Actions

Work Header

That connection can't be explained and knock us off

Work Text:

Mereka telah saling kenal hampir delapan belas tahun—praktis seumur hidup—dan tidak pernah sekalipun melewati batas tak terucap diantara hal-hal menyakitkan.

 

Edward baru saja melanggarnya. Batas itu.

 

Hal ini kemudian mengarahkan Edward untuk menghela napas paling letih dan menyedihkan seumur hidupnya, merasa sangat kacau di dalam diri. Dia bahkan membiarkan matahari menyengat kulit wajahnya hingga terasa cekit. Hanya beberapa menit setelah garis itu dilanggar, Edward langsung menyesal karena oh betapa bodohnya ia. Mengapa ia mengucapkan itu? Mengapa dia melemparkan kemarahannya pada Winry? Sekarang gadis itu tersakiti dan Edward menghancurkan jembatan penghubung di antara mereka menjadi puing-puing.

 

Bagus sekali, dasar tolol . Makinya kepada diri sendiri.

 

Dia bertanya-tanya apakah pernah ada sesuatu dalam hidupnya yang terasa benar atau tidak sial. Kepalanya mereka ulang kembali peristiwa yang mengawali segala sesuatu menjadi seperti saat ini. Kala itu Edward sedang dalam perjalanan menuju kelas yang berikutnya ketika segerombol murid laki-laki parlente dari jurusan keperwiraan tertawa padanya, yang tentu saja membuat laki-laki tersebut gusar.

 

 “Apa?” 

 

Si pirang yang rambutnya berjambul itu tergelak mengejek, “Seorang cacat rupanya harus disuapi oleh gadis kecil karena tidak punya ibu!” Sambil mengangkat ponsel, memperlihatkan gambar yang tampaknya telah di- crop dari foto yang diposting Winry.

 

Foto itu menunjukkan Edward kecil duduk di kursi roda, dengan wajah setengah cemberut, Den bersandar di kakinya yang tidak buntung, sementara tangan kecil Winry mengulurkan sendok kepada Edward.

 

Spontan saja ia marah, malu, terhina. Bogem mentah melayang dan menyebabkan perkelahian yang berubah menjadi pengeroyokan—tapi Edward tangguh, mampu melawan gerombolan itu sekaligus—memancing keributan serta perhatian, yang berakhir pada hukuman. Setelah itu dia ditahan bersama komplotan pengganggu itu seharian, diceramahi sampai telinga mereka panas, diberitahu bahwa orang tua mereka satu per satu dipanggil. Kepala Sekolah Bradley khususnya menguliahi Edward karena telah mematahkan hidung dan memelintir tangan Si-Pirang-Brengsek. Amarahnya terlalu mendidih untuk memperhatikan dengan benar kata-kata kepala sekolah, dan menahan untuk tidak menghancurkan seluruh gigi Si-Pirang-Brengsek sudah cukup sulit.

 

Dia mendengar hukumannya dijatuhkan: sepuluh hari penahanan, sebulan batasan tidak boleh keluar sekolah kecuali atas izin orang tua atau wali, nilai jelek pada perilaku (yang artinya sebelum semester berakhir Edward harus memikirkan cara memperbaikinya), dan seminggu bersih-bersih rumah kaca. Disebutkan bahwa dia telah melanggar aturan kekerasan tingkat B dengan menimbulkan cedera serius. Yang lain memiliki hukuman yang berbeda—rupanya lebih berat— karena melanggar aturan kekerasan tingkat B (pengeroyokan) dan aturan perundungan tingkat A. Satu-satunya hal baik adalah Edward tidak akan melihat wajah-wajah itu selain pada saat penahanan di perpustakaan.

 

Sulung Elric keluar dari kantor kepala sekolah dengan wajah paling masam yang bisa ia kelola, memalingkan wajah dari Mr. Mustang yang tersenyum licik, dan berjalan cukup jauh sebelum merogoh kantong untuk mengeluarkan ponsel yang sedari tadi bervibrasi. Perkelahian menghebohkan itu sudah berjam-jam yang lalu dan kini langit telah oranye, sehingga Edward berasumsi Alphonse memberitahu Winry (karena kejadian kali ini bukanlah kenakalannya yang biasa).

 

“Halo?”

 

Halo, Ed.

 

Edward lantas mengumpat dan memelototi layar gawai, merasa bodoh karena tidak mengecek nama si penelepon. Hohenheim adalah orang terakhir yang ingin dia ajak bicara pada saat-saat seperti ini, tidak peduli seberapa baik hubungan mereka telah terjalin. Laki-laki penyumbang sperma sebagai benih kehidupan seorang Edward Elric tersebut pasti telah mendengar detail buruk dari kepala sekolah.

 

“Sialan, apa yang kau inginkan?” Ia meludah dengan pahit.

 

Apa yang sebenarnya kamu lakukan Ed, meninju murid lain di wajah ?” Hohenheim menghela napas.

 

“Heh, memangnya apa yang kamu pedulikan?!” Edward menggeram.

 

Perseteruan bisa diselesaikan tanpa kekerasan, kau tahu? Jadilah sedikit dewasa, Ed.

 

Edward yang telah muak diceramahi sedari tadi, masih sambil menahan luapan murka yang menggelegak, iritasi parah karena penghinaan—sangat-sangat tidak perlu mendengar ocehan tambahan dari orang dewasa lainnya. Persetan dengan orang dewasa dan ceramah mereka tentang pengendalian diri, blablabla . Bagi Edward semua itu sangat tidak bermutu sekarang serta tidak akan mampu menarik kembali olokan yang telah terlontar.

 

( “Seorang cacat rupanya harus disuapi oleh gadis kecil karena dia tidak punya ibu!” )

 

Ed, kamu masih di sana? ” panggil Hohenheim.

 

“Ya, dan aku sangat tidak butuh ceramahmu sekarang!” desis Edward. “Memangnya apa hakmu menceramahiku? Persetan denganmu karena kaulah penyebabnya!”

 

Siapa penyebab dia tidak punya ibu? Tentu saja karena orang ini meninggalkan rumah.

 

“Mari kita bicara baik-baik, jangan mengutuk Ed.”

 

“Bicara baik-baik? Omong kosong!” Edward berteriak di telepon, “brengsek! sial, sial, sial, sial! Tinggalkan aku sendiri!” Ia serta merta menutup telepon dan memblokir nomor sang ayah. Dadanya terasa terbakar dengan kebencian lama yang terpendam—sebab alasan dia dan Alphonse tidak punya ibu lagi adalah gara-gara ayah mereka sendiri. Hohenheim tidak tahu apa-apa dan selalu menjadi figur ayah yang absen, beraninya dia?

 

Edward kembali ke kamar dengan luapan amarah di dada, membanting pintu dan berganti baju, sama sekali mengabaikan Alphonse yang tidak mendongak dari ponselnya sendiri. Menandakan bahwa Hohenheim kemungkinan besar telah menghubungi si bungsu segera setelah dia menutup telepon, hal ini justru kian menambah agitasi Edward. Dia kembali keluar sambil membanting kamar, berjalan tanpa arah ke halaman belakang asrama yang disorot cahaya matahari sore, sebelum akhirnya muak dengan vibrasi yang lagi-lagi mengganggu dari handphone di kantong.

 

Winry (18:11)

Hai Ed

Balas jika kau membaca pesanku

 

Edward (18:11)

Apa yang kamu inginkan Win

 

Winry (18:11)

Hanya ingin tahu apakah kamu baik2 saja

 

Edward (18:11)

Tidak ada gunanya bertanya

Aku baik2 saja, apalagi?

 

Winry (18:11)

Kamu yakin?

 

Edward (18:11)

Ya

Hidup memang kacau dan sial tapi aku baik2 saja

Sebaiknya tinggalkan aku sendiri

 

Winry (18:11)

Kamu bisa membicarakannya denganku jika kamu mau

 

Edward (18:11)

Aku tidak

 

Winry (18:11)

Aku hanya mencoba perhatian padamu tahu

 

Edward (18:12)

Oh benarkah?

