Work Text:
tokyo sudah lumayan dingin minggu-minggu ini.
furuya rei ingat ada beberapa lagu yang sering diputar hiromitsu morofushi dan kadangkala ia juga mendengarnya kalau-kalau sedang ingin. seringnya ia membiarkannya bermain dengan tampilan kosong, beberapa kali ia hanya mendengarkan nadanya tanpa benar-benar memahami liriknya. bait yang padahal ia hapal betul di luar kepala, ia ingat itu dengan hatinya.
tempat tinggalnya ini sengaja ia susun tidak seperti tempat tinggal karena rumahnya tak ada di manapun. cukup ranjang bersih, meja kerja, dan meja makan yang jarang ia pakai karena ia tidak suka duduk di sana sendirian. dulu, belum demikian, waktu tempat ini masih sering dikunjungi. rei bahkan memasang satu terminal di ruang tengah kalau-kalau dia dan teman-temannya butuh ekstra listrik. terminal itu masih ada sekarang, tapi hampir tak pernah dia pakai. cukup ia biarkan di sana dan akan ikut ia lepaskan kalau nanti masa sewa tempat ini habis lalu dia siap meninggalkan dengan seluruh kenangannya. mencari suaka untuk menyakiti diri dengan cara lainnya.
selain kenangan yang ada di pojok ruangan, rei kadang-kadang sengaja cari penyakit. satu kali adalah ia tidur lama sekali dan ia bermimpi ia diajak mati. satu kali lainnya, ia mengangkat panggilan telepon dari shuuichi akai.
bentuk kepedihan yang diam-diam dia nikmati.
“furuya,” akai ada di seberang benua lainnya. tiap kali mendengar suara itu, rei selalu diam-diam ingin mencekik lehernya hingga ia tidak usah bersuara lagi. “furuya, sedang apa?”
ada banyak yang ia lakukan sekarang. ingin membunuhmu, salah satunya. ingin kamu bertanggung jawab atas kematian temanku, kegiatan lainnya. ingin makan jantungmu dan membiarkanmu tetap hidup supaya kamu paham perasaan itu, juga. banyak aktivitas dan sebagian besarnya melibatkan untuk menyakiti akai sekalipun semua itu hanya terjadi di kepalanya.
“baca buku,” rei menoleh ke arah pemutar musik yang menyala dalam volume bisu. lantang sekali musik itu. “ada apa?”
rei selalu bilang, apapun akan dia lakukan untuk bisa menyimpan apa yang tersisa dari hidupnya yang dulu. segala akan dia lakukan jika kepedihan itu membantunya mengingat.
membuat akai mendekat.
di apartemen sempit ini, rei pernah mengajak hiro untuk berdiskusi mengenai apa cara yang tepat untuk menyakiti orang tanpa senapan. membuat orang tersebut dengan senang hati memohon supaya dimatikan daripada disiksa menggunakan cara demikian.
hiro bilang, bercanda barangkali. tapi kata-kata itu tidak pernah pergi.
“mungkin membuatnya jatuh cinta, lalu nggak memberi perhatian yang cukup, terus meninggalkan dia begitu aja. tanpa penjelasan apa-apa.”
rei tertawa,
“romansa udah mati!”
“buatmu,” ujar hiro. “kamu terlalu pesimis.”
“buatku seks lebih efisien dipakai untuk menyakiti orang,” seloroh rei. “pernah terpikir menyakiti seseorang dalam kondisi senikmat-nikmatnya?”
“masokis,” hiro menjawab sambil terkekeh. “seks itu, ‘kan, melibatkan dirimu sendiri. memang kamu kira kamu nggak akan ikut sakit?”
kalau diingat lagi, hiro seratus persen benar waktu itu. variabel yang dia bicarakan masuk akal. tapi rei cuma pelancong tersesat yang enggan bicara cinta. baginya lebih mudah untuk mengurai supaya segalanya seminimal mungkin melibatkan perasaan. bahkan ketika rei diam-diam selalu merasa janggut milik hiro membuatnya jauh lebih menawan dibanding ketika mereka tidak ada.
“rei, sedingin apa tokyo sekarang?”
suara akai memang selalu demikian. berat dan dominan. tapi rei tidak pernah gentar—selain ketika furuya itu diganti rei.
terakhir kali akai memanggilnya demikian, mereka di atas ranjang. bergumul hebat sampai subuh sekalipun rei ingin mencekiknya ketika ia kelelahan pasca seks spektakuler yang membuat analnya kebas. rei selalu tidur lebih dulu dan ketika dia bangun, akai tak lagi ada di sampingnya.
ranjang itu tetap sesepi biasanya. dengan atau tidak adanya akai.
“bilang aja,” kata rei. kini ia berjalan menuju ranjang, duduk di sana sambil melepas celananya. “bilang aja sekarang.”
akai adalah bajingan kelas dunia. bahkan dari seberang benua pun rei bisa mendengar senyum dan tawa kecil sinisnya. seolah desperasi yang tadi lenyap saat rei akhirnya setuju sekalipun yang dia katakan cuma bilang aja.
“desah—”
“brengsek.”
“katamu, bilang aja,” kata akai. “itu, barusan kubilang. ayo desah.”
ragu-ragu, akhirnya rei menghela napas. mungkin ini sudah saatnya ia jadi gila sekalian.
“ahhh—akai.”
seks selalu lebih efisien dipakai untuk menyakiti orang.
di apartemennya yang begitu penuh jejak-jejak pilu yang tak pernah rei mau akui, rei menyentuh penisnya sendiri. memijatnya lembut selagi akai ikut mengerang di balik panggilan itu. ada kegiatan-kegiatan, yang sering ia lakukan, kala bising nada dari lagu kesukaan hiro tak sanggup meredamnya. ketika ia merindukan rasa sakit lebih lanjut. ketika ia ingin mengingat lebih jelas daripada biasanya.
suara shuuchi akai.
