Work Text:
Ada sesuatu yang menggelikan di sekitar leher Nanami. Tanpa membuka matanya, Nanami bisa menebak apa dan siapa yang berada di antara bahu dan lehernya. Nanami akhirnya memilih membuka matanya untuk melihat seseorang yang akhir-akhir ini memutuskan menetap di pikirannya, di hatinya—tetapi Nanami tidak mau mengakui fakta tersebut—.
“Kukira kamu masih di Malaysia,” ujar Nanami. Nanami mulai mengedipkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa kantuknya. Terpampang tulisan ‘03:15 AM’ di jam digital yang ia letakkan di atas meja kecil sebelah kasurnya. Nanami menggelengkan kepalanya, Satoru dan kebiasaannya datang ke apartemennya tanpa diundang di larut malam. “Sudah makan?”
Sang pemilik surai putih tersebut, Gojo Satoru, menganggukkan kepalanya, “Cie, khawatir ya?” jawabnya dengan nada yang dimain-mainkan. Tangan kanannya yang ramping kemudian memegang tangan kiri Nanami—yang awalnya kaku tertiban kepala Satoru—ke rambutnya yang selalu tampak tak pernah disisir. “Garukin.” perintahnya dengan manja.
Nanami yang mendengarnya langsung berdecak. Walaupun dalam hati ia senang karena sejak membuka kelopak matanya, ia ingin menyentuh lelaki terkuat itu setelah tiga hari tidak bertemu. “Kamu ini. Manja.” Ia lalu mulai menyisir rambut halus itu dengan jemari-jemarinya. Di momen seperti ini, Nanami akan terus mempertanyakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa jari jemarinya yang kasar berhak memegang satu helai pun surai yang sangat halus bagaikan piyama silknya?
Satoru yang sedari tadi menenggelamkan wajahnya tertawa kecil. “Hanya untukmu.” Tangannya lanjut memeluk dada bidangnya. “Kangen. Aku belum balik ke apartemen sendiri, tau. Aku langsung mau ke apartemen kamu aja. Pengen meluk pangeranku, aw.”
Nanami menepuk pelan kepala Satoru, “Omonganmu menggelikan.”
Untuk kali ini, Satoru melepaskan kepalanya dari leher Nanami dan menunjukkan senyum sangat lebarnya yang menyebalkan sekaligus manis bagi penyihir berambut blond tersebut. “Gitu-gitu pasti senang dikangenin oleh seorang Gojo Satoru. Lagian, kamu kangen juga.”
Itu dia. Kepercayaan dirinya. Ia bahkan tidak bertanya, tetapi menyatakan Nanami Kento sudah pasti merindukan Gojo Satoru setelah tidak bertemu selama tiga hari. Ia benar. Nanami kangen dengannya. Jika saja Satoru tahu, Nanami selalu merindukannya, setiap hari, setiap menit, dan setiap detiknya. Bahkan, meskipun objek yang dirindukan sudah tepat di depan matanya, Nanami merindukannya. Apakah itu masuk akal? Entahlah.
Walau begitu, seorang Nanami tidak mau meninggikan ego Satoru dengan mengakui pernyataan tersebut. Ia memilih untuk menjawab, “Tidak. Kita hanya tiga hari tidak bertemu. Tidak usah gede rasa begitu.”
Satoru mendengar itu langsung melebarkan senyumnya. Kali ini, ia menunjukkan gigi-giginya. “Bohong. Gapapa, sih, kamu bohong. Aku tahu aslinya kamu kangen.” Ia lanjut menenggelamkan wajahnya ke leher Nanami.
Nanami tersenyum tipis. Entah teknik kutukan apa yang dipunyai Satoru yang bisa membaca Nanami dengan baik. Mungkin bukanlah teknik kutukan, tapi Nanami sendiri telah membuka pintu hatinya selebar-lebarnya hanya untuk Satoru. Mungkin, tidak seperti yang ia pikirkan, ia sangat mudah dibaca layaknya majalah remaja yang selalu dibaca Kugisaki. Nanami hanya bersyukur dia tidak butuh banyak kata untuk menumpahkan perasaannya ke Satoru. Satoru akan selalu mengerti dirinya.
-
“Bagaimana dengan Malaysia?”