Andai kamu tidak memposting foto itu di medsos, aku tidak akan dapat masalah ini sejak awal!

Sialan

 

Winry (18:12)

Apa-apaan?

Aku sudah minta izinmu dan Al, kalian mengizinkanku meng- upload -nya!

Bukan salahku kau mendapat masalah kali ini

 

Edward (18:12)

Setidaknya lain kali cek dengan betul detail lain di foto itu

Mereka bilang aku orang cacat yang harus disuapi olehmu karena aku tidak punya ibu

Gara-gara foto lain disitu!

Sial bukan?

 

Winry (18:12)

Sudah kuhapus. Selesai.

Aku hanya mencoba mengecek apakah kamu baik2 saja dan kamu malah melemparkan emosimu padaku

Yang benar saja!

 

Edward (18:13)

Fuck you Winry, bisakah kamu diam?!

Dengar ya, aku tidak pernah memintamu memperhatikanku atau apa, jadi sekarang enyah saja dan jangan bicara padaku. Oh bitch do you even know how to do that?!

 

Winry (18:13)

Well congrats Ed, I won’t bother you again

Fuck you too

 

[ Nomor ini telah memblokir Anda ]

 

Edward menganga pada tanggapan Winry namun amarahnya tidak reda. Dia berkedip-kedip, memastikan balasan terakhir gadis itu disertai rasa heran karena Winry merupakan pribadi yang sangat jarang mengumpat, apalagi mengetik kata-kata kasar. Hanya terjadi pada situasi yang sangat buruk. Dengan demikian, hal ini dikategorikan sebagai salah satu situasi tersebut.

 

Sulung Elric menghembuskan napas kasar, membaca bolak-balik pesan tersebut manakala perasaan gelisah perlahan-lahan membangun menggantikan amarah selama satu jam terakhir. Nun jauh disudut hati, Edward mengakui bahwa dia mungkin sudah kelewatan. Bagaimanapun juga, Winry hanya mencoba bersikap baik. Dan penghinaan yang ia alami bukan salah gadis itu.

 

Alphonse (18:16)

Kakak?

 

Edward (18:16)

Apa?

 

Alphonse (18:16)

Apa yang terjadi dengan Winry?

 

Edward (18:16)

Kenapa kau bertanya?

Winry bilang padamu?

 

Alphonse (18:16)

Bukan sesuatu yang kamu asumsikan, tapi

[ Alphonse mengirim foto 📸]

 

Di dalam tangkapan layar yang dikirimkan oleh Alphonse, Edward melihat bagaimana respon Winry ketika adiknya itu bertanya apakah dia tahu dimana sang kakak. Winry berkata: maaf Al, aku tidak ingin membicarakan Ed . Edward kemudian menilik lagi notifikasi pada dasar kolom chat -nya dengan Winry.

 

“Sial,” desisnya, “ I ruin everything .”

 

Dia kembali ke kamar dengan ekspresi paling lelah dari seorang pria gelandangan—jika bisa diibaratkan demikian.

 


 

Air mata gadis itu menyembur secara instan begitu membaca respon Edward. Hatinya seketika sakit dan remuk, hampir tak berbentuk. Dia menghabiskan waktu menangis dan menangis dalam kamarnya yang tertutup, sampai-sampai tenggorokannya serak dan kering seperti padang tandus—sepenuhnya melupakan pai apel yang baru jadi di meja makan. Winry hanya mencoba perhatian, lantas kenapa Edward harus bereaksi demikian?

 

Mereka sering bertengkar dan bertukar kata-kata kasar, namun tak sekalipun pernah seburuk ini. Edward dengan sengaja, bermaksud penuh, untuk menyakiti Winry dan dia berhasil. Rasanya amat menyakitkan .

 

Tatkala air mata tak lagi mengancam akan mengucur tanpa kendali, Winry turun dari lantai atas. Neneknya sedang menjenguk pasien di rumah sakit pusat kota sehingga rumah sepi, hanya ada Den yang tidur di sudut. Langit telah gelap, sementara pai apel dingin teronggok begitu saja di atas meja. Winry merasa hatinya kembali diinjak-injak; dia memanggang pai dengan harapan dapat mencerahkan suasana hati Edward yang buruk—Winry sangat menyadari fakta bahwa Edward tidak bisa memakan pai itu dari jarak jauh, tapi siapa tahu dia mungkin senang mengetahui gadis itu telah memasak pai untuknya?—namun hasil yang ada hanyalah kabar buruk. Ia memotong-motong pai tersebut, lalu membungkusnya ke dalam wadah makanan kertas, dan mulai membagikannya kepada tetangga.

 

Mereka berterima kasih, tak mengomentari mata Winry yang sembab, sehingga membuatnya tersenyum sedikit. Winry menyeret kakinya pulang dengan perasaan hampa yang menganga di dada. Entah mengapa otaknya justru memutar-mutar kenangan hampir delapan belas tahun masa perkenalannya dengan Edward, dari saat-saat paling gembira hingga paling menyedihkan. Satu per satu diputar ulang, hitam putih, laksana kaset tua yang rusak.

 

Saat mereka kecil, bermain di sungai dengan air jernih dan langit biru musim panas, ketika semuanya masih baik-baik saja.

 

Saat mereka berlarian dari hujan yang akan menjadi badai.

 

Saat mereka saling melempar argumen, bertengkar tanpa henti dan berisik.

 

Saat Edward memanggilnya Otak Roda Gigi dan Winry membalas ‘dasar Penggila Alkimia!’.

 

Saat lelaki itu pertama kali membawakan baju sebagai oleh-oleh untuk Winry, dan berkali-kali setelahnya.

 

Saat dia membelikan gantungan domba untuk meredam omelannya.

 

Saat mereka pergi ke pesta Russell, Winry menikmati cara Edward tertawa dan menempel di sisinya.

 

Saat Edward bosan dengan teks-teks alkimia dan mengganggu Winry yang tengah mengerjakan pesanan pelanggan.

 

Saat mereka berdekatan, nyaris menghapus jarak, dalam dansa lembut berbalut formalnya kemiliteran.

 

Saat dia berkedip lembut, mengkhawatirkannya dengan canggung usai insiden di pulau pasir putih, bahkan setelah nyata-nyatanya Edward memberi pelajaran pada pria kurang ajar itu.

 

Saat-saat mereka secara konstan bertukar pesan, tanpa henti, tanpa topik yang memiliki ujung, beralih dari satu ke hal yang lain.

 

Saat Edward tak pernah berpindah dari sisinya ketika kedua orang tuanya meninggal, pemakaman silih berganti.

 

Atau saat Winry mengepang rambutnya ketika Edward di kursi roda, memegangi tangannya sambil belajar berjalan lagi dengan tambahan kaki automail .

 

Garis rahang yang tegas, rambut keemasan, mata amber yang membara, senyum jenaka…

 

Andaikata Winry tidak tahu lebih baik, dia akan berpikir semua itu aneh. Aneh merasa penuh perasaan dan hampa sekaligus karena teringat kembali memori masa lampau. Aneh, ini hanya Edward. Mereka telah berkelahi berkali-kali. Kecuali kali ini rasanya jauh lebih pahit.

 

Karena ternyata Winry jatuh cinta padanya.

 

Dihantam oleh kesadaran tersebut, pelupuk mata Winry segera dipenuhi bulir-bulir air mata. Berguguran seperti hujan yang menyiram bumi tak berhenti. Tiada bisa dihentikan, tidak peduli berapa kali gadis itu menyapu wajahnya, sebelum akhirnya isak tangis pecah dan Winry merunduk kala meratapi lara hati. Oh betapa menyakitkan.

 

Aku jatuh cinta padanya .

 

Aku jatuh cinta padanya, untuk waktu yang sangat lama. Kenapa aku malah menyadari ini sekarang?