“boleh kusuruh?”
rei terdiam, lalu mengangguk. sekalipun akai tidak akan bisa melihatnya.
“iya.”
“masukan jari,” kata rei. “ke analmu—”
“nggak,” rei menjawab. “nggak. terlalu lama.”
“kamu nggak bisa orgasme pakai jarimu sendiri, ya?” suara akai membuat ereksi rei maksimal. “harus pakai jariku, ya? jari kecilmu itu bahkan nggak berguna dipakai untuk mengocok punya kamu sendiri, ‘kan, furuya rei?”
“fuck you.”
“no,” akai terkekeh. “fuck you.”
seks pertama kalinya dengan shuuchi akai begitu menempel di tubuhnya. rei sudah mandi puluhan kali sejak hari itu, tapi ada sentuhan di sekitar leher, di dekat jantung, dan di seluruh tempat yang disentuh akai yang masih bisa ia rasakan hingga sekarang. ia biarkan menetap di sana mungkin selama-lamanya. supaya ia selalu ingat.
“rei, kamu tahu,” suara akai memberat. rei bisa mendengar suara kecipak yang nyaring dari bagaimana laki-laki itu sedang mengocok penis basahnya. “kalau kamu ada di bawah kakiku sekarang, aku akan dengan senang hati jambak rambutmu yang pirang itu. kamu selalu jauh lebih cantik ketika kamu kesakitan, tapi tetap tidak menyerah mengulum penisku.”
rei mual pada bagaimana dirinya begitu terpengaruh pada kalimat itu. mungkin memang begitu cara kerjanya, makin sakit maka makin rei akan bertemu dengan kedamaian itu.
padahal tadi, niat awalnya, rei cuma mau membaca buku sambil mendengarkan lagu bisu. membayangkan hiro yang tengah menyanyikannya alih-alih pemilik lagu aslinya. sebelum akai tiba-tiba menelepon dan memintanya membayangkan kalau ia berada di bawahnya, melakukan sesuatu dengan birahinya, lalu segala rumpang itu berkumpul di puncak penisnya. kebencian itu masih sukar ia beri nama, tapi rei ikut terangsang dengan kenyataan kalau ia ingin juga mengulum penis akai dengan mulutnya dan berharap kenikmatan menyiksa laki-laki itu sampai mampus.
“aku sebentar lagi orgasme,” rei menahan napas saat mendengar kocokan tangan akai di penisnya begitu cepat. bentuk penis akai kini terbayang jelas di kepalanya, seolah begitu dekat dengan mulutnya. selagi adrenalin itu berada di puncaknya yang paling maksimal, rei juga mempercepat kocokannya di penisnya sendiri. “rei—ahh!”
rei ingin menelannya, tapi kata itu keluar lebih cepat dari otaknya, “akai!”
akai mengerang di ujung panggilan sana. orgasme menyapanya lebih cepat dan panggilan dari rei barusan menambah ekstra sensasinya.
beberapa kocokan setelahnya, rei menyusul. mengeluarkan spermanya membasahi tangan kanannya. lemas dan nikmat ia bawa rebah di ranjang, sementara ponselnya dia loadspeaker, ia letakkan tak jauh dari telinga kirinya. rei masih terengah-engah.
beberapa detik setelah kembali dari awan nomor sembilan, suara akai terdengar dari ujung sana.
“sedingin apa tokyo sekarang?”
rei tidak menjawabnya. sebab kini suara hiro kembali terdengar menyanyikan lagu yang sejak tadi ia putar dalam kondisi bisu. dan dingin yang mulai turun di luar dinding apartemennya menyusup masuk ke dalam melalui jendela.
ia tak bersuara, tapi jawaban itu ia sampaikan dalam hatinya.
dingin sekali.
sebab kehangatan tak pernah hadir sejak semua orang pergi.
---
tadi waktu terbang, suhu dari tempatnya berangkat mungkin sudah mencapai sepuluh derajat.
dari bandara, tanpa pikir panjang shuuichi akai langsung menuju ke salah satu apartemen di beika. lokasi yang akai sudah tahu jauh sebelum ia mengunjunginya untuk pertama kali dulu. tadi, sebelum naik ke lantai yang ia tuju, shuuichi akai mampir dulu ke minimarket, membeli dua pack penghangat, rokok, sekaleng kopi, pelincir, dan beberapa kotak kondom.
penerbangannya ini rahasia. ia cuma bilang ke jodie kalau dia punya urusan di jepang yang harus dia selesaikan dan mungkin dia akan berada di sini sampai akhir tahun. akai juga belum memberi tahu conan. bingung juga harus menjelaskan apa ke anak itu kalau alasan sebenernya dia berada di sini adalah keputusan impulsif yang diambilnya murni karena pertimbangan selangkangan (atau tidak hanya itu, barangkali).
waktu sampai di depan pintu apartemen yang sangat ia kenali itu, akai menekan belnya. beberapa kali sambil menahan dingin dan tetap masih tak ada respon.
“yo, brengsek.”
alih-alih dari dalam, suara itu muncul dari sampingnya. dengan wajah kemerahan—mungkin baru terpapar dingin—laki itu mendekat ke arah akai. rambut pirangnya yang khas ditutup topi. akai tersenyum. entah mengapa melihat rei berjalan pelan ke arahnya, membawa tas penuh dengan bahan makanan, membuat akai lega. ini tujuan utamanya tanpa pikir panjang membeli penerbangan paling cepat ke jepang, mencari alasan supaya ia bisa menetap di sini sampai akhir tahun—diam-diam berharap supaya bisa merayakan natal bersama seseorang yang paling menginginkannya tidak bahagia.