Satoru yang awalnya sudah mengantuk, mendapatkan energinya kembali dan membuka mata indahnya yang sebiru batuan lazuardi. “Seru! Aku banyak coba makanannya. Nasi lemak, nasi kerabu…Nasi kerabu unik, sih. Nasinya warna biru gitu. Kok bisa ya? Tapi, enak sih. Sehabis makan langsung gak bisa jalan soalnya porsinya banyak banget buat satu orang doang. Terus, makanan pencuci mulutnya enak juga! Aku paling suka Ais Kacang. Maniiisss banget, soalnya pake kental manis sama es krim. Kesukaanku semua itu…”
Mulutnya tanpa henti melanjutkan menceritakan secara detail apa saja yang ia lakukan saat melakukan misinya di Malaysia. Kadang, Satoru tergelak saat menceritakan pertemuannya dengan kutukan-kutukan di Malaysia, “Nanamiii, kutukan-kutukannya seram banget daripada di Jepang. Tapi, ada yang imut juga. Bentukkannya anak kecil gitu. Botak kaya Gakuganji. Aku agak gak rela membunuh kutukan segemas itu.”
Nanami yang masih saja menggaruk lembut kepala penyihir tinggi itu menjawab tidak serius, “Kamu adopsi saja biar Megumi dan Tsumiki nambah adik.”
“Seorang Nanami Kento bercanda!?” Satoru ternganga. “Kamu bukan kutukan juga, kan?”
Tentu respon Satoru dijawab dengan sentilan di dahinya, “Terserah.”
Ledakkan tawa terdengar di kamar kecil Nanami. “Gitu doang ngambek.” Terdapat jeda beberapa detik sebelum Satoru membuka bibirnya lagi. “Sejujurnya, selama disitu aku keinget kamu. Malaysia itu tempat impianmu, kan?” Suatu pernyataan retoris akhirnya keluar dari Satoru.
Malaysia.
Mendengarkan satu kata itu sudah bisa membuat Nanami membayangkan ketenangan yang ia idam-idamkan sejak bekerja menjadi seorang budak korporat.
Malaysia.
Akan menyenangkan untuk menukar hidupnya sekarang yang hanya dipenuhi darah kutukan menjijikkan dengan terangnya sinar matahari di daerah Kuantan.
“Yah, Aku belum pernah kesana. Tapi, pantai di sana terlihat nyaman untuk ditinggali.”
“Kuantan, kan? Aku kesana. Pantai-pantai di sana indah. Sayang banget, lebih indah lagi kalau aku kesananya sama kamu, hehehe.” rengut Satoru sambil mengeratkan pelukannya ke Nanami.
Nanami membalas perlakuan manis pemuda itu dengan memindahkan tangannya yang sedari tadi di rambut Satoru ke pinggangnya. “Hmm, boleh kita kesana buat liburan bukan untuk kerja.”
“Aw, Nanamin mengajakku ke tempat impiannya? Cieee, sesuka itu ya sama aku?” Satoru memindahkan dagunya menjadi di atas dada Nanami. “Oke, serius. Jika semua ini selesai, bagaimana kita pindah ke Malaysia? Kita bisa berjemur tiap hari dan kamu bisa bikin roti sama kue buat aku tiap hari,” Satoru tertawa kecil. “Mimpi yang luar biasa, kan?”
Selesai? Nanami butuh Satoru untuk menjelaskannya lebih detail. Apa maksudnya dengan semua ini selesai? Apa yang ia maksud adalah saat mereka tidak diperlukan lagi di dunia Jujutsu? Nanami tidak pernah tahu kapan hidup di dunia jujutsu akan selesai. Apakah saat Yuuji-kun terbebas dari jeratan Sukuna? Atau saat para atasan Jujutsu akhirnya mulai membukakan mata bahwa Gojo Satoru hanyalah seorang manusia yang membutuhkan istirahat? Tapi, probabilitas untuk itu terjadi sangatlah kecil untuk terjadi.
Tetapi, membayangkan hidup di Kuantan bersama Satoru tidaklah buruk. Ia akan menunggu kapan pun itu.
-
Entah mengapa percakapan mereka yang berawal dari misi Satoru banting setir menjadi berimajinasi konsep rumah yang ingin mereka tempati di Malaysia.
“...Karena kamu mau jemuran di pantai, kita bangun rumah dekat pantai aja. Nanti, rumahnya harus gede sama mewah biar kelihatan pemiliknya orang kaya.” ujar Satoru seraya menatap mata Nanami.
Nanami tertawa. “Jangan gitu, Gojo. Sederhana, saja. Lebih enak dilihat juga.” Merupakan suatu keajaiban bagaimana Nanami, pria dengan selera yang sederhana, bisa bersama dengan seseorang yang berselera glamor.
Satoru merengut, tapi itu hanya sebentar saja karena ia langsung bahagia lagi saat mengeluarkan idenya, “...Kalau gitu, kebunnya harus luas di belakang rumah. Nanti bukannya ngerawat anak, kita ngerawat banyak tanaman. Tanamannya megah, bervariasi. Semuanya ada…”
“Hmm. Boleh. Aku pikir bunga anyelir merah gelap bagus buat kebun kita.”