 

Makanya rasa sakit itu terasa berkali lipat, karena bumbu cinta romansa merubah hatinya menjadi lebih rentan. Winry menangis dan menangis, di bawah lampu jalan berwarna kuning dan bintang-bintang yang mengabu dalam sendu.

 


 

Dua hari selanjutnya dilewati Edward bagai zombie .

 

Dia tidak ingat apa yang dia makan, wajahnya kuyu sepanjang waktu, gelisah nan merasa bersalah. Sepanjang waktu dia habiskan untuk tidur, apabila dia bangun hanya wajah masam yang ia tunjukkan kepada manusia lain—bahkan kepada dirinya sendiri. Edward menghindari segala bentuk interaksi dan sesekali menatap nanar ponselnya sendiri, dengan takut mencoba menelpon Winry yang berujung nihil.

 

Alphonse bertanya sekali dan Edward menjawab singkat bahwa dia telah mengacau. Itu saja.

 

Kemudian senin datang dan Edward harus memulai sesi hukumannya. Dia telah membersihkan rumah kaca pagi ini, memungut setiap sampah organik dalam jarak jangkauan lengan, berbicara dengan tukang kebun dan menatap kesal daun layu—seakan barang organik tersebut telah menyinggungnya. Perasaan bersalah terus berputar-putar dalam perut Edward seperti tornado, hingga pada suatu titik dia yakin asam lambungnya akan terdorong keluar. Dia juga mengacuhkan Alphonse dan teman-teman yang lain, enggan dibombardir pertanyaan apapun yang mungkin telah bersarang di otak mereka. Edward tidak akan bercerita apa-apa.

 

Dia lagi-lagi teringat penghinaan tersebut (“ Seorang cacat rupanya harus disuapi oleh gadis kecil karena dia tidak punya ibu! ”) dan kata-katanya yang sangat kejam terhadap Winry tatkala Ling dengan sengaja menekan tombol emosinya, yang mana menyebabkan Edward hampir menggorok leher pemuda Xing tersebut. Lan Fan bahkan membeku melihat tingkat keasaman di wajah Edward.

 

Winry telah memblokirnya dari segala bentuk komunikasi secara instan; chat , media sosial, nomor telepon. Yang tersisa hanyalah cara kuno seperti berkirim surat (pasti akan spontan dibuang gadis itu ke bak sampah) dan datang ke hadapannya langsung—opsi terakhir hampir membuat Edward mual. Dia tidak punya keberanian menatap ekspresi terluka Winry. Teman baiknya .

 

Kepalanya sangat pusing sejak bangun tidur. Yang sesungguhnya ingin dia lakukan adalah kembali ke kamar dan menutup mata, tidur sampai lupa waktu; alih-alih duduk di perpustakaan dengan wajah-wajah pengganggu yang sesekali mendesis seperti ular. Edward hanya ingin kedamaian, jadi dia duduk di meja yang sama dengan Ms. Hawkeye karena eksistensi mengintimidasi guru tersebut mampu membuat makhluk lain menjauh. Kendati mata orang-orang itu masih tertuju padanya—atau mungkin kakinya yang buntung—yang telah menjadi objek penghinaan mereka tempo hari.

 

Edward hampir ingin meringkuk di atas meja, menyerah pada sakit kepala yang menyiksa, tatkala seseorang menyentil bahunya. Dia punya firasat siapa namun Edward enggan berbalik, merasa muak dan mual secara bersamaan karena pikirannya seperti penuh asap jelaga. Ms. Hawkeye bagaimanapun memperhatikan hal ini dan mendongak. “Kelihatannya Mister Yao punya urusan denganmu,” kata guru tersebut.

 

“Aku tidak punya urusan dengannya.” Edward membela diri. Dia tidak memanggil Ling untuk datang, oke? Sudah cukup keonaran.

 

Netra coklat Hawkeye berkilat di balik kacamata, berkedip dua kali sebelum menatap Ling dan berkata: “Hanya sebentar Ling Yao.” Artinya Ling punya waktu lima menit untuk menjejali Edward dengan omong kosong apapun yang dia rencanakan.

 

Pemuda itu menarik Edward dari meja, sedikit bersembunyi di balik rak buku, sembari mengeluarkan coca cola dan sebungkus chips dari ranselnya lalu menyerahkannya pada Edward. Sulung Elric menyipit dengan mata merah dan penglihatan sedikit berkunang-kunang, “Apa ini? Aku tidak bisa memilikinya di perpustakaan, tolol.”

 

“Aku tahu,” Ling memutar mata setengah hati, “tapi aturan tidak pernah menghalangimu sebelumnya.”

 

“Kali ini aku harus mematuhi mereka, kalau-kalau kau tidak tahu .” ujar Edward sinis.

 

“Kau sangat kacau. Berwajah kecut kepada semua orang dan tidak memegang telponmu. Sesuatu terjadi dengan Winry, ya?”

 

“Apa urusanmu?”

 

Ling tidak terganggu dengan perangai Edward, malah meletakkan tangan di bahu temannya itu dan mengubah ekspresinya ke mode serius. Jika Edward tidak tahu lebih baik, dia kira Ling hanya akan mengerjainya lagi seperti biasa, yang mana membuat lelaki itu menjadi sangat tidak mood . “Apa bisa diperbaiki?”

 

Jujur saja, Edward terkejut tapi juga tidak. Mengetahui Ling berkata demikian, berarti Alphonse telah menyebarkan berita bahwa sesuatu terjadi antara dia dan Winry. Edward mengangkat bahu dan bersandar ke belakang dengan lesu, “Entahlah.”

 

Pemuda Xing di depannya itu hanya menepuk bahu Edward dan berujar, “Kamu akan memperbaikinya, Edward. Kamu jenius , kamu akan temukan jalan. Jangan putus asa seperti itu.”

 

Edward menepis tangan Ling dan mengangkat satu alis dalam keheranan, “Kenapa, sih, jadi ikut campur urusanku begini?”

 

“Eits! Bukan ikut campur,” elak Ling. “Interferensi diperlukan dalam rangka berinvestasi untuk kebahagiaanmu.”

 

“Apa-apaan itu? Menjijikkan.” Dia hampir saja tertawa.

 

Tapi Ling hanya tersenyum bodoh, “Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga kawan!” Dia kemudian melambai pada Ms. Hawkeye dan melemparkan kiss bye , “Terimakasih atas kemurahan hatimu, Miss Hawkeye yang cantik~!”

 

Ms. Hawkeye bahkan tidak berkedut sedangkan Edward hampir muntah. Sulung Elric kembali merosot ke tempat duduk semua, meringis ketika chips yang diberikan Ling berbunyi renyah di dalam kantong celana seragamnya. Edward yakin suara itu membuat seluruh perhatian tertuju padanya, sungguh sial.

 

Setelah kepergian Ling, pikiran Edward kembali dipenuhi asap abu-abu, dia tidak tahu bagaimana menjernihkan otaknya sendiri. Nalar berotasi seputar Winry; satu-satunya hal solid, eksistensi yang konstan, tak pernah tergoyah atau bergeser di sepanjang hidupnya selain saudaranya sendiri, Alphonse. Bagaimana jika hubungan mereka retak selamanya? Bagaimana jika Winry membencinya? Dia akan kehilangan sahabat baik, mekanik, pegangan hidup. Sekarang Edward telah melakukan kesalahan tanpa tahu cara memperbaiki terlepas keyakinan Ling padanya. Edward merasa seperti sampah sementara kata ‘maaf’ terdengar begitu klise sekarang.

 

“Kau bisa minum, tapi tidak untuk makanan.” ujar Hawkeye.

 

“Huh?” Edward ingin menyangkal keberadaan barang selundupan dari Ling, namun itu tidak ada gunanya bagi Hawkeye. “Aturan tidak memperbolehkannya.”

 

“Aku izinkan.” balas guru tersebut, “Kau tidak terlihat baik, mungkin itu bisa membantumu.”

 

Sulung Elric mengeluarkan coca cola dari saku, memperhatikan minuman itu berbunyi mendesis di atas meja, pikiran terbang keluar jendela. Dia menyadari berapa lama ia  melamun ketika Ms. Hawkeye lagi-lagi memecah keheningan.