“kukira kamu udah mati.”
tanpa menggubris akai, rei melewatinya dan membuka pintu apartemennya sendiri. akai mengikutinya, tas besarnya ia letakkan di bahu sementara tangan kirinya ia pakai untuk menggeret koper. akai menggunakan tangannya untuk meraih tas belanja yang dibawa rei tapi tangannya ditepis.
begitu masuk, rei menyalakan penghangat dan langsung melangkah ke dapur. sementara akai sendiri duduk di ruang tengah, setelah menutup pintu.
akai menatap sekeliling. menurut shuuchi akai, tempat tinggal seseorang biasanya menggambarkan sang pemiliknya. tapi, apartemen ini, tampak seperti tidak dimiliki oleh siapapun. furnitur yang terbatas—bukan dalam artian minimalis—serta beberapa kardus yang tersusun rapi entah berisi apa, dan satu kardus yang lebih kecil berada agak di ujung, jauh dari yang lainnya. tempat ini tidak seperti furuya rei. seolah ada sesuatu yang sengaja rei ciptakan untuk membatasi dirinya sendiri dengan tempat ini.
“aku lapar!” akai berteriak ke arah dapur. “boleh minta makan?”
tak ada suara dari arah dapur, jadi akai memutuskan untuk membuka kaleng kopi yang tadi dibelinya di minimarket. mengambil rokok dan meletakannya di atas meja. baru ia akan meraih ponselnya untuk mengecek pesan, tiba-tiba langkah kaki terburu-buru datang ke arahnya. dan sejurus setelahnya, tanpa aba-aba, furuya rei mendorong tubuhnya ke lantai. satu tangannya mencekik leher akai, tapi sama sekali tanpa tenaga. dari bawah, akai bisa melihat tatapan rei yang hingga detik ini tidak pernah berhasil dia artikan.
alih-alih panik, akai justru menggunakan tangannya yang kosong untuk menyentuh pantat rei.
“kamu nggak bawa senjata,” rei berkata tanpa melepaskan tangannya di leher shuuichi akai. “akai.”
akai tersenyum miring, lalu mengangguk.
dengan gerakan cepat, dengan lemahnya serangan rei, akai langsung membalik posisi mereka. kini rei di bawahnya dan akai mengungkung tubuhnya. sekalipun posisi mereka kini tertukar, furuya rei tampak sama sekali tak gentar.
“kamu bisa cek tasku,” kata akai. “atau pegang seluruh badanku untuk memastikan aku nggak bawa apapun yang menyakiti kamu. mencekik aku seperti tadi nggak akan kasih kamu informasi apa-apa.”
“kalau kamu bawa senjata, ketika merasa terancam, kamu akan menyodorkan senjata itu ke aku,” rei menjawab sambil menatap lurus ke arah shuuchi akai di atasnya. “bisa menyingkir?”
“tokyo dingin.”
“kamu sudah tahu jawabannya.”
mata rei sebetulnya teduh dan menenangkan. tapi akai tahu mengapa untuknya mata itu selalu redup dan mengancam. setelah menghela napas, akai menjatuhkan badannya ke arah rei, lalu memeluknya dan mencium lehernya lembut. furuya rei tidak merespon apa-apa.
saat bangun, akai berkata,
“lain kali ucapkan selamat datang dengan benar.”
terakhir ke sini, akai dan rei bahkan tidak sempat saling menyapa. mereka cuma—bersetubuh. bersetubuh gila-gilaan. akai masih ingat rei menantangnya supaya tidak usah terlalu banyak foreplay. akai mengiyakan sekalipun ia tetap melumuri lubang rei dengan banyak-banyak pelincir. tak peduli seberapa menyebalkannya laki-laki ini, akai tidak ingin menyakitnya. setidaknya tidak dengan cara seperti ini.
“kamu betulan nggak waras, ya,” rei bangun sambil membetulkan kausnya. “terbang jauh-jauh ke jepang cuma untuk bersetubuh, memang nggak ada perempuan amerika yang bisa bikin kamu puas?”
“pasti ada, banyak,” ujar akai. ia menenggak kopi dari kalengnya, merasakan pahitnya sedikit menenangkannya. “tapi nggak ada satupun dari mereka yang—kamu.”
rei berdecak. sinis.
“jadi ke sini memang untuk bersetubuh?”
“kalau aku minta kamu telanjang sekarang kamu mau?”
furuya rei tampak terkejut, tapi laki-laki berambut pirang itu cepat menguasai diri. ia menyandarkan tubuhnya ke tembok sementara akai duduk di lantai. kembali dengan kopinya.
“barang-barang itu mau kamu apakan?”
kalau akai boleh seenaknya berasumsi, mungkin sebagian yang ada di sana adalah barang-barang milik hiromitsu morofushi yang tertinggal di apartemen ini. hanya satu kardus yang tampak tertutup rapi dan jika akai benar, mungkin sudah lama juga benda itu tidak dibuka lagi.
rei tidak menjawab. alih-alih, laki-laki itu melepas cardigan-nya, lalu celana panjangnya. akai hampir memarahinya karena tidak memakai satu lapis lagi celana ketika di luar begitu dingin—betulan langsung celana dalam—kalau rei tidak tiba-tiba duduk di sampingnya.
furuya rei. dengan matanya yang redup dan mengancam. sosoknya yang begitu dekat tapi lebih jauh dari yang terlihat. kini merangkak di sampingnya, cuma mengenakan celana dalam putih dan kaus panjang.
