Actions

Work Header

malam ini aku akan melakukan upacara pengutukan

Summary:

Karena tidak seperti cinta, waktu tidak mau menunggu. Namun seperti cinta, waktu menulis puisi soal kehadiran juga kehilangan.

Notes:

Halo! Tulisan ini hasil komisi untuk temanku, Bolu. Salahin dia aja ya ^___^.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Lewat malam-malam seperti malam ini

aku merengkuhnya di kedua lenganku.

aku menciuminya lagi dan lagi

di bawah langit yang tidak berujung.

 

Pablo Neruda.

25 DESEMBER 2017.

 

Puja membasuh hati Satoru di tengah gemerlap malam Natal. Hari ini adalah hari yang spesial, hari kekasihnya pulang ke dalam dekap. Satoru sudah menunggu sepuluh tahun. Sepuluh tahun Satoru menikam jantung karena patah hati; sepuluh tahun juga dia hampir mati. Namun malam ini kasihnya pulang seutuhnya. Satoru akan terima dia seutuhnya pula dan berlayar berdua menuju pulau-pulau di antah berantah. Waktu memang begitu lihai menyakiti, tetapi waktu yang dibingkai oleh cinta sejatinya abadi dikekang bunga-bunga hati.

Satoru Gojo tidak pernah lelah mendamba. Dalam pikirnya, hari ini memang akan datang. Sepuluh tahun yang lalu Satoru belajar bersahabat dengan waktu. Bagaimana waktu tidak pernah menunggu; bagaimana waktu lari jika dicengkram dan berhenti jika diingat. Satoru Gojo tahu semuanya soal waktu. Waktu tidak menebas duka, dia hanya mengecup luka yang disisakan duka. Waktu tidak membunuh cinta, dia menanam bunga di pekarangan hati. Karena tidak seperti cinta, waktu tidak mau menunggu. Namun seperti cinta, waktu menulis puisi soal kehadiran juga kehilangan.

Satoru Gojo tidak pernah lelah menerima. Dunia bisa berikan dia seribu masalah dan dia akan temukan seribu satu solusi. Karena beginilah poros takdir: dunia akan memberikanmu musibah, menusuk belati di jantung dan mencabutnya berkali-kali, menginjak-nginjak hatimu dan mempermainkannya seperti anak kecil memainkan miniatur kereta. Satoru sudah terima itu sepuluh tahun yang lalu. Segala yang dunia berikan akan dia tangkap dengan kebesaran hati dan dia lempar kembali dengan kesungguhan jiwa. Satoru tidak bisa benci dunia. Sebab di dunia yang bobrok seperti ini, bahkan yang terkuat pun hanya bisa menerima.

Jadi dilihatnya kembali tubuh sang kekasih. Suguru Geto seperti dihujani kedamaian malam itu. Cahaya langit malam Natal tidak seberapa, tetapi wajah Suguru terlihat agung dibingkai oleh sorot bulan sabit yang lembut. Sepuluh tahun berlalu dan Satoru tidak sampai hati untuk lupa bagaimana bulu mata Suguru menyentuh tulang pipinya kala ia terpejam. Sepuluh tahun berlalu dan Suguru masih sama indahnya. Meski kini dia penuh khianat dan kebencian, Satoru tahu itu semua berakar dari cinta. Suguru mungkin bukan yang terkuat tetapi cinta dan angan dia selalu lebih dalam dari apa yang Satoru milikki. Suguru mendambakan perubahan dan Satoru mendambakan Suguru. Karena begini ceritanya: kekuatan adalah tahta yang tidak pernah Satoru minta. Namun jika itu mengantarkan garis takdirnya pada Suguru, Satoru rela sematkan julukkan itu bahkan di batu nisan dia sekali pun.

Malam itu Satoru beribadah setelah sepuluh tahun menolak percaya Tuhan. Malam itu nama Suguru dia sebut di dalam bisik seolah sedang berbagi rahasia dengan yang maha tahu. Seolah nama Suguru tidak menyimpan rentetan manusia mati di belakangnya. Di bawah remang-remang cahaya bulan, Satoru kecup teman  satu-satunya yang dia punya. Rambutnya yang jatuh menutup wajah dikesampingkan guna melihat baik-baik wajah Suguru. Matanya masih terpejam. Tidak ada lesung pipi maupun kerutan di kening. Dalam diam, Suguru tampak bahagia. Satoru sudah tetapkan: malam ini dia akan melakukan upacara pengutukan.