 

“Semuanya baik-baik saja?”

 

Edward berkedip, tidak yakin harus menjawab apa. “Ya, kurasa.” Dia menenggak coca cola dengan acuh.

 

Ms. Hawkeye membalik halaman buku yang dibaca tanpa repot mendongak ketika wanita tersebut menembak Edward tepat di atas memar yang masih segar, “Sesuatu terjadi dengan Winry?”

 

Pemuda tersebut hampir saja meringis, menimbang apakah dia sebaiknya mengelak seperti biasa; katakan tidak ada apa-apa, tidak penting, bukan urusan orang lain karena ini adalah kotoran hasil perbuatannya sendiri. Di sisi lain Edward sudah cukup gila dengan hal-hal yang terjadi, terutama tentang Winry; dulu dia dengan mudah melewati berbulan-bulan tanpa berhubungan dengan mekanik pirang tersebut, namun kini hampir tiga hari tanpa bertegur sapa membuat Edward sesak di dada. Otak kanannya menyarankan mencari bantuan orang dewasa yang lebih bijak dan tidak akan kusut di antara mereka.

 

Edward mencoba menyusut ke dalam kursi, “Kami bertengkar minggu lalu.”

 

“Benarkah?” Mata Ms. Hawkeye tetap tidak menatap, namun Edward merasa dilihat lekat-lekat. “Baru saja ya. Apa yang terjadi?”

 

“Aku…” desah letih keluar dari bibir Elric yang lebih tua. “Aku brengsek.”

 

Ms. Hawkeye menegur, “Bahasa, Edward Elric.”

 

“Uh, maaf. Tapi aku memang brengsek.” Pada waktu lain Edward tidak senang merasa kecil, tapi saat ini dia ingin menyusut sekecil mungkin tatkala perasaan bersalah tumbuh kian besar.

 

“Kau ingin memperbaikinya?”

 

Edward mengangguk, “Iya.” Tangannya meraba ponsel yang sejak entah berapa lama terletak di dasar saku celana, “Aku sangat ingin memperbaikinya. Ini tidak tertahankan.”

 

Wanita asisten (atau mungkin ajudan?) Mr. Mustang tersebut menutup buku dan menatap lurus pada Elric yang lebih tua dengan kerlingan tak terdefinisi, “Kamu tampak sangat mencintainya.”

 

Dia tengah mengambil tegukan lain manakala kata-kata Ms. Hawkeye menabrak laksana truk tronton. Spontan saja Edward tersedak, mungkin juga menyemburkan soda kemana-mana, dan semua orang menatap. Namun dia tidak bisa peduli dan menganga secara terbuka kepada wanita di depannya.

 

“Kau tahu Winry itu teman masa kecilku, jadi eh, uh, tentu saja aku mencintainya! Cinta yang platonis! Karena dia sudah jelas seperti saudara perempuan dan telah menempel padaku sejak lama sekali. Jadi ya cinta seperti itu, bukan romantis atau apalah!” Dia tidak bisa berhenti mengoceh sementara wajahnya memerah. Dengan bodoh menyemburkan segala macam alasan apa saja untuk menegaskan perasaannya pada Winry hanyalah platonis; cinta pertemanan, tidak lebih. Secara bersamaan sembari menyadari bahwa jantungnya bertalu-talu seperti akan meledak.

 

Rahang Ms. Hawkeye menegang dan sudut bibirnya berkedut seakan nyaris melengkung, namun wanita tersebut dengan rendah hati tidak tertawa di depan wajah panik Edward. “Kamu pasti bisa memperbaikinya.”

 

Edward mengempis begitu degupan gila jantungnya mereda, “Aku tidak tahu caranya.”

 

“Minta maaf dengan tulus.” kata Ms. Hawkeye dengan tatapan lurus, “Dan jangan kehilangan kesabaran, Edward. Memaafkan juga butuh waktu.”

 

Elric yang lebih tua hendak melayangkan protes ketika Ms. Hawkeye mengumumkan waktu bubar. Segera para murid lain mengemasi barang-barang mereka dan angkat kaki dari perpustakaan, sedangkan Edward merasa terlempar di kursinya sendiri. Ms. Hawkeye menepuk lembut bahu Edward dan memberikan penghiburan. "Winry pasti akan memaafkanmu."

 

Pemuda tersebut tidak mengatakan apa-apa, setidaknya sedikit lega dengan perkataan Ms. Hawkeye. Akan tetapi pikirannya stagnan di satu titik.

 

Kamu tampak sangat mencintainya .

 

Tidak mungkin, kan? Winry adalah teman masa kecil, hampir seperti saudari, apapun hubungan di antara mereka adalah platonis.

 

Seharusnya begitu.

 


 

Pada akhir hari, Edward akhirnya bisa menyeret dirinya pulang, berbaring memandangi langit-langit kamar tanpa pikiran yang benar-benar koheren selama hampir satu jam. Otak laki-laki itu bagai berlari sangat cepat, menampilkan memori dan kepanikan internal silih berganti dalam visi Edward. Kata-kata Ms. Hawkeye berbegar layaknya hurikan. 

 

Kamu sangat mencintainya .

 

Elric yang lebih tua merasa pernyataan itu tidak masuk akal. Tidak dengan pikiran tak jernih yang ia miliki dan kegelisahan yang telah merongrong hati. Tapi jika memang benar dia mencintai Winry, maka itu adalah penjelasan yang tepat mengapa rasanya begitu tak tertahankan tak berhubungan dengan gadis pirang itu. Edward mengalami perang batin antara penyangkalan dan penerimaan enggan.

 

Apakah aku mencintai dia?

 

Tidak. Itu tidak mungkin. Winry Rockbell adalah sahabat, teman masa kecil, seseorang yang selalu ada di sudut pandang dalam jarak sejauh jangkauan lengan. Apakah perkenalan bertahun-tahun membuat kasih sayang saudara berubah menjadi cinta romansa? Logika tidak bekerja seperti itu, Ed telah merenungkan. Dia mencoba menyusun nalar yang ilmiah; seperti yang dilakukan ilmuwan. Membedah-bedah perasaan dan kenangan—antara senyum dan tangis Winry, sambutan pulang yang hangat, pai apel yang mengepulkan asap, helai pirang jagung dan mata sebiru lautan—hingga sampai di ujung jalan kesimpulan: Edward memang jatuh cinta pada Winry.

 

Sudah sejak kapan? Batin Edward, karena dia tidak tahu kapan hal tersebut dimulai.

 

Ketika kesadaran datang, rasanya seperti ditabrak truk.

 

Dan oh gadis itu membencinya.

 

Fakta yang ditambahkan membuat hati Edward terlempar. Dia meratapi kebodohannya yang terlanjur terjadi, benar-benar kehabisan akal bagaimana meminta maaf pada Winry. Bahkan jika dia tidak jatuh cinta dengan gadis itu, hubungan mereka terlalu berharga untuk dirusak gara-gara perilaku busuk Edward.

 

Sementara dia sibuk menyesal sehingga tidak memperhatikan pintu terbuka, Alphonse masuk ke dalam garis pandang sang kakak. Mulutnya bergerak-gerak namun Edward tak kuasa menangkap kata yang diucap. "...Apa?" 

 

"Aku bilang, kamu tidak ada saat makan malam. Pak koki sampai mencarimu." Alphonse menjatuhkan bingkisan tas kertas di atas dada kakaknya. "Kenapa kamu murung sekali?"

 

Edward meremas kantong kertas sambil menduga isinya adalah sandwich dan pretzels . Dia duduk bersandar pada dinding tanpa melihat ke arah sang adik. "Meratapi ketololanku."

 

Alphonse duduk di samping saudaranya itu. "Ada hubungannya dengan Winry, kan? Apa yang  sebenarnya terjadi?"

 

"Ini." Edward mengoper ponselnya dengan cemberut, "lebih baik kamu baca sendiri Al. Aku tidak punya tenaga menjelaskan."