“kamu minta aku telanjang, ‘kan?”
akai tersenyum sinis, lalu meraih pipi rei dengan tangan kirinya. baru satu usapan dengan ibu jari, rei sudah menepisnya.
“kamu nggak cocok jadi penggoda,” akai menyentuh pipi itu lagi. rei terdiam kali ini. “kardus-kardus itu mau kam—”
furuya rei tak membiarkan shuuichi akai menyelesaikan kalimatnya. bibirnya menjemput bibir akai lalu melumatnya kasar. seolah mengumpat diam, diam, diam. bibir atas akai diesapnya seperti sedang mencaci maki laki-laki itu. merasakan dingin peremukaannya yang habis terpapar cuaca tokyo.
akai mengakui; ia sangat merindukan bibir ini. ia tak dicium saat masturbasi. sekalipun suara rei selalu cukup membuatnya orgasme, kulitnya selalu terasa kosong. lumatan rei di bibirnya juga turut mengisi dahaganya. memberinya nutrisi yang selalu akai inginkan. akai berharap ia tak terlalu tampak menikmati ini supaya rei tidak merasa bersalah.
akai tahu rei sedang menghindari pertanyaannya. laki-laki ini tak jauh berbeda dengannya untuk urusan kewarasan. tapi, karena terlalu lelah juga untuk protes, ia memutuskan untuk membalas ciuman itu. membawanya lebih dalam dan menggunakan lidahnya untuk meminta akses kepada rei supaya membuka mulut. sementara tangan akai kini mendarat nyaman di rahang rei, seolah memang di sana tempatnya yang seharusnya.
mereka berdua memejamkan mata. menikmati ciuman ini yang terasa begitu beracun, tapi di lain sisi, sangat memikat. bagaimana gerakan akai menuntut rei untuk menciumnya lebih dalam, terus, seolah mereka bisa lebih dekat dari ini. batasan yang buram tapi tak pernah bisa ditembusnya.
saat rei melepas ciumannya, laki-laki itu tampak terengah-engah. akai melirik ke bagian tengah selangkangannya. penisnya sudah setengah ereksi.
“aku belum mandi.”
rei menatapnya sayu, lalu menggigit bibirnya sendiri.
“ada handuk kering, di laci itu,” kata rei menujuk kamar mandinya. “aku tunggu.”
tanpa menunggu akai menjawab, rei sudah masuk menuju kamar tidurnya. sementara akai menghela napas. menatap pintu kamar yang terbuka itu dengan perasaan entah.
ketika mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, akai diam-diam berpikir semestinya tokyo belum sedingin ini.
---
akai tidak repot-repot memakai kaus saat ia menyelinap masuk ke kamar rei. cuma handuk yang ia lilitkan di setengah badannya dan tanpa berkata-kata ia langsung mencium rei yang duduk di sisi ranjang. melipat kaki dan menunggunya. ia masih tidak mengenakan celana, membuat sosoknya yang tampak rapuh itu membangkitkan sesuatu dalam diri akai—mungkin menghancurkannya akan sangat menyenangkan.
“tunggu—” rei mencuri bicara saat akai melepaskan ciumnya. “—aku cuma punya satu kotak kondom.”
akai punya. tapi untuk sekarang dia belum mau bilang.
“okay,” akai mendorong rei berbaring ke ranjang, melepaskan kaosnya. “itu urusan nanti.”
rei bilang demikian karena akai itu—agak gila. staminanya di atas rata-rata, bahkan jauh melampaui furuya rei yang juga dapat pelatihan raga yang sama di kepolisian. terakhir kali mereka berhubungan seks, rei nyaris pingsan andai saja akai tidak langsung orgasme dan memutuskan untuk istirahat. tapi, entah yang satu itu murni hawa nafsu atau ada emosi yang rei libatkan kerap kali ia disentuh laki-laki ini. sebab bersama akai segalanya selalu melelahkan.
saat akai meciumnya lagi, rei tiba-tiba berpikir untuk segera meninggalkan apartemen ini.
akai menindih rei sambil menciumnya, sebelum tarian bibir itu turun menuju leher rei. ciumannya yang kali ini seratus persen birahi. sebab akai bahkan tetap meninggalkan jejak-jejak kemerahan di sekitar sana sebelum ia berlanjut menuju dada rei. menghirup aroma dada kirinya, mengecupnya seolah ia sedang mengecup jantung furuya rei. gerakannya yang pelan menimbulkan friksi hingga handuk sebagai satu-satunya kain yang ia kenakan terlepas. rei bisa merasakan penis milik akai menggesek sekitar pahanya dan dia merinding.
sudah lama sejak terakhir kali analnya dimasuki. dia lupa kalau selain stamina, milik akai yang satu itu juga besar dan panjang di atas rata-rata. tiba-tiba kembali terngiang bagaimana benda itu menumbuk prostatnya terus menerus tanpa jeda saat mereka berhubungan seks untuk kali pertama. gila juga dulu dia menantang akai untuk masuk tanpa lubangnya lebih dulu dibasahi.
ingin turut berkontribusi, rei menjambak rambut akai yang masih setengah basah. ada aroma sampo yang persis seperti miliknya tercium dari sana. rei tiba-tiba bergidik pada kenyataan kalau laki-laki itu kini beraroma persis seperti dirinya.
seolah mereka berdua begitu sama. begitu sama sampai fakta itu terdengar mengerikan.
rei tidak mengerti mengapa segala hal soal akai selalu membuat setengah fungsi otaknya mati. seolah ada urusan lain yang menggerakkan keputusan-keputusannya, membuatnya terasa mustahil jika rei memikirkan itu dengan seratus persen logika. seolah perasaannya mengambil alih, seolah emosinya sepenuhnya berperan, seolah ada sesuatu di luar itu yang mendekatkan mereka. seperti harus akai dan jika tidak maka tidak akan terjadi.
