Chapter Text
Anaxagoras masih ingat betul awal mula Phainon menjadi terobsesi untuk mempunyai seorang adik. Masih segar dalam ingatannya betapa ini semua adalah salah Aglaea. Mungkin tidak sepenuhnya, sih, tapi tetap saja ada hubungannya dengan sang istri.
Itu adalah hari Sabtu terakhir di bulan Januari ketika Aglaea menerima tamu. Seorang pria dan dua anaknya yang kebetulan adalah kerabat jauh Aglaea, yakni Gopher Wood sang politikus dari negara sebelah, Sunday si balita, dan si bayi baru lahir bernama Robin. Datang menyambangi rumah mereka karena kebetulan ada pekerjaan di Okhema. Pria yang ramah dan berbudaya pun disertai putra yang penuh sopan santun, serta seorang putri mungil yang begitu manis nan menawan.
Dengan sorot penasaran, Phainon memandangi bayi dalam stroller.
“Adikku lucu, ya?” tanya Sunday sambil tersenyum ceria. “Namanya Robin seperti burung berkecet yang suaranya merdu.”
Phainon ber-“Wow!” ria.
Jarang mendapatkan tamu dengan umur sepantaran, Phainon bersuka cita dan mulai mengajak Sunday untuk melihat koleksi mainannya. Berusaha membangun pertemanan, walau hanya dalam waktu sekejap. Mungkin berharap bisa terus bermain bersama-sama. Bisa jadi dengan polosnya berpikir kalau Sunday dan keluarga akan tinggal dekat dengan keluarga Phainon.
Oh, betapa terkejutnya Phainon ketika Gopher Wood memanggil nama Sunday di tengah-tengah resital mini mereka.
“Ayo, Sunday, ucapkan salam dan terima kasih ke Bapak Anaxagoras dan Bu Aglaea,” kata Gopher Wood yang diikuti Sunday dengan sopan walau terlihat malu-malu, “Terima kasih sudah menjamu kedatangan kami, Bapak Anaxagoras dan Bu Aglaea. Terima kasih juga untuk Phainon yang mau menemani Sunday main.”
“Oh? Sudah mau pulang?” Aglaea menampilkan senyum ramah. “Menginap di sini semalam tidak apa-apa, lho. Ya kan, Sayang?”
Anaxagoras menggangguk sedikit. Agak jijik dengan cara sang istri memanggilnya di depan tamu. Tahu, sih, itu cuma cara agar orang lain tidak tahu seperti apa hubungan rumah tangga mereka yang sebenarnya, tapi kan tetap saja tidak bangetlah.
“Tidak apa-apa, Aglaea. Aku sudah memesan hotel di dekat bandara agar besok tidak terlambat.”
“Baiklah. Semoga perjalanan kalian bertiga besok lancar, ya.”
Anaxagoras tahu betul kalau senyuman Aglaea tidak asli dan hanya sebatas formalitas, tetapi ia tak mengomentari apapun karena tidak ingin berbasa-basi lebih lanjut. Pun masih mau menjaga martabat istrinya. Walau tak berminat, ia tetap perlu memerankan tokoh suami ideal di sisi Aglaea sang nyonya bangsawan Okhema.
‘Semakin mereka cepat pulang, hariku akan menjadi lebih tenang,’ pikir Anaxagoras, ‘Ini sudah lebih dari lima jam buat kami berpura-pura romantis. Melelahkan.’
Namun siapa sangka kepulangan Gopher Wood dan keluarga justru menjadi bumerang bagi Anaxagoras dan Aglaea karena mereka harus menghadapi Phainon yang tantrum parah.
“Kenapa Sunday diperbolehkan pulaaaaang?” Phainon menangis sambil berguling-guling di atas karpet ruang tamu. “Aku kan masih mau maiiiin!”
Anaxagoras menghela napas, sedangkan Aglaea berusaha menenangkan sang buah hati yang tidak mau berhenti menangis tersedu-sedu.
“Aku.. Aku mau teman main!” isak Phainon yang kini dalam gendongan sang mama. “Atau.. Atau Phainon mau adik juga biar bisa main bareng!”
Kedua orang tua langsung membatu. Tak pernah berpikir bahwa akan tiba hari di mana sang putra semata wayang meminta hal tertidak masuk akal yang tak seharusnya pernah ada. Begitu konyol, begitu gila.
Anaxagoras menggelengkan kepalanya. Tanda tidak menyetujui permintaan tersebut.
Apakah Phainon menerima hasilnya? Tentu saja tidak.
Tangis sang anak kecil menjadi lebih keras dari sebelumnya. Air mata mengalir lebih deras dari semua sungai yang ada di Okhema. Tangan dan kakinya bergerak frustasi dalam gendongan Aglaea. Nampaknya serentetan tantrum baru saja akan dimulai.