Kebun kita.
Bahkan imajinasinya memiliki kebun bersama Satoru sudah membuat Nanami merasa hangat.
Satoru mengangguk antusias, “Cantik! Cantik! Semua bunga kita tanam dan rawat aja. Terus, kita bisa buka toko bunga.”
“Perabotan dan wangi-wangian kamu saja yang pilih. Seleramu bagus.”
Satoru mengubah posisinya, kepalanya sekarang menjadikan Nanami sebuah bantal, dan matanya menghadap plafon putih polos kamar Nanami. “Yes! Percaya sama aku, aku bisa buat rumahnya makin cantik!” responsnya sambil mengepalkan kedua tangannya layaknya sehabis memenangkan jackpot.
Nanami merasa pemandangan di depan matanya sangat lucu. Bagaimana ia melihat Satoru yang awalnya bisa tidur dalam sedetik, kembali mendapatkan energinya kembali saat berimajinasi masa depan mereka–yang tidak jelas akan terkabul atau tidak–.
“Tapi, nanti aku ikut bantu atur perabotannya harus diletakkan di mana. Aku tidak cukup percaya kamu bisa menata dengan baik.”
“Siap, Tuan!” ujar Satoru tanpa protes, sudah terlalu senang memikirkan desain-desain perabotan yang mau ia beli. “Gimana nanti meja makannya lebih panjang? Biar muat kalau anak-anak datang buat, hmm, makan atau main? Nobara, Yuuji, Megumi-chan, semuanya! Panda, Maki, Toge, Yuuta juga.”
Sifat Satoru yang satu ini selalu membuat Nanami kagum. Selalu ada afeksi yang terdengar setiap Satoru membicarakan murid-muridnya. Nanami tahu bagaimana Satoru sangat penuh perhatian dengan mereka. Selalu mencoba mencegah gelapnya dunia Jujutsu merebut masa muda mereka. Bahkan, berimajinasi masa depan saja, dia masih memikirkan murid-muridnya.
Nanami sangat menyayangi pria yang terkadang menyebalkan ini.
“Ide bagus. Tidak sekalian beli dua buat Ieri dan lainnya?” Canda Nanami.
“Benar juga. Tuh ‘kan, kita butuh rumah gede, tahu. Aku nggak bakal jatuh miskin, kok. Tenang.”
“Aku mengerti saking kayanya kamu, kamu selalu bingung menghabiskan ke mana saja. Tapi, rumah besar buat dua orang saja itu berlebihan. Lagian, bakal lebih susah untuk membersihkannya. Memangnya, kamu mau bersihin juga?”
Satoru merengut, “Ya tentu! Percayalah padaku, Nanamiinnn! Aku bakal jadi suami rumah tangga yang patuh. Memakaikanmu dasi, membersihkan tumpahan kopi atau wine yang ada di lantai, apapun itu!”
“Suami?”
“Ya, kan, kita sudah membicarakan tentang rumah masa depan kita jadi tentu saja kita akan segera menikah. Bener kan? Bener kan?" Balas Satoru dengan yakin layaknya itu adalah logika yang tak terbantahkan.
Nanami yang mendengarkan itu terkekeh, “Aku bahkan belum melamarmu, toh? Percaya diri sekali aku ingin kita menikah.”
“Ih, jangan bercanda seperti itu, dong! Tapi, kalau kamu memang mau melamarku–” Satoru menoleh untuk melihat Nanami. “Aku akan menerimamu. Kamu tahu, kan?”
Faktanya, Nanami tidak tahu itu. Ada rasa takut bahwa Satoru akan meninggalkannya yang menempel di tubuhnya. Rasa ketidakpercayaan dan ketakutan itu konsisten menjadi bayangan yang mengikuti Nanami di setiap jalan yang ia lalui. Lagi pula, dia hanyalah manusia biasa yang entah bagaimana mendapatkan seseorang yang seindah—lebih dari indah— Gojo Satoru. Jadi, keraguan dalam dirinya bisa dibenarkan, kan?
Oleh karena itu, ucapan Satoru tersebut baru saja menghaburkan semua keraguan dalam hatinya menjadi debu.
Nanami menatap balik mata birunya Satoru, “Dan bila kamu yang menanyaiku, kamu pasti sudah tahu jawabanku.” Respon itu dibalas dengan senyum tulus Satoru.
Apakah diperbolehkan melamar seseorang sekarang tanpa cincin, di detik ini, di jam 4 pagi? Nanami hanya ingin mereka bersama selamanya di Malaysia.
“Kita usahakan rumah itu ya, Kento?”
“Ya, kita usahakan rumah itu, Satoru.”
-