kini akai mencium puting kanannya, sementara bagian kirinya diusap akai dengan ibu jari. dengan gerakan searah jarum jam, ia membiarkan rei menikmati itu seutuhnya. cumbuan dari mulutnya pun tidak ia hentikan. ia gunakan segala organ di dalam sana; lidahnya, termasuk juga melibatkan salivanya. akai mungkin gila, tapi ada manis yang terecap indra perasanya saat ia mengulum puting rei dengan tekun. menguar ke seluruh permukaan bibirnya. akai ketagihan. akai kecanduan.
furuya rei mendesis lirih. seolah takut kelemahannya diinterupsi. akai begitu khusyu mengulumnya, memberikannya rangsangan ekstra seolah ia bisa keluar basahnya sendiri dia diperlakukan demikian. hatinya terasa pedih kala tiba-tiba bayangan dan pertanyaan mungkinkah laki-laki ini membayangkan perempuan? muncul di kepalanya tak terkendali. tapi, tak sempat berpikir lebih jauh, segalanya buyar saat akai menyingkirkan tangannya dari dadanya, berpindah ke permukaan luar penisnya yang masih ditutupi celana dalam.
bersama akai, keintiman ini terasa amat sangat menyakitkan. rasa sakit yang mendekatkannya pada kenyataan berikut segala alasannya tetap hidup. rei ingin ia mencekik shuuichi akai atau memukuli wajahnya hingga ia memar dan berdarah alih-alih menjambak rambutnya supaya nikmat di dadanya bisa bertahan selama mungkin.
ada rindu yang tak bisa ia jelaskan. hingga remasan akai di penisnya terasa memabukkan. barangkali ia mengidamkan ini lebih lama daripada yang mau ia akui. keberadaan shuuchi akai adalah segala anti-tesis. untuk hidupnya yang dia kira utuh, untuk kesenangannya cari mati yang ia kira akan menyelamatkannya dari duka yang tak punya tempat pulang.
furuya rei tidak akan lupa.
saat akai akan merangkak ke bawah untuk menuju selangkangannya, rei meraih leher laki-laki itu. meminta kembali naik dan berhadapan dengan matanya. gelap mata itu membuat rei merasa didominasi, tapi nyalinya tak gentar.
karena furuya rei tidak akan lupa.
dalam kondisi masih melingkarkan kedua tangannya di leher shuuichi akai, rei bangkit untuk menciumnya. menyatukan bibir mereka dalam kesedihan yang tak bisa ia jelaskan. rei telanjang tapi andai akai tahu bahwa bersamanya, jiwanya juga sama terekspos. rei tidak ingin akai melihat itu. dalam seks via panggilan yang tiga hari lalu mereka lakukan, akai tidak tahu kalau rei merasakan hampa di sekujur tubuhnya. absennya akai membuat tubuhnya meradang, tapi di lain sisi, semakin menyatu mereka, lukanya terasa semakin menyakitkan.
mengapa kamu membiarkannya mati?
akai melepaskan ciumannya dan tanpa menatap rei, laki-laki itu berlutut untuk menuju penis rei yang sudah ereksi. pelan, ia buka celana dalam itu, untuk ia jemput penis rei menggunakan tangan kanannya. akai membuka paha rei, menciumnya sekilas, sebelum memegang penis kemerahan yang sudah mengeluarkan pre-cum itu, lalu mencoknya pelan. kali ini, akai menatap matanya. tajam dan dalam. seolah sedang mendesak rei, meminta akses ke dalam jiwanya, yang sudah lebih dulu ia tinggal di sana tanpa pernah akai sadari.
kenikmatan itu begitu cantik. amat cantik. hingga rei tak kuasa mengingat segala kesedihannya dan dia merasa bersalah pada kenangan yang selama ini dibawanya untuk menjaga kewarasan. besar genggam akai di penisnya yang memijatnya dengan lembut, dan kocokannya yang bertempo statis, rei mungkin akan orgasme detik ini juga kalau akai terus menatapnya dengan mata penuh desperasi itu.
mengapa kamu membiarkannya mati?
shuuchi akai mengocoknya makin cepat. kali ini sambil menciumi lututnya, pemukaan betisnya, dan bagian mana saja yang bisa tersentuh bibirnya. akai menciumnya seperti seorang pujangga yang mencari inspirasi untuk membuat trilogi puisi. sebanyak-banyaknya ia raih supaya diksinya lengkap.
shuuichi akai seolah sedang meraihnya. dan rei juga, tak mau lari.
“akai, ahhh!”
“enak?” kata-kata akai terdengar menggoda. “enak, furuya rei?”
enak sekali. enak sekali hingga kepalanya kosong. kocokan akai terasa begitu berbeda dengan miliknya sendiri. lebih yakin, lebih vulgar, lebih penuh nafsu.
“akai—aku … ahh!”
akai mempercepat kocokannya. membuat kenikmataan di penis rei mencapai levelnya yang maksimal. orgasme sudah sampai di punggungnya dan ketika akai mengangkat kaki kirinya, melingkarkannya di lehernya, lalu menambah lagi tempo kocokan itu sambil mencium kaki rei, batasnya lewat.
“akai, ahhh!”
rei orgasme. begitu hebat hingga badannya menggelinjang. akai masih memijat penisnya, memastikan spermanya tak tersisa.
saat rei sudah bisa mengatur napasnya, akai, menjatuhkan pipinya di betis rei yang berada di pundaknya, tersenyum dan menatapnya.
“ada lube?”
