Actions

Work Header

teman

Work Text:

Yuuya sudah terbiasa menghadapi kesalahpahaman mengenai dirinya dan Shigemitsu.

Sudah dari awal, kok. Sejak dia duduk di belakang seorang trap di kelas, hidupnya menjadi sangat... tidak biasa. Dia sudah terbiasa dengan ketidakbiasaan. Sungguh.

Terbiasa bukan berarti memahami, sih.

Dia sudah terbiasa dengan orang-orang sekelas yang mengira ia pacaran dengan Shigemitsu.

Namun, terkadang dia tidak mengerti, mengapa orang-orang tidak percaya dengan apa yang ia katakan? Dia sudah bilang kalau mereka tidak pacaran. Selalu. Setiap kali ada yang berkata, “Izumi itu pacarnya Ochi,” dia otomatis membantah, mengatakan, “Kita ngga pacaran!”

Seperti sekarang.

Shigemitsu sedang sibuk mengurus persiapan festival dengan Kodama, si anak baru. Jarang-jarang Yuuya jalan tanpa Shigemitsu ke mana-mana, selain kalau ada kegiatan klub renang.

Yuuya hari ini kebetulan juga dapat giliran piket. Tadi sewaktu dia mengantarkan absen ke ruang guru bersama si kacamata, Sensei nyeletuk, “Ah, tumben kamu ngga sama pacarmu?”

Dia cuma bisa jawab, “Sensei, sensei yang menugaskan Shigemitsu buat jadi ketua panitia festival dari kelas kita. Lagian aku kan cuma nganterin kertas absen.”

Mereka kemana-mana selalu berdua karena mereka teman, ok? Jangan berpikiran yang tidak-tidak.

Tidak lupa dia menambahkan, “Terus, Shigemitsu bukan pacarku, kok.”

Sensei hanya meliriknya dengan pandangan bosan.

Mengingat itu, dia menghela napas. Baru saja dia ingin melangkah pulang (sepertinya singgah sebentar ke kelas buat ngeliat keadaan Shigemitsu boleh juga), dia dihentikan oleh teman piketnya.

“Sejak kapan kalian memanggil satu sama lain dengan nama pertama?” tanya teman sekelasnya yang berkacamata itu. Ia selalu lupa namanya. Mungkin tanpa sadar dia menghindari orang ini karena, uh, selain karena dia sering menggosipkan hubungannya dengan Shigemitsu, dia... dia juga sering melirik Shigemitsu dengan pandangan seperti itu. Dia tidak suka.

Sebelum ia sempat menjawab sepatah kata pun, lelaki itu mendekat dan berbisik. “Maksudku, aku tahu kalian sudah sering melakukan itu, tapi, apa yang membuat jarak di antara kalian mendadak semakin dekat? Sebelumnya kan kalian masih manggil satu sama lain pakai nama belakang.”

Yuuya hanya bisa terbata. A a a a, katanya, mengeluarkan suara tidak jelas. Apa sih sebenarnya yang dipikirkan orang-orang sekelas tentang dia dan Shigemitsu? Dia sudah bilang dari awal kalau mereka hanya teman. Dia mengatakan itu pada si kacamata.

“Ah, udah sampai selama ini juga masih denial kamu tuh,” dia menghela napas, membuat Yuuya ingin menjambak rambutnya sendiri. “Ya gak apa sih kalo kamu gak mau cerita.”

Bukan begitu, katanya tanpa suara. Bukan.

Si kacamata melangkah pergi dengan menggelengkan kepala.

Yuuya tidak paham.

.

“Hmm... sebenernya aku gak terlalu ngerti sih sama apa yang kamu maksud dengan kafe monster.”

“Umm, contohnya sih... Kita bisa cosplay jadi moster Jepang atau monster barat gitu, terus...”

Sayup-sayup suara riang Shigemitsu terdengar menjawab pertanyaan Kodama. Yuuya tersenyum tanpa berpikir. Sebenarnya bagus juga sih Shigemitsu dapat kesempatan dekat sama orang baru yang tidak mengira kalau Yuuya adalah pacarnya. Dia butuh teman seperti itu.

(Bentar dulu, kalau dia butuh teman yang begitu, aku apanya dong?)

Untungnya, sebelum Yuuya sempat menganalisis pikiran itu terlalu jauh, dia terdistraksi.

“Gambar lagi dong! Coba gambar Pikachu!”

Shigemitsu terdengar sangat bahagia, dan... dan. Mereka terdengar seperti sedang bermain-main. Tapi, dalam artian ketika seorang lelaki dan wanita bermain-main. Dan Yuuya... Yuuya tidak tahu mengapa dia merasa dia butuh menginterupsi sekarang juga.

“Hei!”

Kodama melirik, “Ah. Ayahmu datang.”

“Aku bukan ayahnya,” balasnya, lebih cepat daripada... oh. Pertama kali ada yang bilang begitu alih-alih pacar atau istri. Entah kenapa yang ada di pikirannya adalah, ‘Biasanya aku dipanggil pacarnya,’ dan Yuuya berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh. “Kalian udah buang-buang waktu nih.”

“Eeeh, tapi ngedesain kostum itu susaah!” Shigemitsu merengek. “Aku tahu kok kalo aku yang punya ide, tapi tetep aja susaah!”

“...kalau gitu tanya aja ke yang jago,” dia tahu kalau dia jahat, mengatakan hal ini. “Kayak Matsunaga.”

Shigemitsu ngamuk. “YUUYA, JANGAN UCAPKAN NAMA ITUUU!”

Dia tahu kok kalau Shigemitsu tidak suka. Dia hanya sedikit sebal (sama Shigemitsu? Kenapa?) makanya dia mengajukan nama orang itu.

Ketika Matsunaga muncul dan Kodama berhasil mengabaikannya dengan menunjukkan gambar Pikachu (yang... sangat imut) dan Shigemitsu langsung bahagia melihat gambar itu, Yuuya sepertinya mengerti kenapa dia sebal.

Dia...

Cemburu.

(Sial. Sial sial sial sial.)

Yuuya kira dia sudah benar-benar menganggap Shigemitsu sebagai teman. Hanya teman.

.

Yuuya dari dulu sudah terbiasa menghadapi kesalahpahaman mengenai dirinya dan Shigemitsu.

Dia... hanya belum terbiasa memahami perasaannya terhadap Shigemitsu.

(Dia tidak bisa hanya menyayangi Shigemitsu sebagai seorang teman.)