Actions

Work Header

That Weird Boy

Work Text:

.
.

"Ayah, lihat itu! Pohonnya ada yang berwarna merah! Sekarang musim gugur, ya?" Ucapan teruja seorang remaja sekitar 16 tahun membuat ku menolehkan kepala pelan ke arah tempat duduk mereka. Diam-diam aku merutuki keberisikan anak itu di angkutan umum seperti kereta api ekspress.

 

"Wah, langitnya luas, ayah!" Dia kembali berseru riang sedangkan Sang Ayah hanya tersenyum lembut sembari mengusap surai karamelnya. Aku menggeram kecil, bingung kenapa memperhatikannya.

 

Sakit jiwa ini bocah,

 

Dia terus berujar dan berseru seolah belum pernah melihat dunia. Ah, norak sekali.

 

Aku melirik lagi. Biasa, jiwa kepo ku akan kambuh.

 

"Hehe, awan nya seperti mengejar kita, ya!" Lagi, sang ayah terkekeh ringan menanggapi Sang Anak.

 

Dia memiliki rambut caramel dan mata berwarna ungu dengan sedikit aksen kemerajan di bawahnya yang menyatu tidak rata. 

 

Ganteng, sih. Tapi sakit mental, getus ku asal di dalam hati. Aku melempar pandangan keluar sambil menopang dagu. Aku memasang headphone, mencoba untuk tertidur di kereta.

 

Malang sekali, orang di sebelahku terlalu berisik sampai mengganggu ku. Hanya ada kami bertiga di gerbong VVIP. Maka, tak heran jika tidak ada yang terganggu melainkan diriku.

 

Tak tahan, aku lalu memutuskan untuk berbicara dengan ayahnya. "Pak, anak bapak kalau kena mental dibawa ke rumah sakit saja," kata ku, berusaha merangkai kata sesopan mungkin karena aku tidak terbiasa berkata sopan.

 

Dia tersenyum ke arahku. "Saya sudah mengantarnya ke rumah sakit, kok. Kami lagi dalam perjalanan pulang,"

 

"Hmh, kenapa dia tetap seperti itu?" Tanyaku, ingin mengetahui lebih lanjut tentang anak sinting yang berisik.

 

"Anak saya buta sejak lahir, nak. Baru-baru ini akhirnya mendapat donor mata dan selesai dioperasi. Jadi, ini kali pertamanya melihat dunia," jelas bapak itu dengan suara sendu.

 

Ah.

 

Aku menggigit bibir.

 

Aku jadi merasa bersalah.