 

Kening si bungsu Elric berkerut, ragu-ragu menatap sang kakak. Akan tetapi Edward hanya memberi isyarat bahwa dia tidak peduli Alphonse melihat privasinya, jadi pria muda tersebut melanjutkan. Dia tetap menjaga ekspresi netral kala membaca riwayat chat terakhir dengan Winry.

 

"Ternyata begitu." Edward mampu merasakan sejuta emosi dalam suara sang adik, "kamu bodoh, Kak."

 

Edward tersenyum kecut, "Tanpa ampun mengatai kakakmu bodoh, Al?"

 

"Kamu jahat dan bodoh. Itu adalah kenyataannya." Kali ini alis Alphonse sedikit menukik ke bawah.

 

"Huh. Tidakkah kamu punya sedikit cinta persaudaraan untukku?" dengus Edward, sebelum mengempis seperti balon helium yang dicelup ke nitrogen. "Aku ingin memperbaikinya, minta maaf kepada Winry, sesuatu seperti itu."

 

Mata Elric yang lebih muda melebar, "Lalu kenapa belum kamu lakukan?"

 

"Dia memblokirku dari semua jenis perantara digital. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah dengan cara kuno seperti mengirim surat, yang akan sangat konyol." 

 

Alphonse kemudian mengeluarkan gawai miliknya dan menyerahkan kepada sang kakak. "Gunakan punyaku. Dia lebih ramah kepadaku, jadi Winry pasti akan mengangkat jika aku yang menelpon."

 

"Serius? Winry tidak akan suka ini Al."

 

"Lalu apakah ada cara lain? Kamu lebih suka pulang dan meminta maaf langsung padanya, Kak?"

 

Edward meringis, "Nah itu masalah. Aku tidak yakin bagaimana harus meminta maaf."

 

"Maksudmu?"

 

"Kau tahu, aku sangat brengsek dan kata maaf sepertinya sangat… remeh . Masa aku bilang 'halo Win tolong maafkan aku, aku tahu aku bajingan dan tolong buka blokirku?'"

 

"Tidak buruk, sih. Itu setidaknya awal yang bagus."

 

Sulung Elric mengambil gawai Alphonse, "Bagiku tidak. Itu terdengar bodoh. Aku akan keluar dan memikirkannya lalu menelpon"

 

"Oke, Kak. Semoga beruntung!" 

 

Edward berjalan di bawah lampu taman, memilah-milah kata apa yang harus dia ucapkan kepada Winry. Dia hanya takut begitu Winry mendengar suaranya, gadis itu secara otomatis akan menutup telepon dan menyisakan pilihan paling sakit bagi Edward dalam upaya rekonsiliasi. Setidaknya menelpon dengan nomor Alphonse patut dicoba. 

 

Netra aurum memandang foto profil mekanik automail belia, hampir merasa rindu terselip di antara sesak di dada. Lelaki itu mengambil napas dalam-dalam dan mengklik tombol dial , sembari panik secara internal dalam harap-harap cemas. Tatkala panggilan tersambung pada dering ketiga, Edward merasa jantungnya melompat ke tenggorokan.

 

" Hai, Al. Ada apa? "

 

Perut Edward terasa mulas dan lidah kelu, tidak yakin apa yang harus dikatakan. Semua nalar yang telah ia susun tampaknya buyar sudah, hanya menyisakan hati yang ketar-ketir.

 

" Al? Kamu disana? "

 

Edward menelan ludah dengan susah payah, "H-hai, Winry." Sebelum ingat buru-buru menambahkan, "Tolong jangan ditutup!"

 

Keheningan panjang menyambut, menambah bumbu-bumbu kecemasan yang mengancam membuat asam lambung Edward gonjang-ganjing. Saat dia yakin Winry akan memutus sambungan telepon, suara gadis itu melayang masuk dengan desahan pendek. "Apa yang kamu inginkan?"

 

"Jadi," Edward mengambil napas dalam-dalam secepatnya yang dia bisa sebelum menyemburkan kata-kata secepat laju kereta, "Aku tahu kedengarannya sangat klise, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku mendapat masalah karena meninju orang-orang sialan yang menghinaku, diceramahi banyak orang dewasa termasuk Hohenheim, dan aku malah melampiaskannya padamu—"

 

Dari seberang sana terdengar kesiap, namun lelaki itu tetap berlari dengan kata-kata.

 

"—padahal kau sama sekali tidak salah tentang apapun, termasuk posting foto itu. Aku terbawa emosi dan menjadi brengsek, jahat padamu, dan aku sangat-sangat menyesal Winry. Aku benar-benar minta maaf."

 

Dia menahan napas dan menunggu dengan antisipasi bak bom waktu. Menunggu. Menunggu. Menunggu tanggapan atau indikasi apapun.

 

"Winry…?" bisik Edward dengan takut. 

 

" Hm ," akhirnya ada suara.

 

"Jadi, uh…?"

 

Sesuatu berderak dari ujung sana, seakan-akan batang kayu telah patah dan Edward tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah jika mereka berhadapan Winry akan menghajarnya. 

 

" Jadi apa, Ed? " bentak si gadis pirang. " Kamu bodoh dan bersikap brengsek begitu! "

 

Edward hampir mendengar sesuatu serupa ' aku membencimu ' akan tetapi kata-kata tersebut tidak keluar dari mulut Winry. Dia bersyukur untuk itu. "Aku tahu. Aku benar-benar minta maaf."

 

" Kamu melewati batas, Ed! " Suara Winry pecah membuat Edward terhenyak, karena jika mekanik automail belia itu menangis maka lelaki tersebut kemungkinan besar akan mulai membenturkan kepalanya ke tiang lampu terdekat.

 

Oh tidak jangan menangis, Winry.

 

"Aku tahu. Aku minta maaf."

 

Untuk beberapa saat, hanya suara tarikan napas Winry yang berulang-ulang, seolah dia berusaha menghalau gejala tangis. “ Setidaknya kamu tahu itu .” Winry mendengus pahit, “ aku menghargainya, Ed .”

 

“Um, terimakasih, kurasa?” Edward berdehem karena tenggorokannya tegang, “Jadi kamu tidak membenciku, kan?”

 

Konyol sekali .” sinis Winry, namun nada bicaranya telah melunak.

 

Edward secara internal menghembuskan napas lega banyak-banyak. “Apakah kamu akan membuka blokirku?”

 

Hmmm, entah, mungkin saja? Hari-hari damai tanpa dibombardir seribu pesan darimu lumayan menyenangkan .”

 

“Serius, Win?” Sudut bibir Edward berkedut nyaris melengkung, “akui saja tidakkah aku menghiburmu?”

 

Jaga mulutmu, Ed. Kamu berada di ujung tanduk sekarang. ” Sekilas dia bisa mendengar dering tawa Winry.

 

Okay, m’lady. It’s fair enough .” Bibir pemuda itu mengembang sepenuhnya sekarang dan hatinya tidak lagi terasa seperti diremas-remas. “Kamu sedang apa?”

 

Aku? Di jalan habis membeli telur .”

 

Edward menggigit pipi bagian dalam, “Ups. Maaf menelpon di waktu yang tidak tepat.”

 

Kamu selalu melakukan sesuatu di waktu yang buruk, anyway.” Winry mendengus, “ Aku mengangkat telepon karena itu nomor Al, duh. Katakan padanya aku tidak suka skema ini.

 

“Al sudah tahu, mungkin. Tapi akan kukatakan padanya.”

 

Ia dapat mendengar suara kerikil yang bertabrakan dengan sandal Winry, “ Aku harus pergi. Oh, apakah kamu sudah makan?

 

“Belum. Aku melewatkan makan malam, tapi Al menyimpan sandwich untukku.” jawab Edward. “Hei, Winry, aku ingin kamu tahu aku benar-benar menyesal dan minta maaf.”