“tunggu sebentar,” rei bersuara lirih. “aku belum—”
akai mengangguk. ia masih menciumi kaki rei sementara tangan kirinya memijat penisnya sendiri. rei mengerjap saat melihat sendiri bentuk penis itu. ingat lagi kekhawatirannya yang tadi ketika benda itu masuk ke dalam tubuhnya.
“jangan minta penetrasi tanpa persiapan lagi,” akai berkata tanpa menghentikan kocokannya. “kamu bisa sakit.”
“bukan kamu, ‘kan, yang sakit?”
akai mungkin sinting karena menjadikan tubuh rei sebagai bahan masturbasi ketika dia bisa saja menggunakannya. tapi akai memilih menatapnya, memujanya, seperti dia adalah satu-satunya entitas indah yang tersisa. dan untuk alasan apapun, segala keindahan ini terasa begitu salah.
“tapi, kamu sakit,” akai mendesis. menggigit bibirnya supaya desahannya tak terlalu keras. “rei, aku—”
tidak diduga, rei bangkit, lalu memposisikan dirinya menuju selangkangan akai. dia ambil alih tangan akai dengan mulutnya. ia kecup puncak penis itu sebelum ia masukkan ke dalam, berusaha beradaptasi dengan panjangnya. akai, tanpa pikir panjang, turut serta memaju mundurkan pinggangnya, dan tangannya mengusap rambut rei sebelum menariknya lembut.
akai pakai mulut itu sebagai alat bantu seks paling menggiurkan di dunia.
rei tampak kewalahan menerima penisnya. tapi, pemandangan ini yang selalu dia idam-idamkan ketika mengocok penisnya sendiri di tengah dinginnya kota ketika mereka berbatas begitu jauh. wajah rei yang demikian menghantuinya sejelas cahaya dan ketika ia berkedip, maka yang muncul hanya gelap. membutakan. matanya tak bekerja sebagaimana mestinya.
sadar kalau ia hampir sampai, lekas-lekas akai mendorong rei untuk melepaskan penisnya. rei tampak bingung, tapi akai yang turun dari ranjang, lalu melangkah menuju lemari untuk mencari pelincir membuatnya paham.
“ada di laci nomor—iya, itu,” ujar rei. “kondom—”
“boleh nggak pakai?”
rei mengernyit.
“aku aman, aku berani sumpah,” akai tampak gusar. mungkin akibat orgasmenya ditunda tadi. “rei, please.”
rei tersenyum miring, lalu berkata, “kamu desperate sekali, ya?”
ini akibatnya memanfaatkan perasaan dengan tanpa pakai akal sehat. karena akai tak peduli pada kalimat itu. laki-laki itu kembali ke ranjang tanpa repot-repot membawa kondom. pelincir di tangannya ia tuang ke satu jarinya, sebelum ia membuka lagi paha rei, memastikan laki-laki itu memberi cukup akses yang dibutuhkannya.
“ahh …”
ada kesenangan yang asing saat menemukan lubang rei masih sesempit yang dia ingat. ada berapa orang yang pernah menyentuhnya selama dia pergi? pernah rei menyentuh dirinya sendiri? pernahkah—
“be careful,” kata rei di tengah-tengah gerakan tangan akai. “udah lama, ahh, akai!”
fakta kalau tak ada yang pernah menyentuh rei selain akai membuat akai semakin bersemangat membuka akses lubang anal milik furuya rei. menambah jumlah digit jemarinya menjadi dua supaya ia bisa menyentuh tempat-tempat yang dulu ia rindukan.
rei gemetar hebat. sensasi dingin dan lembutnya jari-jari akai membuat kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. lubangnya familiar dengan jari-jari akai seperti hatinya mengingat apa yang akai lakukan hingga rei menjadi seperti sekarang.
seluruh furuya rei mengingat seluruh shuuichi akai.
selamanya dia tidak akan lupa.
saat akai menambah lagi jumlah jarinya di lubang rei menjadi tiga, laki-laki itu memaju mundurkan jarinya. memastikan supaya rei siap untuk dimasuki.
“akai—hh,” rei menggigit bibirnya. lekas-lekas akai mencium bibir itu supaya rei tak usah menyakiti dirinya sendiri. “just put it in.”
ada seribu satu macam hal yang memeluk mereka berdua. ketika akai mengocok miliknya tepat di depan lubang rei sebelum mendorong penisnya itu masuk, rei merasakan tubuhnya begitu mudah terbiasa. rasa nikmat yang selama ini ia cari-cari. dua kali rei mencoba, menggunakan jarinya, menggunakan dildo mahal yang ia beli diam-diam karena malu, tak ada yang bisa menyaingi akai untuk urusan memberinya jenis perasaan yang seperti itu. sensasi perih yang hanya berlangsung beberapa detik buyar seutuhnya saat akai membuka lebar pahanya, lalu semakin mendorong penisnya masuk. rei nyaris menjerit karena tubuhnya begitu sensitif oleh stimulasi akai sejak tadi.
akai yang sedang berusaha memasukkan miliknya menambah lube di penisnya. rei menatap laki-laki yang kini berada di atasnya itu. akai. shuuchi akai. ada jutaan kata yang ingin ia sampaikan—mungkin kemarahan, mungkin kesedihan, mungkin hal-hal yang selama ini hanya bisa rei bagi pada dirinya sendiri. tiap kali ia mendengarkan lagu yang bisu, tak hanya wajah hiro yang muncul di kepalanya. lebih tebal dari kabut, akai juga ada di sana, lebih jelas dari ingatan yang mencekiknya hingga ia tak pernah terlelap.
rei ingin akai membunuhnya. atau apapun. apapun hingga seluruh yang ada di dadanya habis. tapi satu-satunya hal yang akai berikan hanya kenikmatan yang tak berujung. ketika miliknya mengisi penuh lubang rei, akai menatapnya dengan mata memuja. dan rei menemukan dirinya ingin menangis.
akai, akai—
“kamu,” akai mendorong penisnya masuk hingga tepat mengenai prostat rei. “kamu sempit sekali.”
kamu jahat sekali.
akai membuka lebar-lebar pahanya, melingkarkan kaki rei ke pinggangnya. sementara ia khusyu pada tiap gerakan pistonnya menumbuk titik yang sama yang ia hapal di luar kepala. rei membiarkan akai mengisi tak hanya lubangnya tapi juga seluruh tubuhnya, seluruh jiwanya, seluruh rasa sepi yang menghukumnya setiap pagi.
