun pantat. Murni lebar ke atas karena Jaemin mengambil tempat di sana. "Daddy masukin lebih dalem, oke?" 

"B-bentar Daddy.." rintih pengasuh cantik itu mengulurkan tangan ke arah Jaemin agar mendekat. Rahang tegas sang majikan ia tangkup kemudian ditarik buat mempertemukan bibir mereka. "mmhhh.." 

"Good boy, Kitten." kali ini Jeno memuji tepat di telinga, mengulum cuping lunak lantaran membiarkan sahabatnya dan Renjun berciuman panas. "cantik banget Kitten-nya Daddies ini." 

Renjun mengerang tertahan, liang tak sadar ia ketatkan sehingga penis Jaemin masuk lebih dalam. "Oh shit, such a greedy pussy, Kitten." 

"He ungh.. greedy.. greedy pussy for Daddy." 

Jaemin menggeram halus, menghentak maju kuat-kuat, membuahkan desahan nikmat dari insan yang sudah menyatu duluan. Kedua pria kekar di ranjang perlahan-lahan memulai pergerakan. Terkadang Jeno duluan mundur, kemudian Jaemin menggenjot maju agar berlawanan. Renjun menjerit keenakan sesaat g-spot di balik dinding basah kini ditumbuk habis-habisan, karena digoyang bergantian, selaput sensitifnya tak pernah terabaikan. 

Plak- plak- plak

"Ah! Ah! Ahh!" desahan Renjun terdengar patah-patah selagi ia menunggangi dua kejantanan seperti yang pernah diimajinasikan. Perut gembil menimbulkan puncak gendut entah punya siapa tapi Jaemin semakin tegang ketika menyaksikan langsung. 

"Balik badanmu, Sayang, kasih liat ke Daddy Jeno." Dengan susah payah Renjun berhenti meloncat, lalu membalikkan badan ramping ke arah Jeno. Dia menumpu ke dada bidang, bergetar seluruh tubuh saat mereka beradu tatap. 

Renjun melanjutkan kerjaan yang sempat tertunda, memamerkan ke Jeno soal perut menyembul karena kehadiran benda pusaka di sana. Jaemin mengecupi pundak landai dari belakang, ikut menggenjot berlawanan arah sehingga Renjun tersedak dan mengucurkan cairan. 

"Ohh.. Daddyy.. Kitten bocor nghh.." 

"It's okay, Daddy juga deket kok," Jaemin menenangkan sementara Jeno mengiyakan jua. Pria lansia di ranjang memang sama-sama berada di ujung. Siap meluncurkan mani yang diolah dalam testis memggantung. Seiring Renjun mengerang seraya menaik-turunkan pinggul, Jeno dan Jaemin mendaratkan kecupan pada setiap kulit berpeluh demi mempercepat pelepasan. 

"Uhh! Daddy!" Renjun menjatuhkan rahang bawah kala dirinya dipenuhi banyak untaian kental. Jeno meredam desahan dengan menggigit sekitar areola lelaki di tengah, Jaemin menerpa tengkuk Renjun dengan hembusan napas hangat. 

Pemuda rambut pirang menggigil bak orang meriang, liang berkedut cepat sesuai diafragma dada mengambil oksigen sedangkan kelentit terasa disetrum listrik karena sering dimainkan. 

Setelah mereka selesai mengeluarkan mani yang tak seberapa di dalam Renjun, pemuda cantik itu memohon untuk berhenti terlebih dahulu sebab lelah kebanyakan klimaks. Mereka berbaring menghimpit Renjun di tengah ranjang, saling menempelkan kulit berpeluh, sama-sama tersengal mengatur napas. 

"Bentar, Pak. Saya capek banget." aw, sudah selesai roleplay-nya ternyata. Dia kembali formal seperti tidak pernah menjerit memanggil dirinya Kitten yang mau dibikin hamil sama para majikan. 

"Belum puas, Ren." erang Jeno merayapkan jari-jari kasar di permukaan kulit merona, Renjun sigap menangkap agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. 

"Iya kan masih ada hari-hari besok, Pak." rengeknya mengerucutkan bibir. 

"Serius?" kali ini Jaemin ikut bersuara, "kamu nggak akan resign sehabis kami genjot gini?" 

Renjun meloloskan gelak, masih ada sisa hembusan napas yang dia sedang atur supaya normal seraya menatap mereka bergantian. "Enggaklah, kenapa saya harus resign? Kan saya juga mau. Cuman saya kecewa aja sih, saya kira Pak Jeno sama Pak Jaemin sama-sama.. main." 

Kedua sekawan mengernyitkan kening dalam mencerna kalimat sang asisten, lalu Jeno tantrum duluan.

"HA? EMANG UDAH GILA YA KELUARGA INI?! ASBUNNYA NGADI-NGADI DAH!" Jaemin dan Renjun sontak tertawa mendengar kericuhan Jeno sehabis sang asisten mengaku tentang perasaannya, disusul Renjun menarik Jeno yang setengah bangkit saking hendak meluapkan emosi, ke dalam dekapan seorang sambil diusak-usak rambut cepak hitam nan legam biar tambah berantakan.

"Ya kan saya suka lihat cowok kekar ngewe, Pak."

"Kamu yang kita ewe, Ren, sampai nangis." ucap Jaemin di telinga kanan Renjun sementara Jeno memanfaatkan situasi terkini untuk menggoda lelaki lebih muda itu lagi.

Heran. Ini yang muda siapa tapi kok tenaga para lansia kayak nggak habis-habis ya? Beneran titisan Captain America dan Winter Soldier apa gimana? Renjun tidak lagi beraktivitas monoton sebagai pengasuh dua laki-laki berumur di rumah mereka karena ketambahan tugas baru, yaitu..

Menghadapi libido dua sekawan yang tidak pernah usai setelah memasuki pubertas keenam.

Untung nggak bisa hamil beneran, ya kan Ren?

.

.

.

"Tamat"