 

Winry seakan tersenyum saat dia berkata, “ Bagus kalau begitu. Jadikan pelajaran untukmu, Ed. Mungkin aku akan ngobrol denganmu lagi .”

 

Yeah, yeah, good. See you later.

 

“Bye, Penggila Alkimia .”

 

Edward terkekeh saat dia memutus sambungan telepon, bersandar lemas ke benda terdekat tatkala membiarkan kelegaan membasuh seluruh indranya yang telah dikepung kegelisahan dan agitasi selama tiga hari terakhir. Dia mungkin berada di ujung tanduk dan perlu berjingkat-jingkat saat berkomunikasi dengan Winry—jangan sampai mengulangi kesalahan—tapi setidaknya mereka sudah berbaikan, poin besar bagi Edward. Ia melangkah masuk kembali ke asrama karena perutnya mulai keroncongan ketika vibrasi yang akrab dari gawai menarik atensi.

 

Winry (19:00)

Aku tidak membencimu, kok

 

Edward (19:00)

Yeah cool

I'm glad you didn't

 

Bibirnya penuh senyum timpang yang hangat dan nalar berenang dalam kegembiraan tak terlukiskan sampai-sampai Edward hampir saja menabrak pintu kamar sendiri.

 

( Cinta membuatmu kehilangan akal sehat , mereka bilang.)

 


 

Winry (12:28)

Di sini seperti hari valentine

 

Edward (12:28)

Maksudnya ‘disini’?

 

Winry (12:28)

Sekolahku, idiot

Siswi kelas 1 dari jurusan rumah tangga memberi gebetan mereka ganci

[ Winry mengirimkan foto 📸]

 

Edward (12:28)

Ada apa tiba2?

Cheesy sekali ugh

 

Winry (12:28)

Mungkin Mrs Ami yang menyuruh

Guru itu sangat terobsesi dengan romansa

 

Edward (12:28)

Dia mendorong murid2nya berkencan?

Tidakkah dia takut mereka melakukan seks dibawah umur?

 

Winry (12:29)

Omg otakmu Ed

Mrs Ami mendorong cinta masa muda, bukan kampanye seks tidak sehat

 

Edward (12:29)

Uh

Apakah aku membuatmu tersinggung?

 

Winry (12:29)

Astaga Ed, what is that mean

Aku tidak marah lagi padamu

 

Edward (12:29)

Aku berada di ujung tanduk, ingat?

Kau sendiri yang bilang

 

Winry (12:29)

Kau sangat menyebalkan 😤

 

Edward (12:29)

Setidaknya aku tampan dan brilian

Kau tahu itu 😎

 

Winry (12:29)

Jangan terlalu sombong 😝 

 

Paninya—yang selama semenit belakangan melihat atensi Winry amat terpaku pada ponsel—melemparkan kentang goreng ke wajah temannya. Senyum konyol Winry seketika sirna ketika kejut menggantikan aura bahagia yang berpendar. Gadis pirang memelototi Paninya, “Kenapa, sih, Pan?!”

 

“Lihat? Kau sudah tersenyum konyol selama satu menit dan praktis mengabaikan dunia di sekelilingmu.” Paninya memutar mata. “Edward lagi? Kalian sudah berbaikan, kan.”

 

Sejenak emosi panik melintas dalam tatap sorot Winry namun segera menghilang. “Iya, ini Ed. Kami sudah berbaikan.”

 

“Kau tahu,” Paninya mengunyah kentang gorengnya lagi, “aku pikir kamu patah hati saat kamu bertengkar dengan dia. Kamu murung, layu, dan tidak mood sampai-sampai aku yakin setengah murid laki-laki memiliki urgensi untuk menghiburmu.”

 

Winry melahap kembali salad miliknya, “Omong kosong, Pan.” Sambil memutar mata.

 

“Aku serius!” seru Paninya, dia menggeleparkan tangan ke segala arah. “Aku sampai harus menghentikan Russell dan Pitt mengantarmu pulang dengan mobil mereka. Aku bilang kamu sedang ada masalah dan sedang tidak ingin diganggu! Sungguh, pria kadang bisa sangat tidak peka ketika wanita hanya ingin ditinggalkan sendiri.”

 

Sounds fake to me .” kekeh Winry, “Trims, Pan.”

 

No prob . Yang lebih penting, kenapa dengan ekspresimu itu?” Winry hanya berkedip-kedip sehingga Paninya menghela napas letih, “ Tadi kamu tersenyum konyol sambil melihat layar HP.”

 

“Bukan apa-apa.” sanggah Winry, tapi tentu saja sahabatnya tidak akan percaya.

 

“Tidak mungkin! Aku ini sahabatmu, Winry, aku memperhatikan setiap ekspresi mikro milikmu!”

 

“Kamu terdengar creepy , Pan.” Mekanik automail itu memutar mata, “hanya merasa ada yang berbeda dengan Ed.”

 

Alis Paninya melengkung dengan pertanyaan, “Katamu kalian berbaikan. Jadi apa masalahnya?”

 

Winry mengedikkan bahu, “Semuanya baik-baik saja. Kami berbicara seperti biasa, seperti saat sebelum bertengkar. Hanya… ada yang berbeda. Aku tidak bisa menjelaskan.”

 

“Mungkin dia hanya mencoba tidak membuatmu marah lagi.” Tiba-tiba Paninya tersenyum licik, “Atau… dia menggodamu, Win?”

 

Mata Winry terbelalak, “Astaga, itu mustahil! Apa-apaan kamu, Pan!”

 

Paninya menyandarkan dagu di tangan, “Siapa tahu? Dan kenapa kamu memerah begitu? Aww, kamu salah tingkah!”

 

“Aku tidak!” Winry berbohong sebab ia mendengar dengan jelas jantungnya sendiri yang bertalu-talu.

 

Pada saat bel pulang berbunyi, Paninya minta maaf kepada Winry karena tidak bisa menemani gadis itu berbelanja bulanan. Winry yang tidak pernah minta bantuan temannya tersebut tentu saja tidak keberatan, dan dengan demikian melihat Paninya berlari ke ruang klubnya. Dia berjalan ke pasar seorang diri—pasar di Resembool tetap buka sampai jam lima sore—dan bertemu Pitt di swalayan 24 jam. Melihat tangan Winry yang penuh dengan belanjaan, Pitt menawarkan diri membantu gadis tersebut sampai ke rumah. Winry awalnya menolak, namun Pitt bersikukuh memberi uluran tangan, jadi mau tidak mau dia menerima.

 

Kedua insan tersebut berjalan sepanjang jalan setapak berdinding batu yang memisahkan padang rumput berisi domba-domba yang belum dibawa pulang penggembala. Sesampainya di rumah kuning Rockbell, Winry bersyukur telah menerima tawaran Pitt karena membawa begitu banyak belanjaan akan merepotkan jika hanya seorang diri. “Terimakasih banyak, Pitt!” 

 

Pitt tersenyum, “Tidak masalah, Winry.”

 

Mendadak netra Winry menangkap sosok lain berjalan di jalan setapak; pria berbaju mirip militer dan rambut emas yang membara di sapu cahaya oranye mentari, membawa koper kotak dari tahun 1900-an di tangan. Sontak saja Winry melompat dari teras rumah dan berlari menemui orang itu dengan kegembiraan meluap-luap.

 

“Ed!” Winry menabrak Edward dengan pelukan impulsif.

 

“Winry!” Untung Edward sempat menjatuhkan kopernya ke tanah dan memeluk Winry balik. Mereka terhuyung mundur sebelum Edward berhasil menstabilkan diri setelah dihantam beban seorang gadis. “Astaga, kita bisa jatuh!”

 

Akan tetapi Winry tidak peduli dengan omelan Edward. Ia menarik diri dari pelukan dan menyapu jalan di belakang punggung sulung Elric, “Kamu pulang? Hukumanmu sudah selesai memangnya? Al mana?”

 

Edward berdehem panik sebelum menjawab, “Al tidak ikut. Aku pulang untuk akhir pekan karena hukumanku sudah selesai.”