“rei,” akai menggenjot rei konstan. tiba-tiba, kedua tangannya ia gunakan untuk menarik tangan rei, membuat tumbuk kepala penisnya di prostat rei sampai ke bagian yang paling dalam. “rei, kamu bedebah paling cantik yang pernah aku setubuhi.”
pujian itu membuat kepalanya kosong. ketika akai sedikit mengangkat tubuhnya, mengejar nikmat buat mereka berdua.
akai sudah lama ingin mengajak rei bicara. untuk hal-hal yang barangkali hanya bisa mereka bagi berdua. sesuatu di mana hanya rei dan akai yang mengerti. kesedihan, duka, dan segala yang rei tolak bahas bersamanya. andai saja dia bisa mengerti, andai akai bisa memohon ampun, andai akai bisa menjelaskan tanpa membuat rei ingin menyakiti dirinya sendiri. akai gagal bahkan untuk sekadar jadi baik hati. yang ia lakukan adalah menyetubuhi orang yang sangat membencinya ini hingga ia mencapai nikmat hingga ke langit paling tinggi.
mungkin, itu cara akai memohon ampunan rei.
permintaan maaf yang ia sampaikan dalam tiap sodokan di prostat rei, tangannya yang tak melepaskan tangan rei, termasuk desahan rei yang ia artikan sebagai aku memaklumimu. seks adalah metode paling akurat untuk menyakiti manusia. karena tak ada orang yang mau mati dalam kondisi senikmat-nikmatnya.
buat rei, akai bersedia.
rei mendesah inkoheren. akai sudah berjanji untuk ingin membuatnya keenakan sampai tak bisa berbicara. jadi kini, ia tarik rei hingga posisinya memangku laki-laki itu tanpa mengeluarkan penisnya. akai menggenjot rei dari bawah sambil memeluknya dan rei menikmati setiap gerakan akai dengan pasrah.
akai mencium pipi rei, bergeser ke lehernya, lari ke telinganya. semua ia lakukan sambil mengerakkan penisnya keluar masuk. tekun. hangat. dalam.
penuh sayang.
ia membuat wajahnya dan wajah rei berhadapan. rei menolak menatapnya, tapi tak menghindar saat akai berusaha mencium bibirnya. ia lumat bibir itu selalu tetap menggenjot lubang analnya dan tangannya mengocok penis rei untuk menambah kenikmatannya.
“akai, akai, ahh, akaih—shuuchi, ahhh!”
akai merasa orgasmenya sudah semakin dekat pula. jadi ia percepat kocokannya di penis rei tanpa melepaskan ciumannya. gaya seperti ini mungkin akan menyakiti pinggangnya tapi kenikmatan yang kini ia rasakan begitu sepadan.
“akai ahh!”
rei keluar di tangannya, tersenggal beberapa kali, sebelum ambruk sepenuhnya ke tubuh akai. akai menggenjot rei sepuluh detik hingga ia menyusul sampai pada puncak kenikmatannya. mengeluarkan spermanya di dalam lubang rei. mengisinya hingga penuh.
hangat benih akai terasa hingga ke perutnya. akai memeluk rei semakin erat, seolah melarang sperma itu keluar dari tempatnya yang seharusnya. rei tak balas memeluknya, tapi kepala rei ia sandarkan di dadanya, ia biarkan laki-laki itu menikmati orgasmenya di sana.
akai ingin memberi tahu kalau jantungnya berdetak. dan semoga dengan hidup itu rei bisa memelihara dendam serta amarahnya lebih lama. untuk jenis rasa sakit apapun yang furuya rei pernah sumpah serapahi menyerangnya.
saat akai mengusap rambut rei, akai merasa dadanya basah. rei menekan kepalanya di dada itu, seolah ingin bersembunyi dari hantu di kepalanya sendiri. akai melingkarkan tangannya semakin rapat.
tapi ia sama sekali tidak bicara apa-apa.
---
hampir pukul sepuluh malam dan kini akai berdiri di belakang rei, sementara laki-laki itu menungging bepegangan pada sandaran ranjang.
ini ronde mereka yang ketiga, setelah tadi akai kembali memberi rei blowjob dan membuatnya menangis karena nikmat. sekarang, akai sibuk menggenjot rei dari belakang tubuhnya. satu tangan akai menarik tangan rei agar posisi mereka stabil, sementara satu tangannya melingkar di leher furuya rei. mencekiknya—lembut.