 

~~~

.

.

.

 

"Oi, tiang! Gak jadi ke dojo hari ini?" Suara menyebalkan itu bergema di telingaku. Aku hanya berdiam diri, tetap membenamkan mukaku di tangan. Entah kenapa aku malah teringat flashback setahun yang lalu.

 

Hari ini aku malas ingin menjawab si bodoh itu.

 

"Jay~ Den~ Jayden oii!!! Jayden zheyeng" Dia menggoyangkan bahuku. Aku langsung menepak kasar tangannya.

 

"Berisik, bodoh!" Umpat ku kesal. Menatapnya dengan tatapan tertajam ku.

 

Tapi, yang namanya juga sahabat. Si Bodoh ini sudah terbiasa dengan deathglare andalanku jadi hanya sedikit pengaruhnya, cih.

 

Dia yang biasanya memakai masker hitam supaya terlihat keren katanya pun menurunkan maskernya dan memanyunkan bibir. 

 

"Huu, Jayden mah, nolep!" Ejeknya menjulurkan lidah. "Ya sudahlah. Orang ansos kok diajak."

 

Bletak!

 

"Langsung ke intinya, bodoh," dia mendesis kecil seraya mengusap jidatnya yang terkena sentilan maut Jayden.

 

Jayden namaku, kalau kalian bodoh.

 

Kenapa aku banya mengatakan 'bodoh' ya hari ini?

 

Setelah beberapa detik berdrama, dia memakai maskernya kembali. "Begini. Kata Kak Julianne, ada newbie Dark Horse yang mengalahkan rekor mu dan mengalahkan Bang Jailangkung dalam duel 1 vs 1, lho!"

 

Sontak mataku melebar. Tunggu, maksudmu, Jailangkung yang itu? Jaimerson Law si abang sepupu bangsul rival ku? 

 

"Huh?"

 

"Huh, hah, huh, heh. Yap. Kau pensaran, kan? Dia kayaknya masih ada di dojo Klub Kendo, deh. Mau---"

 

Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku melompat dari jendela kelasku, Kelas 3-S yang terletak di lantai 2 untuk menuju segera ke dojo

 

"Anjirrr! Bawa santai, bambank!" Sekilas ku mendengar teriakan Rafael dari atas. "Dia anak kelas 2-A!!! Satu kelas tuh sama Nirmala sayangku!"

 

Tidak sadar diri. Jelas sekali sudah ditolak entah berapa ratus kali oleh Nirmala. Kena Friendzone pula. Tetap saja ngaku pacaran. Seberapa kuat hati Cicak Hitam itu?

 

Masa bodoh, lah. Aku begitu penasaran dengan si newbie ini. Aku ingin melawannya.

 

Bangunan dojo yang luas sudah terpampang di depan mata. Sempat ku lihat beberapa lelaki dan lautan gadis yang mengerubungi center dojo saat aku masuk.

 

"Gila, dia beneran mengalahkan Kak Jaimerson dalam 3 formasi!"

 

Huh? Yang benar saja.

 

"Hebat, sih. Parah." Bahkan Andre, si anak kelas 3 yang seharusnya di kelas 2 pun ikut ke sini.

 

Hmh, sehebat apa memangnya?

 

"Dia ganteng, yak, Nir? Ciee… tipemu, kan?"
"I-ih, Kak Lemon!"
"Kuat, pula! Mau naksir, ah!"
"Nope, peasant. He's mine!"

 

Elena, Nirmala, Kayla dan Ina. Geng Ca--Cewe yang berpengaruh di sekolah pun di sini. Dasar. Padahal aku menduga mereka tidak akan muncul.

 

Apalagi Ina Diamond yang kadang membenci cowok tipe Si Aymer.

 

Pada akhirnya, aku sampai di pertengahan. Aku berniat untuk langsung melawannya agar memastikan ranking. Aku melihat langsung Si Jaimerson berjabat tangan sambil tersenyum (jarang dia tersenyum dan ini tulus) dengan newbie---

 

Wait.

 

Mataku yang tajam melebar.

 

Dia menoleh kan pandangannya ke arahku. Sontak, manik anehnya dihiasi kilauan.

 

"Kamu yang setahun lalu di kereta api itu, kan?" Dia berlari mendekatiku. Ku lihat, dia sudah lebih tinggi walau masih pendek 5 cm daripadaku.

 

Kali ini, nadanya tidak menyebalkan. Suaranya pun sudah mulai dewasa. 

 

Tapi kilauan matanya tetap sama. Kilauan mata berbinarnya masih sama. Kilauan yang mengandung banyak semangat namun pada waktu yang sama disusul ketenangan.

 

Mata anehnya masih indah.

 

"Heh. Hai, bocah. Ayo bertanding,"

 

Aku menyeringai lantas mengeluarkan pedang kayu yang sentiasa ku bawa ke mana-mana. Dia terkedu lalu tersenyum mengerti. Kami berdua berjalan ke area perlawanan sambil disoraki oleh kerumunan.

 

"Aku terima, senior jerapah," balasnya lalu menunduk sekali.

 

Sialan. Aku tak setinggi itu hingga kau berhak memanggilku Jerapah, oke?

 

Tak ku sangka, si Norak yang baru bisa melihat itu bisa sampai ke tahap ini dalam waktu setahun. Setahun.

 

Dia mendapat kehormatan untuk bertanding denganku, Jayden Law, Sang Juara Kendo Nasional.

 

Pasti dia berlatih seperti orang gila.

 

Kami berdua membungkuk dan menyilangkan pedang kayu di depan wajah sebagai salam hormat antara lawan.

 

"Salam, Jayden Law, nama penantang. Sebuah kehormatan bagiku," 

 

"....Salam, Petra Effendy, nama penerima. Sebuah kehormatan bagiku juga,"

 

Petra...

 

Petra, kau lumayan (sangat) hebat.

.

.

.

~~~END~~~