Ritual itu berlangsung seperti bentuk pengakuan cinta. Pertama, Satoru cium ujung rambut Suguru; orang bilang, batang rambut adalah bagian tubuh yang paling tidak berdosa. Sebab dia tumbuh tanpa rasa takut. Dia dapat patah dan dibabat habis lalu tumbuh lebih lebat dan kuat. Satoru hirup wangi amis darah di rambut Suguru sambil berkata: aku memaafkanmu. Aku memaafkanmu . Upacara harus berlanjut. Kali ini dikecupnya tulang pipi Suguru. Ada kesedihan tersimpan di sana. Suguru yang dia tahu bukan penangis, sungguh; tapi sejatinya waktu begitu lihai menyakiti dan takdir begitu tega menginjak-nginjak hati yang penuh angan. Satoru kecup lembut luka melintang di tulang pipi Suguru seolah berkata: aku ada. Aku ada . Upacara tetap berlanjut. Kecup di kedua mata yang tertutup. Aku melihatmu. Aku ingin hapus jejak air matamu. Di kening. Aku selalu mendoakanmu. Kamu selalu agung di mataku. Lalu hidung. Separuh napasku itu kamu. Udara di paru-paruku itu tawamu.

Ritual itu berlangsung seperti bentuk pengakuan dosa. Satoru mengaitkan tangan mereka berdua. Buku-buku jari Suguru terasa berat dan dingin. Satoru selalu tahu kedua telapak Suguru menanggung berat dunia; tangannya yang membawa kutukan ke dalam tubuh, tangannya pula yang mengeluarkan kutukan dari tubuh. Namun itu semua tidak berarti lagi. Satoru cium punggung tangan Suguru seolah meminta maaf. Maaf aku tidak pernah berhenti cinta. Maaf aku mau kamu terus menghantui. Lalu turun ke pergelangan tangan Suguru. Kamu kuukir di garis nadiku saat kita berumur tujuh belas. Kamu bersamaku dan kamu tidak bersamaku. Sebab begini cara pendosa ucapkan cinta: dengan khidmat, seolah yang dicintai adalah pelukis langit saat senja. Dengan puja, karena yang tersayang ada di dalam dekap. Satoru cium dada Suguru yang tidak berdegup. Jantung adalah organ tubuh yang paling romantis. Pendosa yang berdetak tanpa izin. Satoru kecup jantung Suguru, mengisyaratkan taat. Apa yang seorang pendoa dapat lakukan ketika jantung pendosa yang terkasih tidak lagi berdetak?

Satoru hampir selesai melakukan ritual. Dia bersihkan darah di wajah dan tubuh Suguru. Si pendosa harus tetap suci dari noda, meski namanya gelap oleh jelaga. Satoru hampir selesai. Satu langkah lagi dan hatinya dipenuhi puja. Dia bersihkan dosa-dosa dari tubuh Suguru. Begini caranya: upacara pengutukan harus diakhiri dengan kecupan di bibir. Bagaimanapun juga, kecupan seorang kekasih itu sakral; Satoru akan memberi lagi napas yang Suguru telah curi dari dia sepanjang hidup. Ini adalah puisi cinta yang dibuat oleh waktu. Bentuknya seperti pekarangan bunga di musim semi. Sepuluh tahun lewat, Satoru masih ingat bunga kesukaan temannya: lavender, yang artinya ketaatan. Cocok untuk Suguru yang taat—pada aturan dan juga mimpi, pada sesama juga pada diri sendiri—cocok untuk pendoa yang hanya ingin melihat dunia tanpa dosa.

Malam ini Satoru sediakan buket bunga krisan kuning; duka yang mendalam . Sebab begini ceritanya: darah yang dibasuh dari Suguru itu tidak akan mengalir lagi di tubuhnya. Luka lecet di tulang pipinya tidak akan sembuh dan Satoru tidak akan bisa lagi lihat lesung pipi juga mata legam Suguru membentuk bulan sabit kecil. Malam ini sang pendoa mengecup si pendosa setelah sepuluh tahun berhenti memohon pada Tuhan. Kasih Tuhan jelas tidak jatuh di tempat mereka berdua sekarang; Dia sedang sibuk dirayakan pendoa-pendoa yang percaya. Kasih Tuhan jelas tidak jatuh di sudut dunia di mana pendoa dan pendosa mengisi duka satu sama lain. Tidak berarti Tuhan tidak tahu ampun; ini adalah bentuk ampun dari-Nya: tempat yang sunyi untuk meratap kehilangan. Di bawah cahaya remang-remang bulan sabit, Satoru Gojo mengecup sahabatnya untuk terakhir kali, menyelesaikan upacara pengutukan. Kecupannya berkata: aku cinta. Aku selalu cinta.

Notes:

Untuk kontak perihal komisi, bisa lihat Twitter aku: @lovelornsun. Aku harap kalian seneng baca ini karena aku sangat enjoy nulisnya. Terima kasih!