 

Alis Winry melengkung heran, “Kenapa dia tidak ikut? Tumben sekali Al tidak ikut.”

 

“Dia mau nongkrong dengan May tanpa kuganggu atau apalah, aku tidak tahu detailnya.” Edward menelan ludah sambil melontarkan alasan yang valid.

 

“Hmmm, aneh sekali.” Winry menyipitkan mata dengan skeptis, “Jika Al tidak ingin diganggu, dia tinggal melemparmu ke bak sampah.”

 

“Demi Tuhan, Winry! Kau tidak senang melihatku?!” Nada suara Edward naik satu oktaf.

 

Winry melambaikan tangan, “Jangan jadi ratu drama, Ed.” Dia berbalik sambil tersenyum, “Tentu saja aku senang melihatmu. Ayo ke rumah!”

 

Begitu menginjakkan kaki di teras rumah, tatapan sulung Elric dan Pitt berserobok, akan tetapi Pitt segera memalingkan wajahnya pada Winry sembari tersenyum manis, "Karena kamu punya tamu, aku pulang dulu, Winry."

 

Jika tidak ada tamu, kamu ingin bertahan lebih lama? Pikir Edward, alisnya menukik tajam.

 

Ekor kuda sewarna jagung milik Winry bergoyang ketika ia menoleh, "Oh oke, Pitt. Sekali lagi, terimakasih ya."

 

" Bye , Winry. Sampai jumpa di sekolah." Pitt melambai sebelum sepenuhnya membalikkan badan.

 

Winry kembali memberikan perhatian penuh pada Edward sembari menyeret kantong-kantong belanjaan. Dia berteriak kepada neneknya tentang kedatangan Elric yang lebih tua, sementara ekor mata lelaki itu menyipit pada bayangan Pitt yang kian menjauh. Entah mengapa ada dongkol tumbuh di hati.

 

Makan malam segera disajikan begitu Winry selesai memasak rebusan, betapa bersemangat dengan kepulangan Edward. Meja makan menjadi ramai saat Edward bercerita alasan dia ingin pulang ("Terkurung di sekolah itu menyebalkan.". "Makanya jangan membuat onar, Udang!". "Siapa yang kau panggil udang, Nenek Tua?!") dan dibalas Winry kisahnya sendiri di sekolah. Tidak ada yang bertanya alasan kenapa Edward berkelahi, hanya Winry yang tahu—itupun gara-gara Edward bersumpah serapah padanya.

 

Malam dengan cepat menjadi larut ketika Edward tidak repot-repot ingin mengecek handphone . Dia sibuk berbincang, berteriak, dan bermain dengan Winry. Mereka berinteraksi sebagaimana sedia kala, hanya saja kali ini baik Edward maupun Winry sering terhenyak dengan kupu-kupu yang meledak tiap sentuhan bertemu.

 

( Cinta menghilangkan akal sehat , mereka bilang.)

 

"Kamu memakai topeng elastis itu lagi." Elric yang lebih tua masuk ke kamar mandi guna sikat gigi tatkala Winry tengah memasang sheet mask.  

 

"Malam ini terasa kering jadi aku ingin melembabkan wajah." kata Winry, dengan hati-hati memposisikan benda tersebut di wajahnya. "Kenapa kamu tidak coba juga?"

 

Edward lantas mengernyit dengan antipati, "Perawatan kulit dibuat untuk perempuan. Kenapa aku harus memakai itu?"

 

Winry memutar mata lalu mengejek, "Agar wajahmu yang tampan terawat?"

 

"Ketampananku tidak butuh perawatan ekstra." Edward berkilah sambil mengerutkan hidung, "...uh tapi kurasa tidak ada salahnya mencoba." Saat Winry berjingkat gembira, Edward merasa hal itu sepadan. 

 

Oh, dia sangat suka mendengar Winry tertawa.

 

Mereka berpindah tempat ke ruang TV untuk memainkan kartu dan pemenangnya berhak memutuskan film apa yang ditonton. Dengan sedikit keberuntungan, setelah tiga kali putaran bermain kartu dan sedikit adu argumen, Winry menang dan membuat mereka berdua duduk menonton Spiderman: No Way Home. Edward heran dia menonton film ini karena aktornya tampan atau ceritanya memang bagus, karena bagi orang realistis sepertinya, film sci-fi itu tidak masuk akal. 

 

Manakala film diputar, manik amber Edward melirik Winry dan bahu mereka yang saling menempel. Mekanik automail muda tersebut mengenakan gaun piyama selutut, warna sage green bermotif bunga-bunga kecil—yang menurut Edward imut, apalagi dengan kerah renda. Bola mata biru Winry berkilau akibat pantulan cahaya TV seolah hujan bintang sedang terjadi di sana.

 

Tunggu, apa aku pikir Winry IMUT??? 

 

Edward memalingkan wajah, menolak mengakui debaran gila di rongga dada dan sepuhan merah muda di pipinya. Apabila menilik logika dan sejarah, Winry tidak pernah menjadi imut, tidak peduli menjadi imut atau seksi, tak begitu feminim, kasar, tukang omel, bernoda minyak dan oli setiap hari; ditambah seumur hidup mereka bersama, Edward tiada sekalipun berpikir Winry imut. Begitu absurd otak Edward tiba-tiba menyandingkan kata Winry dengan keimutan. Dia tidak akan mengakui fakta ini dengan keras.

 

( Cinta membuatmu kehilangan akal sehat , kata mereka.)

 

( Sheetmask memberikan sensasi dingin pada wajah, namun Edward hanya bisa merasakan panasnya malu merembes.)

 

"Ed?" panggil orang di sebelah. "Aku tahu filmnya jelek menurut pantatmu, tapi kamu bersedia menemaniku menonton!"

 

Elric yang lebih tua melipat tangan di depan dada sambil berpura-pura menguap (yang sangat tidak meyakinkan), "Filmnya agak membosankan, itu saja."

 

"Pantat alkemismu memang tidak bisa diharapkan." dengus Winry. "Kita bisa mengobrol, tahu."

 

"Kebanyakan film tidak masuk akal bagi ilmuwan, Win. Apalagi yang sejenis ini." Edward berdebat namun ia mengganti topik, "Ngomong-ngomong siapa yang mengantarmu pulang tadi sore?"

 

"Oh, Pitt?" jawab Winry. "Kamu lupa Pitt, Ed?"

 

Alis Edward melengkung ke atas, "Aku seharusnya kenal si Pitt ini? Tunggu." Ia teringat anak laki-laki di sekolah dasar yang menakut-nakuti Winry dengan cerita hantu sehingga gadis itu menyelinap tidur di kamarnya dan anak laki-laki yang sama, sangat kurang ajar, mencoba mencium Winry saat kelas empat.

 

(Anak laki-laki tolol yang ditinju Edward tanpa Winry tahu alasannya sampai sekarang. Memalukan, Edward menjadi marah dan tidak rasional gara-gara hal itu. Apabila direnungkan sekarang, orang akan bilang Edward kecil cemburu .

 

Bisa jadi, tapi dia lebih merasa marah karena Pitt kurang ajar. Winry tidak mau dicium anak laki-laki manapun. Mengapa orang lain sangat tolol?)

 

Begitu mengingat siapa Pitt ini, perut sulung Elric tersebut berputar. Dia tidak merasa senang dan nalarnya mulai bekerja 1 mil per menit. "Hmmm, dia terlihat, you know , suka padamu."

 

Namun respon Winry-lah yang mengejutkan Edward. Gadis tersebut mengangkat bahu dengan santai, "Yah aku tahu. Memangnya kenapa, Ed?"

 

Edward melihat ke segala arah selain sosok teman masa kecilnya, "Kamu tidak, uh, terkejut? Atau jangan-jangan kamu sudah…." Dia tidak sanggup mengatakan 'pacaran dengannya'. 

 

"Sudah apa?" Alis Winry menukik, bibirnya cemberut. "Aku sangat sadar dia naksir padaku. Paninya juga tahu. Tapi aku tidak tertarik padanya."