“akai, plese—” rei mendesah. merasakan besar dan panjang akai menumbuk prostatnya tanpa ampung. “please, please, ahhh!”
tidak diduga, akai menarik penisnya. rei yang merasa analnya kosong hendak protes sebelum tahu-tahu tangan besar akai menggendongnya. akai menempatkannya berdiri di tepi jendela kamarnya yang langsung menghadap ke lampu-lampu kota di luar. sekalipun jendela ini ditutup dan bertirai, hanya butuh sedikit sekali gerakan untuk membuatnya terbuka. rei dipaksa akai berpegangan di salah satu sisinya sebelum laki-laki itu menggenjot rei lagi.
temponya lebih berantakan kali ini. sengaja serampangan untuk mengejar nikmatnya sendiri. rei kelabakan. ngeri desahannya terlalu nyaring hingga tetangga apartemen bisa mendengarnya, tapi di satu sisi, keikmatan yang diberikan akai tidak semudah itu ditanggulangi. akai memberi prostatnya stimulasi yang paling maksimal.
“aku mau—” shuuchi akai bicara sambil memejamkan matanya. “lihat kamu.”
tanpa aba-aba, akai mengeluarkan penisnya dan membalik posisi rei. kini ia bisa melihat wajah rei yang merah dan poninya jatuh menutupi sebagian matanya. sambil memasukkan penisnya lagi, akai menyampingkan poni itu, mengaitkannya di belakang telinga rei. akai ingin melihat wajah orgasme rei sebaiknya-baiknya.
“aku mungkin udah nggak bisa kelua—ahhh… ahhh!” rei melingkarkan lengannya di leher akai saat akai mengangkat satu kakinya, menaruhnya di pinggangnya. “akai, fuck!”
akai sudah tidak peduli. ia kini kejar nikmatnya sendiri. rei yang sudah di ujung tanduk hanya bisa mendesah, tak sanggup berbahasa bahkan untuk memanggil akai.
akai orgasme lagi, yang kedua malam ini. dan rei menyusul tak lama setelah akai mengocok penisnya dan memijatnya pelan, dengan sedikit tumbukan di prostatnya. akai menikmati perjalanannya dari awan nomor sembilan, kali ini, sambil mencium rei. melumat bibirnya, mencumbunya, menyita sepi dari malam di langit tokyo yang tak segulita di tempat-tempat misinya.
akai ngeri akan bagaimana terbiasanya dia dengan tempat ini.
saat melepas ciumannya, rei sama sekali tak bertenaga. ia keluar empat kali malam ini, barangkali kelewat lelah. jadi, akai menarik penisnya, lalu ia menggendong rei menuju kamar mandinya. berniat membersihkan sisa-sisa pergumulan mereka sebelum mengantar rei pergi tidur.
satu-satunya handuk kering yang tersisa di situ sudah dipakai akai. mungkin akai akan mengambil satu dari tasnya yang ia bawa dari amerika. setelah memandikan rei.
---
ketika akan membaringkan furuya rei—setelah memandikannya dan mengganti baju serta celananya, juga mengenakan baju untuk dirinya sendiri—shuuchi akai baru sadar ada gitar di kamar ini.
gitar itu tidak tertutup, tapi tasnya berada tak jauh dari sana. mungkin sebelum akai datang rei baru memainkannya. akai jadi ingat pada keberadaan kardus-kardus yang ada di ruang tengah apartemen rei, dan penilaiannya kalau tempat ini sama sekali tidak seperti pemiliknya.
akai menarik pendapatnya. apartemen ini justru menggambarkan persis seperti furuya rei. dengan ornamen yang sederhana, tumpukan kardus, dan berpotong-potong kenangan di setiap sudutnya. kosongnya ruangan ini seolah sengaja dibuat agar pemiliknya selalu disorientasi. sambil menatap rei yang kini memejamkan mata di ranjangnya, akai menghela napas. apartemen ini sangat menggambarkan pemiliknya; menggambarkan seseorang yang sedang berduka.
akai duduk di lantai, tepat di samping ranjang rei. ia perhatikan lamat-lamat seseorang itu. orang ini alasannya terbang ke jepang tanpa pikir panjang, mengada-adakan alasan hanya sekadar selangkangan, ketika barangkali apa yang dia mau selalu lebih dari itu. hatinya pedih tapi hangat di saat yang sama.
berapa lama rei terganggu bahkan di dalam lelapnya?
akai memajukan tubuhnya, mengecup dahi rei, lama sekali. membisikkan permohonan maaf dalam bisu. segala ampunan, segala segala yang tak pernah akai punya nyalinya untuk katakan.
semoga membenciku bisa mendamaikan hatimu.
saat akai mengusaikan kecupan di keningnya, rei membuka matanya. tatapannya sayu, menunjukan kelelahannya.
“dingin,” katanya tiba-tiba. “pertanyaanmu waktu itu, tokyo sekarang dingin.”
akai mengangguk.
“aku mengerti,” jawab akai, sambil mengusap rambut rei. “pasti dingin sekali.”
tidak diduga, furuya rei menggeser posisi tubuhnya. memberikan cukup ruang untuk akai bisa tidur di ranjangnya.
“dingin,” kata rei. “kamu bisa pergi besok pagi.”
boleh aku kesepian di sini bersamamu selama-lamanya?
tapi, sebelum rei berubah pikiran, akai naik ke ranjang. berbaring di sebelah rei yang kini tidur membelakanginya. akai menatap langit-langit kamar rei. kosong. dan sepi sekali.
akai memutar tubuhnya, menghadap tubuh rei, lalu memeluknya. rei tak bereaksi.
“dingin.”
akai berbisik. rei tak menjawab apa-apa, tapi ia membiarkan pelukan akai mengantarkannya menuju lelap. dan kepala akai kini mendarat di ceruk lehernya, menikmati aroma yang mereka bagi hari itu.
tak lama hingga keduanya tertidur bersama. berbagi hangat yang mengambang di udara, ragu untuk ikut bergabung bersama mereka sebab kini satu-satunya yang punya hak untuk mengikat mereka hanya duka.
tokyo dingin sekali.
sebab kehangatan tak pernah hadir sejak semua orang pergi.