 

"Kamu menolaknya?!" Pria muda tersebut memalingkan wajah dengan sangat cepat sampai Winry khawatir lehernya akan patah. Sedetik kemudian Edward menyadari dia keceplosan dan sungguh sangat ingin bumi terbuka untuk menelannya.

 

Gelak tawa justru pecah dari gadis pirang. "Ya ampun, kenapa kamu kaget begitu?! Hahahaha! Dia—Pitt belum nembak, tapi dia tidak mencoba menyembunyikan naksirnya. Semua orang tahu." 

 

Edward secara internal mengelus dada dan menghela napas amat lega. Sangat sulit mengatasi gelitik perasaan di hati sambil mencerna berbagai kerapuhan akibat jatuh cinta—atau dalam kasus Edward, baru menyadari cinta .

 

Winry gadis yang POPULER , tentu saja banyak yang suka padanya. Edward membatin sembari memberi asuransi pada diri. 

 

Tapi dia tidak punya pacar, belum.

 

"Yah, beberapa orang tidak tahu malu menunjukkan kesukaan mereka." Edward menggaruk kepalanya dengan canggung.

 

"Seperti Noah padamu?" celetuk Winry, membuat Edward tersedak. Dia menolak melihat wajah Winry manakala gadis tersebut tersebut menertawakan kecanggungan Edward.

 

Setelah film selesai, mereka berdua melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah dua pagi dan berpisah untuk tidur. Segera setelah pintu kamar tertutup, Edward tak lagi mendengar apapun dari kamar Winry di sebelah. Hening. Ia melirik ranjang kosong milik Alphonse di seberang dinding dan (akhirnya) mengecek notifikasi di handphone.

 

Alphonse (19:27)

Ya ampun Ling mengeluh kau tidak membalas satupun pesannya

LAGI

Kau selalu seperti ini jika pulang ke rumah

Bersenang-senang dengan Winry, bukan? 👀

Happy holiday for you, brother ლ(◕ω◕ლ)✨

 

Edward (01:35)

Katakan pada Ling aku sedang sibuk berkencan

Supaya dia diam SEKALI SAJA

 

Ling (07:55)

EDWARD

ELRIC

Videokan saat kamu nembak Winry

Lakukan seks dengan aman! :)

 

Edward (15:21)

Kamu sampah Ling

Semoga semua gula yang kamu masukkan ke dalam kopimu berubah jadi garam selamanya

I'd slap you but that will be animal abuse

 

Ling (15:30)

R U D E 

 


 

Salahkan seorang Edward Elric yang mampu merusak automail di menit-menit terakhir. Pemuda tersebut tersenyum bersalah dengan kaki penuh lumpur, automail macet, sementara Winry hanya bisa menghela napas pasrah; tiada mampu marah atau melemparkan kunci pas. Ia meminta Edward mandi lalu menemuinya di bengkel untuk memeriksa automail bermasalah itu. Edward tentu saja senang karena tidak ditimpuk kunci pas terbang, sangat berterimakasih atas kemurahan hati Winry hari ini.

 

Winry mengernyit, “Suatu hari nanti aku akan mempublikasikan jurnal berisi penelitian bertahun-tahun mengapa Edward Elric selalu pandai merusak automail -nya.” Indra gadis tersebut dikepung bau harum sabun dan kehangatan yang memancar dari tubuh Edward.

 

“Hehehe, salahku, salahku.” kekeh Edward tanpa rasa bersalah. “Tapi kau tidak bisa mempublikasikan jurnal penelitian yang berasal dari ingatan.” Pemuda tersebut mengetuk kepalanya. 

 

“Apa yang kamu tahu? Aku punya catatan terperinci setiap kali automail -mu rusak.” Winry menjulurkan lidah.

 

Mata Edward terbelalak, “Kau serius? Yang benar saja, Win. Aku tidak percaya padamu.”

 

Winry memberi lelaki tersebut tatapan tersinggung, sebelum menarik salah satu laci di meja kerja dan mengeluarkan buku bersampul kulit sintetis. Edward sudah barang tentu menganga sebab ia tak menyangka Winry sungguhan membuat jurnal, berisi catatan terstruktur kerusakan kaki prostetik Edward mulai waktu, penyebab, solusi hingga saran pembaruan. Edward tahu Winry berdedikasi terhadap pekerjaannya, tapi dia tidak pernah berpikir sampai seperti ini juga.

 

“Kamu benar-benar Kepala Roda Gigi, ya.” cibir Edward.

 

“Aku sangat berdedikasi terhadap pekerjaanku, kau tahu.” Gadis tersebut menyambungkan kembali koneksi saraf automail tanpa aba-aba sehingga Edward menjerit terkejut. “Kakimu adalah produk pertamaku dan aku telah memutuskan itu akan menjadi produk terbaikku jadi aku melakukan pembaruan rutin. Belum lagi kamu sangat suka merusaknya!”

 

Edward meringis sambil memegangi tungkainya, “Ow, ow, kamu wanita kejam.”

 

Mekanik pirang mengacungkan kunci pas, “Kamu yang kejam! Merusak masterpiece -ku berkali-kali!” Ia kemudian meninggalkan Edward yang sibuk menggerutu.

 

Tak lama selepas itu, Edward bersiap-siap kembali ke Central. Winry berjalan bersamanya sampai ke stasiun, bertekad melihat sosok Edward sampai dia berangkat. Mereka berbincang bersenda gurau sepanjang jalan seperti anak kecil, sesekali melambai kepada orang-orang yang menyapa Edward, dan berlari-lari kecil usai saling menendang kaki satu sama lain.

 

“Lain kali kamu merusak automail- mu lagi, kamu tidak dapat free charge !” 

 

“Ya, ya.” Sebelum Winry bisa melontarkan ceramahnya seperti biasa, Edward sudah menyela, “Aku tahu, aku tahu ! Minyaki dengan rajin, keringkan setelah mandi, jangan melakukan hal bodoh, hormati gurumu, sayangi teman.” Bibirnya maju dengan gestur mencibir.

 

Winry memutar mata dengan malas, bertepatan ketika kereta datang.

 

Edward melangkah ke depan gadis itu ‘tuk berdiri berhadapan. Ia mengepalkan tangan dan dengan canggung berkata, “Aku minta maaf atas kejadian yang lalu.”

 

Alis Winry melengkung, “Sudah sebulan yang lalu, Ed. Aku kan sudah memaafkanmu.”

 

“Aku tahu. Aku hanya… ingin kau tahu aku menyesal.”

 

“Hei, tidak masalah, oke?” Mekanik automail muda meninju pelan lengan Edward.

 

Akan tetapi Edward tidak kunjung membalikkan badan dan bergegas naik ke kereta. Pemuda tersebut malah menggaruk kepala, kikuk, pipi bersemu. Winry dengan sabar dan heran menunggu apa yang akan diperbuat teman masa kecilnya itu. “Ada apa, Ed?”

 

“Ti-tidak ada.” Edward menggeleng, maju selangkah lalu memeluk Winry dalam pelukan paling grogi yang pernah mereka lakukan. Winry tertawa ketika dia membalas pelukan tersebut, “Ada apa, sih?”

 

“A-aku pergi dulu. Sampai jumpa kapan-kapan.”

 

“Hihihi, oke Ed. Sampai jumpa.”

 

Kemudian dengan secepat kilat Edward mencium kening Winry, menarik diri sepenuhnya, dan mengacir masuk ke dalam kereta pada detik terakhir. Pintu kereta menutup, memutus visual punggung Edward dari penglihatan Winry saat gadis itu tertegun di peron, tanpa suara bertanya-tanya.

 

Apa maksudnya itu tadi ? tanya Winry dalam hati.

 

Sementara Edward, memerah dari ujung kepala sampai ujung rambut, membentur-benturkan dahinya dengan pelan ke dinding kereta. Sialan, apa yang kulakukan tadi?!

 

( Cinta membuatmu kehilangan akal sehat, mereka bilang.)